Jalan Cemberut Bandung – Cirebon

Bubur Sop Ayam

Bubur Sop Ayam, gambar diambil dari sini

Mungkin ada yang bertanya-tanya, emang ada jalan cemberut? Hihihi… ini bukannya nama jalan, tapi kondisi jalannya yang bikin kita cemberut saat berkendara. Liburan kenaikan Isa Almasih kemarin saya habiskan untuk berkendara dari Bandung – Cirebon – Kuningan. Niatnya itu pengen ngelihat rumah yang sudah lama ditinggal dari tanggal 17 Agustus tahun 2014, kemudian sekalian mengunjungi makam leluhur di Kuningan.

Perjalanan dimulai dari Jumat pagi, saya (hampir) selalu melakukan perjalanan pada hari Jumat. Entah mengapa, biasanya jalanan sepi pada hari itu dikarenakan banyak yang harus beribadah sholat Jumat sehingga kondisi jalanan biasanya relatif sepi. Ternyata kondisi jalan dimulai macet sejak di Jatinangor – Tanjungsari. Saya sebetulnya sangat heran dengan Jatinangor, daerah itu merupakan kawasan baru sehingga seharusnya bisa ditata dengan lebih apik, tapi tetap saja macet. Apalagi liburan, dijamin macet parah. Kalo pasar Tanjungsari sudah tumpah, maka bisa dipastikan kalo macetnya pasti sampe Jatinangor. Selepas Tanjungsari jalanan sudah cukup normal, masuk Cadas Pangeran mulailah jalanan agak rusak karena aspal terkikis oleh hujan. Masuk Sumedang jalanan bagus karena melewati kota, nah selepas Sumedang medan kembali mulai semi off-road. Continue reading

Menikmati Bibimbap di Mujigae

bimbimbap-1

Dua minggu yang lalu, saya bersama teman-teman KJK nongkrong bareng karena salah satu personil kita, yakni ci Tri akan pindah ke kota asalnya. Rasanya, sudah hampir setahun saya tidak pernah lagi ngumpul bareng bareng-bareng temen kjk ini. Dulu sih emang udah mulai sibuk kuliah ama tesis, jadinya jarang kemana-mana. Kalo sekarang?? cari uang.. hahaha.. Kami janjian di Ciwalk untuk makan bareng, tadinya ditawarin nonton juga tapi berhubung Mawa sudah ngajak mau nonton Katniss Everdeen jadinya saya minta makan aja ngga usah sama nonton 😀

Janjian pukul 18.30, ketika saya sampai di Ciwalk ternyata belum ada siapa-siapa. Bahkan si Denny baru sampe di depan rumah, njemput diriku ini. Alhasil, saya bengong sendirian di Ciwalk. Kalo di IP atau di FCL saya masih bisa mampir ke Gramedia, tapi kalo di sini ternyata ngga ada Gramedia sebagai teman untuk menghabiskan waktu. Akhirnya saya putuskan untuk mencari venue yang enak aja nanti buat makan malam. Banyak venue baru di Ciwalk ini, tapi ya itu menunya itu-itu aja, kebanyakan makanan Jepang yang saya tidak terlalu suka karena menunya juga itu-itu aja. Tadinya saya ingin mencoba Platinum, tapi Denny yang hobinya kuliner ternyata tiap bulan ke situ, jadilah saya terpaksa mengambil pilihan lain. Akhirnya saya putuskan mencoba Mujigae, yang konon kata Denny Bibimbapnya sangat enak. Continue reading

Babi Guling Enak di Bali

2012-12-30-12.03.32

Hari pertama di Bali setelah saya dan Mawa tiba di pesawat dijalani dengan pindah ke hotel yang sudah kami booking sebelumnya, yakni Spazzio. Harganya cukup terjangkau dengan pelayanan dan kondisi kamar yang cukup memuaskan. Hotel ini ada di daerah Jl. Dewi Sri yang katanya hanya 10 menit berjalan kaki ke Kuta, makanya kami coba untuk pesan. Tapi ternyata setelah sampai di sana, kayaknya lebih dari 10 menit kalo mau ke Kuta dari hotel karena cukup jauh. Oya, saran saya segera cari rental motor atau mobil setelah sampai di Bali supaya ngga khawatir juga mau nginep dimana. Mau yang jauh atau dekat bakal terjangkau kalo kita ada kendaraannya.

Malamnya, Mawa ingin makan Babi Guling karena sebelumnya pernah ditraktir oleh temannya yang asli dari Bali. Akhirnya kami meluncur ke tempat makan Babi Guling yang terkenal di Bali, yakni Babi Guling Chandra. Letaknya ada di Jl. Teuku Umar. Memang sih, tempatnya sangat ramai dan banyak banget orang luar Bali yang makan di sana. Mawa memesan Babi Guling Spesial, sedangkan saya memesan daging babi, kami minum teh tawar. Tidak lama kemudian pesanan kami datang 😀 Saya mencicipi pesanan Mawa, tapi rasanya tidak terlalu berbeda dengan yang kami makan di Jogja. Bahkan kata si Mawa masih lebih enak yang di Jogja. Sementara saya hanya makan daging tawar 😦 bener-bener sih full daging tapi ketika makan kami jadi takut dengan harganya, karena pasti sangat mahal. Continue reading

Steak Pasadena yang sekarang terlalu mahal..

Mungkin terakhir sekali saya makan di Pasadena sekitar satu tahun yang lalu. Kemudian sekitar dua minggu yang lalu, saya dan Mawa ingin mencoba kembali makan di Steak Pasadena. Interiornya masih sama, menunya masih sama. Hanya satu yang berbeda, harganya! Yap, menurut saya steak pasadena yang sekarang harganya terlalu mahal dengan sajian yang tidak berubah satu tahun yang lalu. Berapa kenaikan harganya? tidak tanggung-tanggung 12 ribu rupiah! Sebagai perbandingan satu tahun yang lalu harga Tenderloin Steak Special 39.900, tetapi sekarang harganya 51.900. Naik 12.00o rupiah! Namun tetap saja menunya sedikit, tidak ada variasi sauce, tidak ada pilihan kentang, tidak ada pilihan kematangan, dan kualitas dagingnya agak sedikit menurun.

Tapi karena sudah pesan, ya mau tidak mau harus difoto dahulu :

Tornado Steak

Pesanan Mawa, kebab campuran daging sapi, sosis (yang ketahuan kalo sosis murah), dan daging ayam

Persian Kebab Whole

Kuliner gembira : Rumah Makan “Baru” chinese food

Selang satu hari setelah aku dan Mawa makan di “Ngangeni” seafood, keesokan harinya kami memutuskan untuk makan di RM “Baru” di daerah Lempuyangan tepat di sebelah utara Phuket. Alasannya simple, karena sehari sebelumnya kami sudah makan seafood, sekarang kami ingin makan sayuran 🙂 Sebelumnya sudah muter ke Mie Jakarta yang ada di daerah Pakuningratan tapi ternyata belum buka akhirnya iseng-iseng aja kami menuju ke Rumah Makan Baru ini.

Sampai di tempat makan ternyata kondisi agak ramai, banyak mobil yang diparkir di depan rumah makan. Wah,kayaknya enak nih rumah makannya.. Namun ternyata apa yang kami lihat tidak sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya. Lho?? kenapa? ternyata harganya ganass! nas! nas! nas! bahkan lebih ganas daripada terganas yang pernah kami datangi yaitu RM Li Djiong di daerah Brigjend Katamso. Menunya memang sangat bervariasi, ada 76 menu makanan kalo saya tidak salah ingat. Mulai dari yang sering kami dengar sampai yang belum pernah kami dengar 🙂 dan harganya juga rata-rata diatas Rp 20.000,-/porsi. Mantap bukan?? Continue reading

Kuliner gembira : “Ngangeni” seafood

Me against "Ngangeni"

Sabtu yang lalu sepulang dari ibadah di gereja, Saya dan pacar saya,Mawa bingung mencari tempat makan 🙂 karena bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Ketika melewati jalan Colombo akhirnya Mawa mengajak ke salah satu tempat makan seafood yang tergolong baru di Jogja, namanya “Ngangeni”. Okelah kalo begitu, berhubung saya juga belum pernah mencobanya akhirnya kami berdua menuju ke “Ngangeni”. Continue reading