Mengunjungi Nu Art Sculpture Park

Hari minggu lalu, saya dan keluarga datang ke Nu Art Sculpture Park di daerah Setra Duta. Sebetulnya bukan tanpa alasan kami datang ke sini di hari Minggu lalu, jadi Audi ada acara penganugerahan piala di sanggar lesnya dan tempatnya ada di Setra Duta. Semua anak dapat piala, baik yang menang lomba internasional maupun tidak. Acaranya yang dijadwalkan mulai pada pukul 11.00 akhirnya baru dimulai pukul 11.30, biasalah banyak orang tua yang datang terlambat.. hehehe.. untungnya kami sih datang sebelum acara dimulai.

Salah satu hal yang sarat makna dan wawasan disampaikan oleh ibu ketua sanggar, bahwa “kita seringkali menilai hasil karya anak dengan mata orang dewasa. Ketika warna langit itu biru dan anak mewarnainya dengan kuning, apakah itu salah?”. Kita, dan saya, memang terkadang suka seperti itu, menilainya dari kacamata orang dewasa. Padahal sangatlah tidak fair untuk membandingkan karya seorang anak yang memang hanya berbasis perasaan dan ekspresi dengan karya kita, orang dewasa, yang sudah memiliki pengetahuan lebih banyak dan logika. Ibu ketua sanggar juga mengucapkan terima kasih karena banyak orang tua mau datang untuk memotivasi dan memberikan penghargaan bagi para anak – anaknya, ini juga sangat mengena untuk saya.

Satu alasan mengapa saya mau datang ke Nu Art Sculpture Park kemarin ya karena saya ingin melihat Audi menerima piala untuk membangkitkan rasa percaya dirinya. Audi mendapatkan rezeki menerima sertifikat dyploma untuk lomba menggambar UNESCO di Paris. Selain itu, saya juga senang Audi mendapat pengalaman baru : berkumpul dengan anak – anak sebayanya yang lain, menonton pertunjukkan balet, tarian, dan anak menyanyi. Harapannya itu semua bisa membuat Audi lebih terbuka dan berani. Ia beruntung lahir di keluarga yang bisa dikatakan berkecukupan, saya aja sewaktu kecil belum pernah sama sekali menerima penghargaan.. hahaha..

Mudah – mudahan acara kemarin memotivasi Audi untuk semakin bersemangat dalam berkarya dan berlatih. Amin.

Kampung Cai, Rancaupas

rancaupas

Hari minggu lalu, saya, Mawa, dan Audi jalan-jalan ke Rancaupas. Sebetulnya saya agak malas karena harus berangkat pagi, tapi ya kalo ngga ada agenda ngapain juga ke Rancaupas? akhirnya saya putuskan untuk berangkat karena saya juga belum pernah ke sana. Kami berangkat pukul 06.30, perjalanan ditempuh sekitar 1.5 jam karena ternyata minggu pagi itu banyak sekali angkot jurusan Soreang berkeliaran sehingga menimbulkan kemacetan. Belum lagi pasar tumpah yang ada di Soreang juga agak menambah kemacetan. Arah ke Rancaupas cukup mudah ditemukan. Ambil saja arah Ciwidey, nah nanti kalo sudah ketemu tempat wisata Kawah Putih tinggal nyalakan lampu sein kanan karena letaknya 50m sebelah kanan dari Kawah Putih.

Harga tiket yang dipatok tidak terlalu mahal, yakni sekitar 10rb/orang, ditambah kendaraan 5rb/mobil. Tapi di dalem kita masih juga diminta bayar parkir 2rb ketika keluar. Seandainya lagi ngga bareng keluarga ngga mau bayar saya *evil* Area rancaupas ini sangatlah luas, kalo saya ndak salah baca ada sekitar 200 ha. Jadi jangan heran kalo banyak banget yang kemping di sini. Tapi siap-siap untuk bawa selimut tebal karena suhunya bisa sekitar 15′ kalo malem hari. Di Rancaupas juga banyak wahana seperti kolam renang, paintball, flying fox, dan satu yang menarik, yakni penangkaran rusa. Saya mengajak Mawa dan Audi ke penangkaran rusa untuk melihat rusa dan kijang lebih dekat 🙂

Rusa-rusa di sana ternyata sangat jinak dan sangat kelaparan. Terbukti ketika Audi menyodorkan Malkis roma ternyata rusa-rusa itu menyambutnya 😀 supaya Audi senang akhirnya saya membeli satu kantong wortel sisa-sisa yang dibungkus kresek seharga 5rb. Audi sangat senang memberikan wortel-wortel itu kepada rusa-rusa yang kelaparan..hahaha.. sampai akhirnya habislah seluruh wortelnya. Disana juga ada anak-anak dari Teknik Telekomunikasi Universitas Telkom makrab, tapi berhubung saya bukan dosen mereka dan ngga kenal anak-anaknya saya jadinya ngga mampir..hihihi…

Kami kembali ke Bandung sekitar pukul 10.00, dan mulai menikmati kemacetan yang muncul mulai dari Soreang hingga kopo Sayati..

Jalan Cemberut Bandung – Cirebon

Bubur Sop Ayam

Bubur Sop Ayam, gambar diambil dari sini

Mungkin ada yang bertanya-tanya, emang ada jalan cemberut? Hihihi… ini bukannya nama jalan, tapi kondisi jalannya yang bikin kita cemberut saat berkendara. Liburan kenaikan Isa Almasih kemarin saya habiskan untuk berkendara dari Bandung – Cirebon – Kuningan. Niatnya itu pengen ngelihat rumah yang sudah lama ditinggal dari tanggal 17 Agustus tahun 2014, kemudian sekalian mengunjungi makam leluhur di Kuningan.

Perjalanan dimulai dari Jumat pagi, saya (hampir) selalu melakukan perjalanan pada hari Jumat. Entah mengapa, biasanya jalanan sepi pada hari itu dikarenakan banyak yang harus beribadah sholat Jumat sehingga kondisi jalanan biasanya relatif sepi. Ternyata kondisi jalan dimulai macet sejak di Jatinangor – Tanjungsari. Saya sebetulnya sangat heran dengan Jatinangor, daerah itu merupakan kawasan baru sehingga seharusnya bisa ditata dengan lebih apik, tapi tetap saja macet. Apalagi liburan, dijamin macet parah. Kalo pasar Tanjungsari sudah tumpah, maka bisa dipastikan kalo macetnya pasti sampe Jatinangor. Selepas Tanjungsari jalanan sudah cukup normal, masuk Cadas Pangeran mulailah jalanan agak rusak karena aspal terkikis oleh hujan. Masuk Sumedang jalanan bagus karena melewati kota, nah selepas Sumedang medan kembali mulai semi off-road. Continue reading

Pangandaran

Tadinya saya ingin ke Pangandaran tanggal 1 Januari 2014 sekalian menjemput orang tua, tetapi akhirnya diundur menjadi tanggal 3 – 5 Januari 2014. Perjalanan ke Pangandaran dari Bandung cukup lancar, saya membawa Mawa, ayah mertua, tak lupa bayi kami dengan mobil yang baru 1 mingguan hadir. Itung-itung sekalian test drive. Jalan relatif sepi saat itu, tidak terlalu banyak mobil yang melintas. Pukul 11.00 kurang kami sampai ke Banjar, dan makan siang di rumah makan Acip Lama. Banjar memang kota yang tidak terlalu padat dan ramai, padahal tempatnya enak lho. Di Acip, kami memesan 1 porsi ayam cah jamur, 1 porsi fu yung hai, dan 4 porsi nasi putih. Berapa yang harus kami bayar untuk itu? kami harus bayar 87500! harga yang sangat mahal untuk makan 3 orang, tapi karena melihat ayah mertua saya sampai nambah nasi putih yah..lumayanlah.

Pangandaran tidak terlalu berbeda dari tahun ke tahun. Hanya ada beberapa hotel baru dan hotel yang baru dibangun di depan SIP Hotel. Namun ada satu yang baru, kalo anda pernah berkunjung ke Yogyakarta dan main di Alun-alun Selatan maka di sana kalo malam banyak penyewaan odong-odong. Nah, itulah yang sekarang sedang booming di Pangandaran kalo malam hari. Harga sewanya cukup mahal sih sekitar 50rb/jam akan tetapi kalo hari biasa jadi 30rb/jam.

Saya merindukan pantai, bukan karena ingin seperti adegan di film-film atau seperti yang diceritakan di novel, tapi karena saya ingin basah kena air laut dan menikmati hantaman ombak yang menerpa punggung. Pantai setelah tahun baru ternyata masih sangat ramai, padahal saya berharap pantainya itu jadi sepi..tapi gpplah. Minggu pagi akhirnya saya meninggalkan Pangandaran, jalanan lancar, tapi ternyata setelah Malangbong macet parah, penyebabnya dugaan saya yakni banyaknya kendaraan yang menyeberang dari Garut. Huffhh.. back to routinity again 😀

Menikmati Bibimbap di Mujigae

bimbimbap-1

Dua minggu yang lalu, saya bersama teman-teman KJK nongkrong bareng karena salah satu personil kita, yakni ci Tri akan pindah ke kota asalnya. Rasanya, sudah hampir setahun saya tidak pernah lagi ngumpul bareng bareng-bareng temen kjk ini. Dulu sih emang udah mulai sibuk kuliah ama tesis, jadinya jarang kemana-mana. Kalo sekarang?? cari uang.. hahaha.. Kami janjian di Ciwalk untuk makan bareng, tadinya ditawarin nonton juga tapi berhubung Mawa sudah ngajak mau nonton Katniss Everdeen jadinya saya minta makan aja ngga usah sama nonton 😀

Janjian pukul 18.30, ketika saya sampai di Ciwalk ternyata belum ada siapa-siapa. Bahkan si Denny baru sampe di depan rumah, njemput diriku ini. Alhasil, saya bengong sendirian di Ciwalk. Kalo di IP atau di FCL saya masih bisa mampir ke Gramedia, tapi kalo di sini ternyata ngga ada Gramedia sebagai teman untuk menghabiskan waktu. Akhirnya saya putuskan untuk mencari venue yang enak aja nanti buat makan malam. Banyak venue baru di Ciwalk ini, tapi ya itu menunya itu-itu aja, kebanyakan makanan Jepang yang saya tidak terlalu suka karena menunya juga itu-itu aja. Tadinya saya ingin mencoba Platinum, tapi Denny yang hobinya kuliner ternyata tiap bulan ke situ, jadilah saya terpaksa mengambil pilihan lain. Akhirnya saya putuskan mencoba Mujigae, yang konon kata Denny Bibimbapnya sangat enak. Continue reading

Backpack ke Krakatau

IMG_6617

Akhir bulan yang lalu saya dan Mawa menyempatkan diri untuk pergi ke Krakatau. Dari hasil survei traveling akhirnya kami memutuskan untuk ikut travellokalindo yang harganya cukup terjangkau. Agak was-was juga sih ikutan travelnya, soalnya lokasi agen travelnya ada di Jakarta dan kita langsung ketemu di meeting point yakni di Merak sebelum keberangkatan. Kebayang kan kalo sudah sampe Merak ternyata ga ada siapa-siapa? 😀 untungnya semua berjalan dengan lancar dan terkendali. Perjalanan kami dimulai dari terminal Leuwipanjang, naik bis Arimbi yang langsung jurusan Merak. Murah juga sih harganya, hanya 60rb AC eksekutif 😀 (kalo sekarang setelah BBM naik jadi 70rb).

Kami berangkat pukul 16.00 dari Bandung dan tiba di Merak pukul 23.00, habis waktu di jalan gara-gara macet 😦 Setelah menunggu rombongan lain, akhirnya kami menyeberang ke pelabukan Bakauheuni sekitar pukul 01.00. Tiket penyeberangannya sih cukup murah sekitar 11.500, tapi ternyata tempat duduknya sangat tidak nyaman. Nah, kalo kita ngga suka kita bisa upgrade tempat duduk menjadi lesehan yang ber-AC (upgrade kok malah jadi lesehan?) dengan menambah 8000 sahaja. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke lesehan karena ingin merebahkan diri beristirahat. Saran saya sih, kalo memang nantinya mau menyeberang langsung aja upgrade ke lesehan dan cari tempat di ruangan yang kosong, soalnya tambah lama tambah rame dan sesak, akibatnya kita ngga bisa lagi dapet spot untuk berbaring. Continue reading

Babi Guling Enak di Bali

2012-12-30-12.03.32

Hari pertama di Bali setelah saya dan Mawa tiba di pesawat dijalani dengan pindah ke hotel yang sudah kami booking sebelumnya, yakni Spazzio. Harganya cukup terjangkau dengan pelayanan dan kondisi kamar yang cukup memuaskan. Hotel ini ada di daerah Jl. Dewi Sri yang katanya hanya 10 menit berjalan kaki ke Kuta, makanya kami coba untuk pesan. Tapi ternyata setelah sampai di sana, kayaknya lebih dari 10 menit kalo mau ke Kuta dari hotel karena cukup jauh. Oya, saran saya segera cari rental motor atau mobil setelah sampai di Bali supaya ngga khawatir juga mau nginep dimana. Mau yang jauh atau dekat bakal terjangkau kalo kita ada kendaraannya.

Malamnya, Mawa ingin makan Babi Guling karena sebelumnya pernah ditraktir oleh temannya yang asli dari Bali. Akhirnya kami meluncur ke tempat makan Babi Guling yang terkenal di Bali, yakni Babi Guling Chandra. Letaknya ada di Jl. Teuku Umar. Memang sih, tempatnya sangat ramai dan banyak banget orang luar Bali yang makan di sana. Mawa memesan Babi Guling Spesial, sedangkan saya memesan daging babi, kami minum teh tawar. Tidak lama kemudian pesanan kami datang 😀 Saya mencicipi pesanan Mawa, tapi rasanya tidak terlalu berbeda dengan yang kami makan di Jogja. Bahkan kata si Mawa masih lebih enak yang di Jogja. Sementara saya hanya makan daging tawar 😦 bener-bener sih full daging tapi ketika makan kami jadi takut dengan harganya, karena pasti sangat mahal. Continue reading