Hari pertama sekolah

Senin, 17 Juli 2017, merupakan hari pertama Audi pergi ke sekolah yang baru. Yap, sekarang Audi bersekolah di kelompok bermain yang baru walau masih tetap juga ambil kelas kursus yang lama. Kemarin juga saya dan Mawa mulai mengantarkan anak kami ke sekolah untuk pertama kalinya, rencananya kami akan menemani Audi sekolah selama seminggu, takut kalo ditinggal nanti langsung nangis jerit-jerit.

Jadilah tiap hari selalu dimulai dengan pagi hari, di mana saya terpaksa bangun awal di pagi hari, mandi, dan mengantarkan Audi ke sekolah. Mawa juga sekarang tiap hari harus menyiapkan bekal karena ada acara untuk makan snak bersama. Ada kebahagiaan tersendiri bisa mengantar anak untuk pergi ke sekolah, melihat bagaimana mereka berkumpul dengan teman sebayanya dan belajar berinteraksi. Saya biasanya membiarkan dia sendiri untuk belajar bergaul dengan teman-temannya, kalo pun butuh ditemani saya meminta Mawa untuk menemani, soalnya kalo ada papanya biasanya dia merasa malas dan selalu memegangi tangan papanya 🙂

Saya berharap, mudah-mudahan waktu mengajar saya di plot siang hari di semester ini sehingga masih berkesempatan untuk mengantarkan Audi ke sekolah setiap hari..

Internetan murah di Jepang dengan XL Pass

Kalo kita browsing mencari kartu SIM yang murah untuk berwisata ke Jepang, nyaris tidak ada. Semua berkisar pada harga Rp 350.000 – Rp 400.000 untuk 7 hari dengan kuota sekitar maksimal 5GB. Memang ada yang murah, tapi harga tetap berkisar di angka Rp 250.000. Pilihan lain untuk tetap dapat terhubung ke internet selama di Jepang yakni dengan menyewa wifi saku, tapi harganya juga lumayan sekitar Rp 70.000 – Rp 80.000 per harinya. Lalu, adakah yang lebih murah lagi? Continue reading

Membeli SIM Card lokal di Malaysia

Dulu, saat berada di luar negeri saya biasanya mematikan data saya. Bahkan waktu masih jaman menggunakan blackberry saya menggunakan blackberry karena mendapat gratis paket data. Berhubung harga roaming sudah mahal, maka pilihan yang paling murah apabila kita berada di luar negeri yakni menggunakan SIM card lokal.

Saat berada di Kuala lumpur, saya membeli SIM Card lokal untuk memantau chat, mencari rute, bahkan memesan taksi uber atau grab. Saat di Malaysia ada beberapa pilihan : Digi, Axiata, Maxis, U Mobile, dkk. Harga hampir samalah, ngga banyak jauh berbeda. Kalo anda di Malaysia untuk lebih dari 3 hari, saya sarankan untuk menggunakan Excelcom yang harganya relatif murah. Nah, apabila anda hanya punya sedikit waktu berada di Malaysia ( maksimal 3 hari ) saya sarankan untuk membeli Hotlink. Gerai SIM Card banyak bertebaran di bandara, baik KLIA1 / KLIA2. Rata-rata berkisar di harga RM30 untuk paket data 5GB-an selama 1 bulan, yang murah saya pernah lihat Excelcom dengan harga RM25 untuk paket data sebulan.

Kalo pengen yang murah seperti Hotlink seharga RM10, maka kita harus membelinya di KL Sentral, tepatnya di dalam mall Nu Sentral. Saya membeli SIM Card hotlink seharga RM10 di mana terisi pulsa 5RM. Gratis 1GB untuk 2 hari, dan sisanya kita masih bisa menggunakannya selama 2 hari dengan saldo yang ada. Kalo habis tinggal dibuang saja, selesai..hehehe..

Mengapa dosen susah ditemuin?

Judul di atas mungkin pernah dirasakan oleh mahasiswa yang kuliah di universitas negeri. Saya juga pernah mengalaminya kala kuliah di salah satu universitas negeri di Jogja. Dulu, kalo mau ketemu dengan dosen maka saya harus menunggu di depan ruangannya dari pagi hingga sore hari. Kalo beruntung saya bisa bertemu dalam satu hari saja, tapi kalo belum beruntung ya harus mengulangi lagi di hari berikutnya. Dosen juga tidak membalas SMS atau pun menerima telepon.. dongkol memang.. belum lagi karena dosennya rata-rata orang Jawa, unggah-ungguh atau sopan santun itu sangat diperhatikan.

Tapi itu semua dulu,, sekarang saya mulai memahami apa sih yang bisa dipetik dari pelajaran susah menemui dosen itu. Saat ini saya mengajar di sebuah universitas swasta yang ada di Bandung, mendidik anak generasi milenial dengan segudang sifat dan kebiasaannya. Komunikasi pun mudah dilakukan karena saya mengizinkan mereka menggunakan aplikasi messaging untuk mengontak saya. Tapi ya itu, kemudahan itu kadang membuat mereka malas bertemu dengan dosen, khususnya bertatap muka. Segala pertanyaan, aduan, pesan semua disampaikan lewat ponsel. Bahkan apabila melakukan kesalahan, permohonan maaf juga disampaikan via ponsel. Belum lagi tata cara berkomunikasi, yang menurut saya pribadi, terkadang seenaknya. Ditambah lagi apabila melakukan janji dengan dosen, mahasiswa kerap terlambat. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan di masa kuliah, karena kalo terlambat pasti dosennya udah pergi entah kemana.

Susah menemui dosen mengajarkan saya untuk tepat waktu apalagi untuk urusan yang terkait kegiatan akademik, dosen yang susah dikontak juga mengajarkan saya arti pentingnya berinteraksi secara efisien ( karena kadang hanya menyediakan sedikit waktu ), melatih kesabaran, dan ketahanan. Sedangkan unggah-ungguh mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam berbicara dengan orang lain. Kebiasaan harus unggah-ungguh masih terbawa sampai sekarang, ketika saya berada pada lingkungan baru, saya masih bisa berbaur dan berinteraksi dengan konflik yang minim.

Jadi, di tengah budaya dan kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan dahulu, nampaknya dosen memang harus mulai kembali susah untuk ditemui.

 

Dago Dream Park

Pada saat libur pilkada, tanggal 15 Februari 2017 yang lalu, saya beserta keluarga dan keponakan pergi tamasya ke Dago Dream Park. Sebetulnya ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini, dulu pertama kali waktu soft opening ( sama seperti farm house saat masih sepi ), dan yang kedua ya kemarin itu.

Dago Dream Park ini terletak di daerah Dago Giri, anda tinggal lurus aja ke atas kalo dari Dago bawah. Nanti pas ada cabang ( ke kanan arah Dago Pakar ), ambil sebelah kiri dan ikuti jalan. Tahun lalu jalan sangat rusak parah, tapi rupanya tahun ini sudah diperbaiki sehingga lebih nyaman untuk dilewati. Nanti kita akan disambut para satpam di atas untuk menuju ke sana. Jangan lupa siapin uangnya, harga tiket masuk Rp 20.000/orang, tiket mobil Rp 10.000, dan tiket motor Rp 5.000. Kalo anak di bawah 2 tahun masih gratis jadi santai aja. Continue reading

Backup media digital

Sekarang banyak hal serba digital, salah satunya adalah foto atau video. Kalo dulu kita mengenal album foto, kamera analog, dan roll film, sekarang mungkin hampir sangat sulit untuk dijumpai. Saya dulu mengalami yang namanya afdruk foto menggunakan petromaks di pinggir jalan 😀 Nah, berhubung sekarang itu sangat mudah untuk melakukan jeprat-jepret atau rekam-merekam maka yang paling pusing adalah bagaimana menyimpannya. Masih mending kalo mungkin foto itu cuma berguna dalam waktu yang ngga lama, tapi gimana nih kalo ternyata itu foto anak kita misalnya, yang sekarang masih bayi dan baru bisa menikmati fotonya mungkin 12 tahun lagi.

Tadinya saya mau backup lewat dropbox, tapi ternyata kalo gratis hanya dapat jatah 2GB akhirnya pilihan jatuh ke google drive yang mau memberikan ruang sebesar 15GB. Kalo kurang ya nanti bikin email yang baru 😀

Mewaspadai tenaga pemasaran kartu kredit

Pada saat akan mengaktifasi kartu kredit, biasanya kita akan diminta untuk mengisi formulir. Nah, ada satu bagian yang harus selalu diperhatikan apabila kita hendak mengaktifasi kartu kredit kita, yakni bagian privasi data. Biasanya ada dua kolom mengenai privasi, yang pertama adalah mengenai kesediaan kita untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk yang bekerja sama dengan bank, dan yang kedua yang paling penting apakah kita bersedia untuk membagikan data kita kepada pihak lain ( misalnya mungkin bank lain ).

Dua poin privasi itu yang menentukan bagaimana hidup kita ke depannya 🙂 Pada saat saya mengisi formulir aktifasi, di bagian privasi itu saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi tentang produk yang bekerja sama dengan bank, dan sampai sekarang saya tidak pernah mendapat telepon dari bank lain mengenai penawaran kartu kredit. Jadi apabila anda sering mendapatkan telepon penawaran kartu kredit dari bank lain, mungkin tanpa sengaja anda pernah menyetujui poin kesediaan membagikan data anda kepada pihak yang lain. Jadi buat yang akan mengaktifkan kartu kredit, harap dicermati formulir aktifasinya.

Tapi walaupun saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi mengenai produk yang bekerja sama dengan bank, bukan berarti tidak pernah ada penawaran. Banyak juga penawaran yang kadang datang via telepon, nah, pada saat anda menerima penawaran produk via telepon dari tenaga pemasaran, saran saya jangan terburu-buru untuk menjawab iya! biasanya tenaga pemasaran itu ngomongnya nyerocos bin cepet banget, seolah ga memberi kesempatan bagi kita untuk mencerna informasi yang diberikan. Tiba-tiba saja dia berkata, “apakah bapak bersedia kalo untuk ikut serta … nanti saya bantu aktifasinya.” Apabila kita tanpa sadar berkata, “ya“. Selanjutnya ya sudah bisa ditebak, akan sulit untuk membatalkannya.

Seandainya anda memang agak tertarik dengan produknya, silakan didengarkan dan minta tenaga marketingnya untuk menjelaskan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi kalo anda memang tidak tertarik dengan produknya, saya sarankan untuk langsung menolaknya dengan halus supaya tidak membuang waktu untuk mendengarkan tawaran dari tenaga pemasaran.