Menyiapkan Studi S3 di ITB

Disclaimer : tulisan ini sangat subjektif karena berasal dari apa yang saya alami, yang mungkin bisa berbeda dengan apa yang orang lain alami.

Sebetulnya studi S3 di ITB itu apa aja sih yang perlu dipersiapkan? Mungkin ini pertanyaan bagi sebagian besar calon mahasiswa doktoral yang ingin melanjutkan studi di ITB. Nah, berikut hal – hal yang perlu dipersiapkan untuk masuk sebagai calon mahasiswa doktoral di ITB :

  1. Proposal riset. Ini hal yang sangat penting, karena proposal ini yang akan menjadi bahan diskusi dengan promotor. Lalu, apakah proposal riset itu harus sudah sangat dalam? Menurut saya sih ngga perlu dalam, yang penting didalamnya kita sudah tahu mau meneliti apa ketika nanti diterima sebagai mahasiswa program doktoral. Bagaimana menyiapkan proposal penelitian kita? untuk menyiapkan proposal mau ngga mau harus didahului dengan membaca jurnal – jurnal yang terkait dengan topik yang ingin kita teliti. Tujuannya supaya kita tahu penelitian terkait topik yang ingin kita teliti sudah sejauh apa saat ini? apa topik yang sedang hangat? dan bagaimana posisi ide kita, apakah masih memungkinkan untuk direalisasikan atau ternyata sudah ada yang mengerjakan?
  2. Promotor. Jadi proposal riset dan promotor itu tidak dapat dipisahkan, karena promotor yang nantinya akan mengarahkan penelitian kita. Apabila kita sudah dapat kandidat promotor yang sesuai dengan topik kita, usahakan untuk bertemu secara langsung. Apa pasal? chemistry itu penting. Di awal mungkin kita sudah bisa merasa cocok atau ngga sejak pertemuan pertama. Namun, memilih promotor juga ternyata menjadi salah satu problema tersendiri.. hehehe.. ya, ada banyak pertimbangan ketika kita mencari promotor yang semuanya kembali ke diri kita masing – masing, saya ingin mencari apa selama studi doktoral di ITB? Misalnya saya di STEI, biasanya informasi para promotor ini sudah getok tular dari tiap kenalan kita.

Nah, itu tahapan awal yang perlu kita persiapkan sebelum memutuskan untuk mendaftar seleksi ujian tertulis. Untuk persiapan ujian tertulis nanti akan dibahas pada bagian selanjutnya. Sebetulnya, perjalanan kita nantinya memang pasti akan berbeda satu dengan yang lain walau bisa jadi berada di lab yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi, baik dari internal maupun eksternal. Dan salah satu kuncinya adalah promotor, orang yang akan menjadi rekan selama 3 tahun kita menjalani studi. Makanya, pemilihan promotor itu sangatlah penting. Pilihlah dengan bijak, sekali lagi, sesuai dengan apa yang kita cari selama menjalani studi nantinya.

Lomba Mewarnai

Hari ini pukul 07.15 kami sekeluarga pergi ke Ciwalk. Ngapain aja pagi – pagi udah ke sana? Jawabannya karena hari ini Audi lomba mewarnai 😀 Ceritanya beberapa waktu yang lalu Mawa ngasih info kalo ada lomba mewarnai, ya udah saya sih setuju aja Audi ikut. Selain supaya melatih mental untuk lomba, juga supaya di hari Minggu itu ada kegiatan yang bermanfaat daripada sekedar nonton youtube.

Ketika datang, ternyata lombanya itu bertema “mom and kids” artinya ini lomba duet antara anak dan orang tua yang menjadi pendamping. Audi sendiri minta saya menjadi pendampingnya. Akhirnya dimulailah lombanya pukul 08.45 dan kami diberi kesempatan untuk menyelesaikannya dalam waktu 90 menit. Kami mendapat dua kertas, pertama kertas latar dan kedua kertas objek. Jadi objek itu harus diwarnai dan ditempelkan di kertas latar, setelah itu kita warnai kertas latarnya lagi supaya lebih bagus. Awalnya saya pikir itu semua dikerjakan oleh anak – anak, tapi ternyata saya salah. Kami orang tua harus ikut membantu anak kami masing – masing! Jadilah saya membagi tugas berdua dengan Audi, saya mewarnai objek dan mengguntingnya sementara Audi mewarnai latar dan nanti menempel. Continue reading

Mengunjungi Nu Art Sculpture Park

Hari minggu lalu, saya dan keluarga datang ke Nu Art Sculpture Park di daerah Setra Duta. Sebetulnya bukan tanpa alasan kami datang ke sini di hari Minggu lalu, jadi Audi ada acara penganugerahan piala di sanggar lesnya dan tempatnya ada di Setra Duta. Semua anak dapat piala, baik yang menang lomba internasional maupun tidak. Acaranya yang dijadwalkan mulai pada pukul 11.00 akhirnya baru dimulai pukul 11.30, biasalah banyak orang tua yang datang terlambat.. hehehe.. untungnya kami sih datang sebelum acara dimulai.

Salah satu hal yang sarat makna dan wawasan disampaikan oleh ibu ketua sanggar, bahwa “kita seringkali menilai hasil karya anak dengan mata orang dewasa. Ketika warna langit itu biru dan anak mewarnainya dengan kuning, apakah itu salah?”. Kita, dan saya, memang terkadang suka seperti itu, menilainya dari kacamata orang dewasa. Padahal sangatlah tidak fair untuk membandingkan karya seorang anak yang memang hanya berbasis perasaan dan ekspresi dengan karya kita, orang dewasa, yang sudah memiliki pengetahuan lebih banyak dan logika. Ibu ketua sanggar juga mengucapkan terima kasih karena banyak orang tua mau datang untuk memotivasi dan memberikan penghargaan bagi para anak – anaknya, ini juga sangat mengena untuk saya.

Satu alasan mengapa saya mau datang ke Nu Art Sculpture Park kemarin ya karena saya ingin melihat Audi menerima piala untuk membangkitkan rasa percaya dirinya. Audi mendapatkan rezeki menerima sertifikat dyploma untuk lomba menggambar UNESCO di Paris. Selain itu, saya juga senang Audi mendapat pengalaman baru : berkumpul dengan anak – anak sebayanya yang lain, menonton pertunjukkan balet, tarian, dan anak menyanyi. Harapannya itu semua bisa membuat Audi lebih terbuka dan berani. Ia beruntung lahir di keluarga yang bisa dikatakan berkecukupan, saya aja sewaktu kecil belum pernah sama sekali menerima penghargaan.. hahaha..

Mudah – mudahan acara kemarin memotivasi Audi untuk semakin bersemangat dalam berkarya dan berlatih. Amin.

Pengalaman fund raising pertama

Hari Kamis lalu saya beserta beberapa rekan saya menuju ke Jakarta untuk melakukan presentasi dalam rangka mencari pendanaan untuk aplikasi yang sedang kami kerjakan. Saya membawakan Tripisia dan rekan saya membawakan presentasi seputar logistik pengiriman barang. Rekan saya membawakan presentasinya dengan sangat lancar, lengkap dengan gambaran proyeksi arus kas dan estimasi peningkatan pendapatan mereka.

Akhirnya tibalah giliran saya, awalnya saya pikir hanya seputaran MVP saja sehingga saya hanya mendemokan MVP dari Tripisia ini. Ternyata saya juga diminta untuk memberikan linimasa pengembangan dan operasional serta proyeksi arus kas *doh*, ya saya jawab saja kalo itu belum ada dan dibuat.. hehehe.. Sebetulnya agak malu juga sih. Jadi sebetulnya sih udah ada proyeksi arus kasnya, tapi kok rasanya kurang makes sense, kesannya masih pemula banget yang bikin proyeksi arus kasnya. Oiya, mungkin saya sekalian membagi sedikit tips untuk membuat proyeksi arus kas : peningkatan pendapatan sebisa mungkin meningkat sekitar 15% bahkan lebih di tiap tahunnya. Jadi gini, investasi terhadap produk kan memang sesuatu yang beresiko, kita ngga tau produk tersebut bakal sukses atau ngga. Kalo ngga sukses ya sama saja bakar uang kan? Continue reading

Menjadi sederhana

Oleh mama saya, saya sering dibilang ‘kurang gaya’ atau dalam bahasa Jawa bisa diistilahkan ‘ora patrap‘. Pun ketika saya bertemu dengan teman masa kecil, dia bilang kalo saya orangnya ngga berubah dari dulu, tetap sederhana. Juga ketika om Daru ngobrol dengan saya, dia juga bilang kalo gaya saya itu sangat sederhana. Ngga salah juga sih, karena memang mungkin saya terlihat sangat sederhana. Contohnya : motor saya itu sudah 11 tahun dan masih dipakai hingga kini, tas laptop saya sudah 5 tahun, laptop saya juga sudah 5 tahunan, dan masih banyak hal yang lain lagi. Mawa sendiri sih ngga terlalu mempermasalahkan saya yang mungkin memang orangnya kurang gaya.

Dulu mungkin kurang gaya karena duitnya juga cekak, mau beli sepatu Nike rasanya masih pikir-pikir. Kalo sekarang sedikit demi sedikit sih gaya mulai ditingkatkan supaya ngga malu-maluin waktu nggandeng Mawa 😀 tapi tetap aja, kalo hari biasa ya memang saya terlihat sangat sederhana. Sebetulnya satu hal yang sekarang berubah dan saya menganggapnya saya udah lebih bisa ‘nggaya’, yakni sekarang saya sudah mulai bisa nyumbang ke gereja atau ke kelenteng.. hehehe.. Memang sih taraf hidup sudah naik walau mungkin belum bisa dibilang kaya – kaya amat, tapi saya bersyukur sekarang ada uang lebih buat nyumbang.

Pernah saya ditanya oleh Idha, yang sekarang jadi juragan produk kecantikan di Semarang, apa tujuan hidup saya. Saya jawab saya mau jadi orang kaya. Ia tanya lagi kenapa, dan saya menjelaskan supaya saya bisa lebih banyak berbagi. Kalo Christopher Robin pasti akan berucap, “oh.. silly old bear”. Orang – orang sukses yang saya baca atau dengar kisahnya adalah orang – orang yang sangat tidak pelit dengan hartanya. Bahkan ketika mereka menyumbang semakin banyak, semakin banyak juga berkat yang mereka terima. Itu juga yang ingin saya tiru. Buat saya, menjadi sederhana itu ngga repot. Ngga repot karena waktu jalan – jalan di mall kita ngga didatengin sama SPG atau sales yang menawarkan kartu kredit atau berbagai macam barang, ngga repot karena saya ngga perlu iri dengan gaya orang lain, dan lebih enak bergaul dengan orang lain. Tentunya saya juga ngga akan mungkin dateng kondangan ke Pusdai atau hotel Hilton dengan baju batik 20rb yang belinya via marketplace yang nomer satu di playstore. Saya pasti akan pakai batik Danar Hadi, jam tangan Guess / SO & CO, serta sepatu boot Jim Joker.

Sederhana menurut saya, juga harus mampu menyesuaikan di mana kita berada atau di lingkungan apa kita berada.

Mengasuh Audi

Hari ini Mawa ada lokakarya di Mason Pine, Kota Baru Parahyangan sehingga ia meminta saya untuk menjaga Audi seharian ini. Kalo buat saya, ini rasanya baru pertama kali saya menghabiskan waktu full seharian untuk mengasuh Audi. Kegiatan hari ini dimulai dengan menonton film Christopher Robin, film drama keluarga yang saya pikir lebih cocok untuk dewasa tetapi dalam balutan tokoh anak-anak 😀 Saya sangat suka salah satu kutipan di akhir film saat Pooh bertanya hari apa ini, “What day is it? it’s today. Oh, my favourite day.”

Setelah selesai menonton film saya mengajak Audi makan siang, awalnya ia menolak tapi mungkin karena lapar akhirnya mau juga diajak makan. Saya memberinya beberapa pilihan : Suka Suki, Raacha, Solaria. Ia menolak semuanya, katanya ingin makan di bawah. Saya membawanya ke Pizza Hut, saat sampai di depannya ternyata ia lagi ngga pengen pizza. Pilihan terakhir, saya menawarinya Ta Wan dan langsung disambut dengan senyum ceria.. hehehe… Begitu saya menyodorkan daftar menu, Audi mantap langsung memilih bubur 3 rasa dan ngga mau berpaling ke menu yang lain. Saya mencoba menu seafood hotplate. Ketika pesanan datang, saya agak kecewa karena harganya 50rb, isinya sedikit, dan seafood-nya lebih sedikit lagi. Untuk bubur 3 rasa, porsi sepadan dengan harganya. Audi makan dengan sangat lahap sampai nambah 3x / sepadan dengan 2,5porsi sementara saya dikasih 1 porsi. Continue reading

Audi sakit

Kemarin sore saat di gereja tiba-tiba Audi badannya panas, dan makin lama makin tinggi suhunya. Ketika saat di rumah, saya belikan bubur ayam Virya yang menurut saya enak banget rasanya dibanding yang lain, Capitol sekalipun, namun ternyata dimuntahin. Saya merasa bersalah karena ngga ngasih makan Audi nasi dari pagi. Sebetulnya siangnya kami kondangan ke Pusdai, tapi saya lupa memberi Audi nasi, saya malah cuma ngasih es krim dan sosis.

Tadi pagi Audi merasa sehat dan akhirnya sekolah, saya sudah jalan pelan-pelan dan memberi tahu ke ibu gurunya kalo Audi sedang sakit jadi mohon izin pake jaket selama kegiatan sekolah berlangsung. Ternyata Audi di sekolah muntah-muntah, dan waktu pulang ke rumah juga muntah tiap kali makan sampai saya pulang tadi sore. Sudah minum obat sih, sekarang sudah tidur, mudah-mudahan besok Audi sudah sehat kembali. Amin.