Motor Baru

14445945_10210919876301343_4628477290112957282_n

Setelah ngidam cukup lama, akhirnya saya nekadkan buat beli motor baru. Biasanya saya pake motor Supra Fit S yang saya beli waktu saya kuliah sembari kerja dulu. Setelah 9 tahun menemani, akhirnya saya bosan. Saya ingin ganti motor cowok, tetapi masih bingung mau beli apa. Mawa awalnya menyarankan ganti yang baru, seperti Ninja, tetapi saya orangnya ngga seneng ngebut. Lalu saya juga ngobrol dengan salah satu kawan, dia bercerita kalo dulu di tahun 2011 dia beli motor Megapro gress. Setelah 5 tahun dia bosan dan ingin ganti, dia beli motornya sekitar 20 jutaan dan ternyata ditawar hanya 8 juta! Nyesek minta ampun..

Kemudian ada yang jual DKW Union 1955 dengan harga 25 jutaan, akhirnya saya beli satu. Pertimbangan saya sederhana, kalo saya bosan masih bisa dijual lagi dengan harga yang sama seperti saya beli. Okelah, jadinya saya beli. Datang juga motor saya dari Jogja, dan ternyata masih banyak yang harus diperbaiki lagi. Jadi beginilah rasanya punya motor tua😀

Bermain ke Jendela Alam

Masih malu-malu

Masih malu-malu

Hari Sabtu, 2 Juni 2016, yang lalu, Mawa mengajak Audi ke Jendela Alam bersama rombongan dari jejakecil. Awalnya Mawa tau jejakecil dari teman sekantornya, dan saya setuju Audi untuk ikut kegiatan outdoor, supaya mulai terbiasa bersosialisasi dengan rekan-rekan sebayanya dan orang lain. Pada pertemuan sebelumnya Audi masih malu-malu sekali, tapi pada saat yang ke jendela alam dia sudah mau berbaur dengan orang lain walaupun masih malu juga.

Jendela Alam lokasinya berada di dekat Sapulidi. Bisa masuk dari Kolonel Masturi, Sersan Bajuri, atau dari pertigaan Beatrix yang mau ke arah Lembang. Nah, di sana rupanya Audi berkelana memberi makan berbagai macam hewan. Ada sapi, domba, dan kambing ( hanya kata Mawa, pada saat kasih makan sapi tangannya Audi kena air liur sapi. Jadinya Audi ga mau lagi kasih makan hewan yang lain ).  Terakhir anak-anak diajak untuk memegang ular piton, saya heran juga ternyata Audi berani memegang ular piton dan mengelus-elusnya.. hehehe.. siiplah anak papa.. Continue reading

Mengurus roya di kota Bandung

Beberapa waktu yang lalu saya, Audi dan Mawa mengurus roya di Badan Pertanahan Nasional yang ada di Soekarno-Hatta. Tempatnya sangat ramai & penuh. Apabila kita baru pertama kali kemari, saya sarankan untuk membeli map roya yang ada di koperasi, jangan lupa juga beli materai tempel 6000 dan fotokopi KTP anda 1x saja. Kalo sudah kita tinggal isi datanya, jika merasa bingung para petugas yang ada ( satpam ) akan dengan senang hati membantu kita.

Untuk roya kita tinggal memasukkan berkasnya ke loket 1 ( satu ) untuk divalidasi. Proses validasi ini berlangsung cukup cepat. Nah, setelah selesai validasi baru kita menunggu selama kurang lebih 1-2 jam untuk dipanggil dan menyelesaikan proses administrasi! Sangat melelahkan! Pada waktu saya kesana kebetulan server BPN sedang down sehingga tidak dapat melayani pembayaran. Saya memasukkan berkas pukul 10.30, dan sampai pukul 12.00 saya belum dipanggil juga. Akhirnya saya datangi petugas loketnya, oleh petugasnya ( mbak-mbak ) dijawab kalo masih ada di kepala bagian, belum ditandatangani. Karena Audi mulai rewel belum makan siang, saya bertanya apakah bisa kalo ditinggal? dan ternyata bisa. Saya diberi tanda terima sementara dan dijanjikan akan dihubungi keesokan harinya. Continue reading

Penipuan Lucian Global International Tour & Travel

Beberapa hari yang lalu, saya ditelepon oleh seorang wanita bernama Vanya ( 021-27515104 ) yang mengaku dari Lucian Global International Tour & Travel ( LGITT ). Ia berkata bahwa dalam rangka promosi pariwisata Indonesia, LGITT berpartisipasi dalam program pariwisata, yakni memberikan voucher diskon sd 60% di berbagai pusat perbelanjaan yang ada di Indonesia + maskapai penerbangan, voucher menginap di hotel berbintang 4 & 5 tanpa mengenal musim, serta batik dari Danar Hadi. Sangat menggairahkan ya😀 apalagi voucher diskonnya itu lho.

Untuk mendapatkan semua benefitnya saya hanya cukup iuran Rp 3.145.000/10 tahun. Saya lupa pembayaran bisa dicicil atau tidak. Saya bertanya bagaimana seandainya tidak saya gunakan, apakah saya masih harus membayar iurannya? Mbak Vannya bilang dengan suara renyahnya kalo pembayaran dilakukan kalo sudah dipake voucher diskonnya. Lalu apabila dalam minimal waktu 6 bulan ke depan benefit tidak digunakan maka fasilitas kartu diskon 60% akan ditarik karena atas nama saya, sementara voucher hotel & batik tetapi diberikan. Saya pikir ya, ngga terlalu rugi bukan? Continue reading

Wisata ke Jungleland dan Mekarsari

Akhir bulan Mei yang lalu, saya dan keluarga berwisata ke Jungleland & Mekarsari. Acaranya diadakan oleh fakultas tempat saya mengajar. Sudah dua kali saya ikut darmawisata bersama, yang sebelumnya ke Taman Safari. Lumayanlah gratis, sayang juga kalo ngga diambil. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 05.15, karena bis katanya akan berangkat pukul 06.00 selain jalanan yang tentunya akan menjadi macet.

Kami berangkat pukul 06.30, terlambat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan. Jalanan emang macet, tapi untungnya tidak terlalu parah. Sekitar pukul 11.00 akhirnya kami mencapai Jungleland, sekitar lebih cepat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan. Jungleland itu mirip dufan, tapi lebih kecil. Kalo saya bilang, Jungle land ini memang cocok untuk anak-anak di bawah 10 tahun karena wahananya memang tidak terlalu ekstrim. Apabila kita beruntung naik wahana yang tidak terlalu ramai, kita boleh naik beberapa kali secara langsung. Audi beberapa kali naik jeep & kincir angin secara langsung karena waktu itu sedang tidak terlalu ramai. Continue reading

Toko Langgeng Jaya

Toko Busa Langgeng Jaya

Toko Busa Langgeng Jaya

Mulai hari minggu, 12 Juni 2016, saya resmi membuka toko. Namanya Toko Busa “Langgeng Jaya“. Sebetulnya awalnya bingung ingin memberi nama apa, dan tiba-tiba saya teringat salah satu nama tokoh dari cerita yang booming banget beberapa waktu yang lalu di kaskus. Cerita buka toko ini sebetulnya udah lama, saat saya sekarang mulai jenuh dan butuh pelarian untuk sesuatu yang baru, akan tetapi baru sekarang terwujud. Continue reading

Permasalahan pada touchscreen Asus Padfone S

Beberapa bulan yang lalu ponsel pintar saya mengalami masalah, layar sentuh yang tadinya responsif menjadi berkurang sensitifitasnya. Akhirnya malah tidak responsif sama sekali. Untungnya saya punya dockingnya, sehingga bisa digunakan jika ingin membalas pesan, browsing, atau mengetik. Ketika saya cari di forum Asus Padfone S Indonesia ternyata memang itu salah satu problem di kalangan pengguna Padfone S *performa bagus tapi ternyata layar sentuhnya parah*

Dari saran teman saya bawa ke BEC 2, akan tetapi ternyata teknisinya belum bisa. Saya memang hanya ngikutin teman yang pernah servis di sana, soalnya malas kalo harus ngecek satu-satu, ya kalo ternyata bener, kalo ngga? Saya singgah pula ke Asus SC di Jl. Gurame, ternyata ponsel harus menginap 1 – 10 hari dan kartu garansi saya hilang. Wadoohh.. lha ponsel cuma punya satu. Akhirnya saya putuskan untuk beli layar sentuhnya secara online & nanti nyari tutorialnya pemasangannya di youtube. Layar  sentuh berhasil dibeli dengan harga 436rb ( sudah termasuk ongkir ), sebetulnya saya penasaran : Padfone S ini secara resolusi sama dengan Zenfone 5, apakah kita sebetulnya bisa menggunakan layar sentuh Zenfone 5? secara harganya layar sentuh Zenfone 5 itu lebih murah😀 Tutorial juga sudah saya dapatkan di sini. Continue reading