Work from Home?

Virus corona sedang melanda Indonesia baru – baru ini, dan akhirnya ditetapkan sebagai bencana nasional. Info terakhir status kebencanaan ini diperpanjang hingga akhir bulan Mei 2020. Dan mendadak, hari Sabtu & Minggu, pemerintah kota Bandung menyarankan untuk meliburkan aktifitas sekolah, fasilitas umum, dan menggantinya menjadi work from home.

Saya sendiri sebagai mahasiswa juga terkena dampaknya. Hari Selasa, 17 Maret 2020, pada pukul 18.00 ITB resmi menutup kampusnya. Semua mahasiswa diarahkan untuk mejalani perkuliahan secara daring. Di Telkom University pun sama, kampus ditutup hingga 29 Maret 2020 dan pembelajaran diarahkan ke bentuk daring dengan memanfaatkan berbagai macam media digital yang dapat digunakan.

PIKKC (Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas), tempat saya bantu – bantu selama menjadi mahasiswa, juga ikutan tutup karena lab kami ada di labtek 8. Akhirnya karyawan dan mahasiswa yang dikaryakan dianjurkan untuk kerja dari rumah selama dua minggu.

Pola kerja work from home ini memberikan tantangan dan cerita tersendiri bagi saya pribadi. Contohnya : saya pagi memberikan task kepada rekan tim, lalu agak siangan saya mengantar Audi les renang, di sana saya masih sempat berkoordinasi untuk proses testing via WA, malam ini saya baru bisa fokus untuk mengecek beberapa kekurangan.

Enaknya sih menurut saya : pola kerja kita menjadi lebih fleksibel dan tidak monoton, capaian diubah dari yang berbentuk proses menjadi hasil akhir. Namun, bisa jadi muncul berbagai banyak distraksi di rumah saat kita bekerja (kalo kita anggap sebagai distraksi juga sih). Misalnya : kemarin saat meeting dengan BNI, saya masih menyetir dan mengantar Mawa untuk berbelanja. Mereka belanja akhirnya saya masih tetap berada di mobil untuk ikut meeting karena lupa ngga bawa earphone.

Pola kerja work from home ini cocok untuk pekerjaan yang sifatnya membutuhkan banyak ide, tidak perlu banyak koordinasi cepat, serta untuk profesional yang mampu memanajemen waktu dengan baik. Apakah saya bisa? well, mari lihat hasilnya selama dua minggu ke depan…

MBL Menari

Pada hari Sabtu, 15 Februari 2020 kemarin Audi diminta untuk memeriahkan acara MBL Menari yang ada di Paskal 23. Padahal hari Jumat sebelumnya Audi ada latihan balet dan sempat demam sore harinya. Oleh Mawa, Audi diberi parasetamol dan akhirnya sembuh.

Paginya sebelum pentas Audi sempat anget lagi, kami langsung memberinya paracetamol dan memintanya untuk tidur. Di siang hari, ketika demamnya udah menurun kami menanyakan apakah Audi mau ikut pentas? dan ia menjawab ‘mau’. Ya sudah akhirnya kami menyiapkan semuanya. Audi dijadwalkan untuk pentas jam 15.30 bersama teman – teman yang tergabung dalam marching band.

Hujan deras mengguyur Bandung dengan lebatnya saat saya dan Mawa akan mengantar Audi ke Paskal23. Saya bersikeras untuk berangkat pada saat hujan deras dikarenakan biasanya sangat sedikit kendaraan yang melintas di jalan. Namun saya salah, karena baru berjalan sekitar 500m ternyata hujan sudah mulai reda.. huhuhu.. dan jalan Kebonjati mulai macet. Paskal23 itu memang sangat ramai di weekend, sebetulnya saya juga ngga ngerti apa yang dicari oleh para pengunjung. Namun, Paskal23 itu memang lokasinya di tengah kota sih. Bagi orang – orang seperti saya yang merasa PVJ atau TSM itu terlalu jauh, maka Paskal 23 ini jadi pilihan untuk bersantai.

Continue reading

Kebijakan kantong plastik yang “nanggung”

Gerakan bebas sampah plastik saat ini menjadi gerakan yang “hype”, banyak sekali pendukungnya, apalagi pertokoan dan mall. Contohnya di Alfamart atau Indomaret, saya harus membayar Rp 200,- untuk membeli kantong plastik. Di Matahari department store saya harus membayar Rp 500,- untuk membeli kantong plastik. Tadi saat membeli sepatu di Payless, saya ditawari untuk membayar Rp 500,- apabila ingin menggunakan kantong plastik.

Kalo saya hanya perlu membayar Rp 200,- sampai Rp 500,- hanya untuk menebus kantong plastik, mana mendidik gerakan bebas kantong plastik yang digembor – gemborkan itu? Isu itu akhirnya hanya dipakai untuk menjual kantong plastik, padahal biasanya juga gratis. Kalau memang benar mau mendidik, pilihannya hanya ada dua : hilangkan 100% kantong plastik, atau jual tote bag walau harganya cukup mahal. Jika tidak, maka hanya masyarakat yang jadi korban karena harus membayar kantong plastik yang tadinya gratis.

Untuk masyarakat Indonesia, tidak memberi pilihan sama sekali adalah pilihan terbaik. Contohnya itu implementasi e-money pada gerbang tol. Ketika masyarakat tidak punya pilihan selain menggunakan e-money untuk masuk gerbang tol, pada akhirnya masyarakat akan menggunakan e-money. Apabila alfamart, indomaret, matahari department store, maupun pusat perbelanjaan yang lain tidak menyediakan kantong plastik sama sekali maka masyarakat dengan sendirinya akan sadar untuk membawa tas belanja, keranjang, atau karung.

Apa sih enaknya pake iPhone?

Itu sebetulnya salah satu pertanyaan yang paling susah dijawab..hahaha.. Dulu saya naksir iPhone kala mulai seri 7, namun harganya yang masih selangit saat itu ditambah speknya yang masih biasa mengurungkan niat saya untuk berganti gadget. Sampai akhirnya tahun 2018 ada iPhone XR yang mendukung dual kartu SIM nano, saya paksakan juga untuk berganti ke iPhone XR dan kini menggunakan iPhone 11. iPhone itu memang mahal, tapi harganya juga cepet banget drop untuk barang secondnya. Di tiap peluncuran seri terbaru, maka seri sebelumnya akan turun sebesar 30%. Setahun 30% bray! Ada juga teman yang beli iPhone 7 second tahun 2016 64GB, dia hanya membelinya seharga 3.5jt di tahun 2018 lalu. Itu sih resiko harganya, namun apa sih enaknya pake iPhone? Kalo menurut saya enaknya tu ini..

Continue reading

Hotel dekat bandara KLIA 2

Mencari hotel yang dekat dengan bandara KLIA 2? Kalo saya merekomendasikan Tune Hotel Aeropolis yang ada di bandara KLIA 2. Jadi, saat saya pergi ke Hongkong tahun lalu, Mawa ingin pergi naik Cathay Pacific yang berangkatnya dari Kuala Lumpur. Itu berarti saya harus mencari hotel yang dekat dengan bandara. Tadinya kami akan mencari hotel di luar bandara, namun itu nampaknya menjadi pilihan yang kurang bijak. Mengapa?

Continue reading

In Memoriam Gilbert Marcostrang

Masih teringat di tahun 2018, pada bulan November, tanggal 25, hari Minggu. Hari di mana saya, Mawa, Audi, dan adik bayi yang masih di dalam kandungan pergi ke Festival City Link untuk menonton Ralph 2 : Breaks the Internet 🙂 Satu hari kemudian, saat subuh, Mawa mengeluh merasakan kontraksi. Dikarenakan memang sudah sekitar 39 minggu, akhirnya saya membawa Mawa ke RS Borromeus dan masuk ke IGD persalinan. Beruntung waktu itu ada Utin, temen koor di Harmoni, sedang bertugas dini hari itu sehingga kami langsung dibantu oleh Utin untuk menyiapkan kelahiran apabila ternyata subuh itu bayi yang kami nanti-nantikan lahir ke dunia.

Continue reading