Wisata Gembira ke Solo, Salatiga, Semarang

Sabtu 2 minggu yang lalu saat long weekend, saya, Mawa, beserta Audi pergi ke Gombong. Sebetulnya rencananya mau ke Semarang tapi ada banyak kemungkinan susunan acara yang membuat belum dipastikannya kita akan kemana. Akhirnya Jumat sore diputuskan bahwa kami akan ke Solo -> Semarang -> Gombong -> Bandung. Segeralah kami berkemas dari jadwal dadakan itu dan langsung menuju Solo.

Di Solo, saya menginap di hotel dekat mall Solo Paragon, di sana kebetulan sedang ada festival untuk menyambut Maulud Nabi, akan tetapi kami sampai sudah cukup larut malam sekitar jam 22.00. Niat hati ingin mencari nasi liwet tapi ternyata semua sudah tutup, akhirnya kami makan seadanya dan kembali ke hotel untuk tidur bersama dalam satu kamar sebanyak 6 orang! 🙂 🙂 untung pihak hotel ngga tau, kalo ketahuan bangkrutlah kami.. Continue reading

Advertisements

Menyambut mahasiswa baru

Hari ini merupakan hari yang spesial karena prodi S1 Sistem Komputer Universitas Telkom kembali menyambut mahasiswa baru. Di luar prediksi, jumlah mahasiswa baru yang datang ternyata melebihi kuota yang ada. Kelebihan mahasiswa kami sekitar 36 orang atau setara dengan 1 kelas. Saya tidak mengikuti keseluruhan acara penyambutan, saya hanya mengikuti sampai perkenalan dosen dikarenakan mata ini tidak bersahabat setelah semalaman menemani Audi yang rewel karena demam.

Selamat datang mahasiswa baru, semoga hari-hari kalian berjalan dengan menyenangkan..

Sepatu boot pink dan biru

Beberapa waktu yang lalu saya sempat heran karena Audi yang biasanya mengenakan sepatu boot berwarna pink saat pergi ke sekolah tiba-tiba mencari sepatu boot yang berwarna biru dan mengenakannya ke sekolah hingga saat ini. Bahkan yang warna pink sama sekali tidak pernah disentuhnya. Saya dulu penasaran, tapi saya pikir mungkin dia bosan sehingga memilih untuk mengganti warna sepatunya. Saat mengantar dia ke sekolah, salah satu gurunya juga pernah mengingatkan kalo sebaiknya Audi jangan pake sepatu boot untuk sekolah karena itu sepatu karet.

Dan hari ini terjawablah sudah pertanyaan mengapa Audi mengganti sepatu bootnya 🙂 Continue reading

Hari pertama sekolah

Senin, 17 Juli 2017, merupakan hari pertama Audi pergi ke sekolah yang baru. Yap, sekarang Audi bersekolah di kelompok bermain yang baru walau masih tetap juga ambil kelas kursus yang lama. Kemarin juga saya dan Mawa mulai mengantarkan anak kami ke sekolah untuk pertama kalinya, rencananya kami akan menemani Audi sekolah selama seminggu, takut kalo ditinggal nanti langsung nangis jerit-jerit.

Jadilah tiap hari selalu dimulai dengan pagi hari, di mana saya terpaksa bangun awal di pagi hari, mandi, dan mengantarkan Audi ke sekolah. Mawa juga sekarang tiap hari harus menyiapkan bekal karena ada acara untuk makan snak bersama. Ada kebahagiaan tersendiri bisa mengantar anak untuk pergi ke sekolah, melihat bagaimana mereka berkumpul dengan teman sebayanya dan belajar berinteraksi. Saya biasanya membiarkan dia sendiri untuk belajar bergaul dengan teman-temannya, kalo pun butuh ditemani saya meminta Mawa untuk menemani, soalnya kalo ada papanya biasanya dia merasa malas dan selalu memegangi tangan papanya 🙂

Saya berharap, mudah-mudahan waktu mengajar saya di plot siang hari di semester ini sehingga masih berkesempatan untuk mengantarkan Audi ke sekolah setiap hari..

Internetan murah di Jepang dengan XL Pass

Kalo kita browsing mencari kartu SIM yang murah untuk berwisata ke Jepang, nyaris tidak ada. Semua berkisar pada harga Rp 350.000 – Rp 400.000 untuk 7 hari dengan kuota sekitar maksimal 5GB. Memang ada yang murah, tapi harga tetap berkisar di angka Rp 250.000. Pilihan lain untuk tetap dapat terhubung ke internet selama di Jepang yakni dengan menyewa wifi saku, tapi harganya juga lumayan sekitar Rp 70.000 – Rp 80.000 per harinya. Lalu, adakah yang lebih murah lagi? Continue reading

Membeli SIM Card lokal di Malaysia

Dulu, saat berada di luar negeri saya biasanya mematikan data saya. Bahkan waktu masih jaman menggunakan blackberry saya menggunakan blackberry karena mendapat gratis paket data. Berhubung harga roaming sudah mahal, maka pilihan yang paling murah apabila kita berada di luar negeri yakni menggunakan SIM card lokal.

Saat berada di Kuala lumpur, saya membeli SIM Card lokal untuk memantau chat, mencari rute, bahkan memesan taksi uber atau grab. Saat di Malaysia ada beberapa pilihan : Digi, Axiata, Maxis, U Mobile, dkk. Harga hampir samalah, ngga banyak jauh berbeda. Kalo anda di Malaysia untuk lebih dari 3 hari, saya sarankan untuk menggunakan Excelcom yang harganya relatif murah. Nah, apabila anda hanya punya sedikit waktu berada di Malaysia ( maksimal 3 hari ) saya sarankan untuk membeli Hotlink. Gerai SIM Card banyak bertebaran di bandara, baik KLIA1 / KLIA2. Rata-rata berkisar di harga RM30 untuk paket data 5GB-an selama 1 bulan, yang murah saya pernah lihat Excelcom dengan harga RM25 untuk paket data sebulan.

Kalo pengen yang murah seperti Hotlink seharga RM10, maka kita harus membelinya di KL Sentral, tepatnya di dalam mall Nu Sentral. Saya membeli SIM Card hotlink seharga RM10 di mana terisi pulsa 5RM. Gratis 1GB untuk 2 hari, dan sisanya kita masih bisa menggunakannya selama 2 hari dengan saldo yang ada. Kalo habis tinggal dibuang saja, selesai..hehehe..

Mengapa dosen susah ditemuin?

Judul di atas mungkin pernah dirasakan oleh mahasiswa yang kuliah di universitas negeri. Saya juga pernah mengalaminya kala kuliah di salah satu universitas negeri di Jogja. Dulu, kalo mau ketemu dengan dosen maka saya harus menunggu di depan ruangannya dari pagi hingga sore hari. Kalo beruntung saya bisa bertemu dalam satu hari saja, tapi kalo belum beruntung ya harus mengulangi lagi di hari berikutnya. Dosen juga tidak membalas SMS atau pun menerima telepon.. dongkol memang.. belum lagi karena dosennya rata-rata orang Jawa, unggah-ungguh atau sopan santun itu sangat diperhatikan.

Tapi itu semua dulu,, sekarang saya mulai memahami apa sih yang bisa dipetik dari pelajaran susah menemui dosen itu. Saat ini saya mengajar di sebuah universitas swasta yang ada di Bandung, mendidik anak generasi milenial dengan segudang sifat dan kebiasaannya. Komunikasi pun mudah dilakukan karena saya mengizinkan mereka menggunakan aplikasi messaging untuk mengontak saya. Tapi ya itu, kemudahan itu kadang membuat mereka malas bertemu dengan dosen, khususnya bertatap muka. Segala pertanyaan, aduan, pesan semua disampaikan lewat ponsel. Bahkan apabila melakukan kesalahan, permohonan maaf juga disampaikan via ponsel. Belum lagi tata cara berkomunikasi, yang menurut saya pribadi, terkadang seenaknya. Ditambah lagi apabila melakukan janji dengan dosen, mahasiswa kerap terlambat. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan di masa kuliah, karena kalo terlambat pasti dosennya udah pergi entah kemana.

Susah menemui dosen mengajarkan saya untuk tepat waktu apalagi untuk urusan yang terkait kegiatan akademik, dosen yang susah dikontak juga mengajarkan saya arti pentingnya berinteraksi secara efisien ( karena kadang hanya menyediakan sedikit waktu ), melatih kesabaran, dan ketahanan. Sedangkan unggah-ungguh mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam berbicara dengan orang lain. Kebiasaan harus unggah-ungguh masih terbawa sampai sekarang, ketika saya berada pada lingkungan baru, saya masih bisa berbaur dan berinteraksi dengan konflik yang minim.

Jadi, di tengah budaya dan kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan dahulu, nampaknya dosen memang harus mulai kembali susah untuk ditemui.