Mengapa dosen susah ditemuin?

Judul di atas mungkin pernah dirasakan oleh mahasiswa yang kuliah di universitas negeri. Saya juga pernah mengalaminya kala kuliah di salah satu universitas negeri di Jogja. Dulu, kalo mau ketemu dengan dosen maka saya harus menunggu di depan ruangannya dari pagi hingga sore hari. Kalo beruntung saya bisa bertemu dalam satu hari saja, tapi kalo belum beruntung ya harus mengulangi lagi di hari berikutnya. Dosen juga tidak membalas SMS atau pun menerima telepon.. dongkol memang.. belum lagi karena dosennya rata-rata orang Jawa, unggah-ungguh atau sopan santun itu sangat diperhatikan.

Tapi itu semua dulu,, sekarang saya mulai memahami apa sih yang bisa dipetik dari pelajaran susah menemui dosen itu. Saat ini saya mengajar di sebuah universitas swasta yang ada di Bandung, mendidik anak generasi milenial dengan segudang sifat dan kebiasaannya. Komunikasi pun mudah dilakukan karena saya mengizinkan mereka menggunakan aplikasi messaging untuk mengontak saya. Tapi ya itu, kemudahan itu kadang membuat mereka malas bertemu dengan dosen, khususnya bertatap muka. Segala pertanyaan, aduan, pesan semua disampaikan lewat ponsel. Bahkan apabila melakukan kesalahan, permohonan maaf juga disampaikan via ponsel. Belum lagi tata cara berkomunikasi, yang menurut saya pribadi, terkadang seenaknya. Ditambah lagi apabila melakukan janji dengan dosen, mahasiswa kerap terlambat. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan di masa kuliah, karena kalo terlambat pasti dosennya udah pergi entah kemana.

Susah menemui dosen mengajarkan saya untuk tepat waktu apalagi untuk urusan yang terkait kegiatan akademik, dosen yang susah dikontak juga mengajarkan saya arti pentingnya berinteraksi secara efisien ( karena kadang hanya menyediakan sedikit waktu ), melatih kesabaran, dan ketahanan. Sedangkan unggah-ungguh mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam berbicara dengan orang lain. Kebiasaan harus unggah-ungguh masih terbawa sampai sekarang, ketika saya berada pada lingkungan baru, saya masih bisa berbaur dan berinteraksi dengan konflik yang minim.

Jadi, di tengah budaya dan kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan dahulu, nampaknya dosen memang harus mulai kembali susah untuk ditemui.

 

Dago Dream Park

Pada saat libur pilkada, tanggal 15 Februari 2017 yang lalu, saya beserta keluarga dan keponakan pergi tamasya ke Dago Dream Park. Sebetulnya ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini, dulu pertama kali waktu soft opening ( sama seperti farm house saat masih sepi ), dan yang kedua ya kemarin itu.

Dago Dream Park ini terletak di daerah Dago Giri, anda tinggal lurus aja ke atas kalo dari Dago bawah. Nanti pas ada cabang ( ke kanan arah Dago Pakar ), ambil sebelah kiri dan ikuti jalan. Tahun lalu jalan sangat rusak parah, tapi rupanya tahun ini sudah diperbaiki sehingga lebih nyaman untuk dilewati. Nanti kita akan disambut para satpam di atas untuk menuju ke sana. Jangan lupa siapin uangnya, harga tiket masuk Rp 20.000/orang, tiket mobil Rp 10.000, dan tiket motor Rp 5.000. Kalo anak di bawah 2 tahun masih gratis jadi santai aja. Continue reading

Backup media digital

Sekarang banyak hal serba digital, salah satunya adalah foto atau video. Kalo dulu kita mengenal album foto, kamera analog, dan roll film, sekarang mungkin hampir sangat sulit untuk dijumpai. Saya dulu mengalami yang namanya afdruk foto menggunakan petromaks di pinggir jalan 😀 Nah, berhubung sekarang itu sangat mudah untuk melakukan jeprat-jepret atau rekam-merekam maka yang paling pusing adalah bagaimana menyimpannya. Masih mending kalo mungkin foto itu cuma berguna dalam waktu yang ngga lama, tapi gimana nih kalo ternyata itu foto anak kita misalnya, yang sekarang masih bayi dan baru bisa menikmati fotonya mungkin 12 tahun lagi.

Tadinya saya mau backup lewat dropbox, tapi ternyata kalo gratis hanya dapat jatah 2GB akhirnya pilihan jatuh ke google drive yang mau memberikan ruang sebesar 15GB. Kalo kurang ya nanti bikin email yang baru 😀

Mewaspadai tenaga pemasaran kartu kredit

Pada saat akan mengaktifasi kartu kredit, biasanya kita akan diminta untuk mengisi formulir. Nah, ada satu bagian yang harus selalu diperhatikan apabila kita hendak mengaktifasi kartu kredit kita, yakni bagian privasi data. Biasanya ada dua kolom mengenai privasi, yang pertama adalah mengenai kesediaan kita untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk yang bekerja sama dengan bank, dan yang kedua yang paling penting apakah kita bersedia untuk membagikan data kita kepada pihak lain ( misalnya mungkin bank lain ).

Dua poin privasi itu yang menentukan bagaimana hidup kita ke depannya 🙂 Pada saat saya mengisi formulir aktifasi, di bagian privasi itu saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi tentang produk yang bekerja sama dengan bank, dan sampai sekarang saya tidak pernah mendapat telepon dari bank lain mengenai penawaran kartu kredit. Jadi apabila anda sering mendapatkan telepon penawaran kartu kredit dari bank lain, mungkin tanpa sengaja anda pernah menyetujui poin kesediaan membagikan data anda kepada pihak yang lain. Jadi buat yang akan mengaktifkan kartu kredit, harap dicermati formulir aktifasinya.

Tapi walaupun saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi mengenai produk yang bekerja sama dengan bank, bukan berarti tidak pernah ada penawaran. Banyak juga penawaran yang kadang datang via telepon, nah, pada saat anda menerima penawaran produk via telepon dari tenaga pemasaran, saran saya jangan terburu-buru untuk menjawab iya! biasanya tenaga pemasaran itu ngomongnya nyerocos bin cepet banget, seolah ga memberi kesempatan bagi kita untuk mencerna informasi yang diberikan. Tiba-tiba saja dia berkata, “apakah bapak bersedia kalo untuk ikut serta … nanti saya bantu aktifasinya.” Apabila kita tanpa sadar berkata, “ya“. Selanjutnya ya sudah bisa ditebak, akan sulit untuk membatalkannya.

Seandainya anda memang agak tertarik dengan produknya, silakan didengarkan dan minta tenaga marketingnya untuk menjelaskan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi kalo anda memang tidak tertarik dengan produknya, saya sarankan untuk langsung menolaknya dengan halus supaya tidak membuang waktu untuk mendengarkan tawaran dari tenaga pemasaran.

 

Menjadi sederhana…

Di zaman sekarang, salah satu hal yang susah untuk dilakukan mungkin menjadi sederhana. Kalo anda gemar mengecek media sosial, maka yang ditampilkan adalah foto-foto sedang di mana, makan apa, dengan siapa, naik mobil apa, dkk. Punya hape baru, posting hapenya di laman media sosial, makan di tempat makan posting fotonya di media sosial, foto di depan lamborghini punya orang lalu posting di media sosial, dkk, yang rasanya akan menjadi daftar yang sangat banyak untuk disebutkan.

Apakah salah? hehehe.. ya ngga juga sih, orang memang ngga akan tahu kalo kita sendiri tidak bercerita. Tapi selalu ada batasan yang sangat tipis antara bercerita dan pamer. Ketika kita memamerkan sesuatu, biasanya orang akan kagum pada kita, lebih menghormati kita, dan sebagainya. Kita akan mulai merasa level kita lebih tinggi, akibatnya kita harus senantiasa menjaganya. Pada saat kita posting, misalnya minum kopi di Setarbak, maka teman-teman kita akan berkomentar. Nah, mulailah kita merasa bahwa level kita akan naik, lalu kita merasa malu untuk mencicipi kopi kapal api atau sekedar nongkrong di warung kopi biasa. Apabila itu terjadi terus-menerus, maka kita akan disandera oleh gaya hidup kita. Itulah yang berbahaya. Kalo kita mampu mencukupi gaya hidup kita dengan cara yang halal sih ngga papa, tapi kalo ngga?

Solusinya sebenarnya sangat mudah, jadilah sederhana. Sederhana bukan dalam artian bahwa kita itu ngga punya apa-apa, sederhana itu bahwa kita mampu menahan keinginan / hawa nafsu untuk hal yang sekiranya tidak terlalu penting. Sederhana itu lebih kepada pandangan bahwa apabila kita sudah nyaman dengan apa yang kita miliki dan lakukan ya udah, ngga peduli apa kata orang. Kalo kita merasa motor kita yang butut masih mampu untuk mengantar kita keliling kota sehari-hari ya gpp untuk dipakai, tanpa harus merasa tersaingi atau iri dengan kawan-kawan yang sudah memakai yamaha nmax misalnya. Pada saat kita sudah sampai pada taraf seperti itu, hidup kita akan damai, tenang, dan apa adanya. Memang, mungkin banyak orang akan meragukan kita. Tapi, bukankah yang paling penting itu adalah pribadi kita, bukan dari yang kita kenakan?

 

Menikmati lezatnya seafood Asui di Bangka

Salah satu destinasi kuliner seafood yang sohor di kota Pangkalpinang adalah RM. Asui yang terkenal dengan masakan lautnya. Kalo menu andalannya sih ikan tengiri bakar, tapi menurut saya masih banyak pilihan yang lain. RM. Asui ini sudah ada di peta google jadi kita tidak akan repot mencarinya, dan RM. Asui ini berdekatan dengan destinasi kuliner yang lain, yakni bakmi Akau dan otak-otak Ase ( terletak di jalan yang sama ).

Saya dan keluarga datang pada waktu malam tahun baru, kira-kira pukul 20.30, yang mana ternyata masih rame penuh sodara-sodara! Mungkin kalo sudah hari biasa seperti sekarang tidak akan terlalu penuh. Harga yang dipatok di sini untuk masakan lautnya mulai Rp 40.000-an. Agak mahal mungkin ya? tapi sebanding kok dengan cita rasanya. Bahan yang segar dipadu dengan bumbu menjadi sajian yang sangat nikmat. Kalo yang sering makan di Jakarta, di resto-resto seafodd terkenal, atau yang sering menikmati ikan di daerah timur Indonesia, mungkin rasanya terkesan biasa aja. Tapi jika anda membandingkan dengan RM sejenis yang ada di sekitaran pantai, misalnya Pangandaran, maka Asui ini juaranya. Continue reading

Terima Rapor

Hari Rabu, 14 Desember 2016, Audi menerima rapor pertamanya 🙂 Kebanyakan nilainya “cukup”.. hehehe.. tapi saya maklum soalnya dia memang masih dalam tahapan belajar. Ketika usianya sudah genap 2 tahun, dua bulan kemudian saya dan Mawa mendaftarkan Audi ke kelompok bermain di dekat rumah. Bukan tanpa alasan sebetulnya, jadi rumah kami itu bukan di daerah kompleks perumahan sehingga sangat susah menemukan anak yang sebaya dengan dia sebagai teman bermain. Disamping itu, kami pengen Audi belajar bersosialisasi dan lebih terangsang untuk berbicara karena banyak temennya.

Enam bulan sudah berjalan dengan lancar, dan banyak sekali perubahan yang terlihat dari Audi. Mungkin Audi ngga akan jadi kayak sekarang kalo dulu ngga disekolahin. Sekarang dia lebih mampu menunjukkan emosi, lebih cerewet, mau curhat, dan lebih aktif. Di sekolah memang dia belum terlalu banyak ngomong karena dia adalah siswi paling kecil, yang lain umurnya udah 3 tahunan, tapi saya yakin dia belajar lewat mengamati. Hanya satu yang masih belum hilang, yakni rasa malunya apabila bertemu dengan orang lain.

Mudah-mudahan semester depan lebih ceria lagi ya, nak..