Kebijakan kantong plastik yang “nanggung”

Gerakan bebas sampah plastik saat ini menjadi gerakan yang “hype”, banyak sekali pendukungnya, apalagi pertokoan dan mall. Contohnya di Alfamart atau Indomaret, saya harus membayar Rp 200,- untuk membeli kantong plastik. Di Matahari department store saya harus membayar Rp 500,- untuk membeli kantong plastik. Tadi saat membeli sepatu di Payless, saya ditawari untuk membayar Rp 500,- apabila ingin menggunakan kantong plastik.

Kalo saya hanya perlu membayar Rp 200,- sampai Rp 500,- hanya untuk menebus kantong plastik, mana mendidik gerakan bebas kantong plastik yang digembor – gemborkan itu? Isu itu akhirnya hanya dipakai untuk menjual kantong plastik, padahal biasanya juga gratis. Kalau memang benar mau mendidik, pilihannya hanya ada dua : hilangkan 100% kantong plastik, atau jual tote bag walau harganya cukup mahal. Jika tidak, maka hanya masyarakat yang jadi korban karena harus membayar kantong plastik yang tadinya gratis.

Untuk masyarakat Indonesia, tidak memberi pilihan sama sekali adalah pilihan terbaik. Contohnya itu implementasi e-money pada gerbang tol. Ketika masyarakat tidak punya pilihan selain menggunakan e-money untuk masuk gerbang tol, pada akhirnya masyarakat akan menggunakan e-money. Apabila alfamart, indomaret, matahari department store, maupun pusat perbelanjaan yang lain tidak menyediakan kantong plastik sama sekali maka masyarakat dengan sendirinya akan sadar untuk membawa tas belanja, keranjang, atau karung.

Apa sih enaknya pake iPhone?

Itu sebetulnya salah satu pertanyaan yang paling susah dijawab..hahaha.. Dulu saya naksir iPhone kala mulai seri 7, namun harganya yang masih selangit saat itu ditambah speknya yang masih biasa mengurungkan niat saya untuk berganti gadget. Sampai akhirnya tahun 2018 ada iPhone XR yang mendukung dual kartu SIM nano, saya paksakan juga untuk berganti ke iPhone XR dan kini menggunakan iPhone 11. iPhone itu memang mahal, tapi harganya juga cepet banget drop untuk barang secondnya. Di tiap peluncuran seri terbaru, maka seri sebelumnya akan turun sebesar 30%. Setahun 30% bray! Ada juga teman yang beli iPhone 7 second tahun 2016 64GB, dia hanya membelinya seharga 3.5jt di tahun 2018 lalu. Itu sih resiko harganya, namun apa sih enaknya pake iPhone? Kalo menurut saya enaknya tu ini..

Continue reading

Apakah agama itu memiskinkan?

Di kaskus, beberapa hari yang lalu ada sebuah thread yang membahas mengenai Gereja yang memiskinkan, yang diangkat dari buku antologi Perzinahan di rumah Tuhan. Rasanya menggelitik, karena membahas mengenai persepuluhan. Saya jujur belum pernah membaca bukunya, jadi saya sangat tidak paham dengan apa yang ditulis dalam buku. Namun, saya ingin berbagai pandangan saya.

Persepuluhan, itu memang tertulis di alkitab. Salah satunya ada di sini. Namun, selama saya menjadi katholik, saya tidak merasa wajib memberikan persepuluhan. Tiap misa di hari Minggu atau hari besar katholik memang ada kolekte, tapi ya serelanya. Kalo di Kristen saya kurang tahu, tapi mungkin sama juga ada kolekte. Di masjid pun sebelum melaksanakan sholat Jumat ada kolekte. Kita hidup di dunia, di mana semua hal memang membutuhkan uang. Hasil kolekte dari umat katholik digunakan untuk membiayai pembangunan gereja, operasional gereja, serta para imam. Di agama lain juga saya rasa sama, semua kolekte / sumbangan pasti digunakan untuk perawatan masjid, kelenteng, operasional harian, dsb. Jadi menurut saya, selama kolekte itu sifatnya sukarela itu masih wajar.

Continue reading

Memaknai “Coco”

Mungkin sudah banyak yang menonton film Coco ini, film yang memang menyentuh tentang cinta dipadukan dengan budaya seputar menghormati orang yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa dalam setahun, orang Meksiko merayakan hari di mana mereka melakukan ritual penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ini sangat mirip dengan tradisi nyekar atau ziarah di Indonesia, atau sembahyang rebutan di Tiongkok.

Ada satu hal yang sebetulnya membuat saya jadi berpikir gara – gara menonton film ini : mengapa sih kita perlu menempatkan foto orang yang sudah meninggal saat kita sembahyang atau mendoakan mereka? dan itu dijawab di film Coco ini. Orang meninggal memang mempunyai alamnya sendiri ( seenggaknya itu yang digambarkan di film ini ), mereka hidup sama seperti kita di dunia yang fana ini. Namun, mereka juga bisa menghilang selama-lamanya atau mengalami final death. Mengapa itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena sudah tidak ada lagi yang mengingatnya. Roh akan terus hidup saat kita masih mengingatnya. Dan bagaimana cara mengingatnya? yakni dengan meletakkan fotonya di meja sembahyang atau di tempat khusus di mana kita sewaktu – waktu dapat mendoakan mereka. Setidaknya itulah yang digambarkan dalam film Coco, mengenai bagaimana foto mereka yang diletakkan di fronda merupakan tiket untuk datang kembali ke alam nyata.

Mewaspadai tenaga pemasaran kartu kredit

Pada saat akan mengaktifasi kartu kredit, biasanya kita akan diminta untuk mengisi formulir. Nah, ada satu bagian yang harus selalu diperhatikan apabila kita hendak mengaktifasi kartu kredit kita, yakni bagian privasi data. Biasanya ada dua kolom mengenai privasi, yang pertama adalah mengenai kesediaan kita untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk yang bekerja sama dengan bank, dan yang kedua yang paling penting apakah kita bersedia untuk membagikan data kita kepada pihak lain ( misalnya mungkin bank lain ).

Dua poin privasi itu yang menentukan bagaimana hidup kita ke depannya 🙂 Pada saat saya mengisi formulir aktifasi, di bagian privasi itu saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi tentang produk yang bekerja sama dengan bank, dan sampai sekarang saya tidak pernah mendapat telepon dari bank lain mengenai penawaran kartu kredit. Jadi apabila anda sering mendapatkan telepon penawaran kartu kredit dari bank lain, mungkin tanpa sengaja anda pernah menyetujui poin kesediaan membagikan data anda kepada pihak yang lain. Jadi buat yang akan mengaktifkan kartu kredit, harap dicermati formulir aktifasinya.

Tapi walaupun saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi mengenai produk yang bekerja sama dengan bank, bukan berarti tidak pernah ada penawaran. Banyak juga penawaran yang kadang datang via telepon, nah, pada saat anda menerima penawaran produk via telepon dari tenaga pemasaran, saran saya jangan terburu-buru untuk menjawab iya! biasanya tenaga pemasaran itu ngomongnya nyerocos bin cepet banget, seolah ga memberi kesempatan bagi kita untuk mencerna informasi yang diberikan. Tiba-tiba saja dia berkata, “apakah bapak bersedia kalo untuk ikut serta … nanti saya bantu aktifasinya.” Apabila kita tanpa sadar berkata, “ya“. Selanjutnya ya sudah bisa ditebak, akan sulit untuk membatalkannya.

Seandainya anda memang agak tertarik dengan produknya, silakan didengarkan dan minta tenaga marketingnya untuk menjelaskan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi kalo anda memang tidak tertarik dengan produknya, saya sarankan untuk langsung menolaknya dengan halus supaya tidak membuang waktu untuk mendengarkan tawaran dari tenaga pemasaran.

 

Ingin menjadi terkenal? Berbagilah..

Dunia sekarang bukanlah lagi dunia walled garden, di mana kita adalah orang yang terkenal karena mempunyai kebun yang tertutup. Dengan dimulainya era internet, dunia sekarang adalah dunia yang berbagi. Jadi dulu, Einstein dikenal karena kejeniusannya. Tapi saya yakin itu untuk kalangan yang terbatas, karena waktu kecil pun saya ngga terlalu kenal dengan nama Albert Einstein. Ketika internet mulai muncul, Einstein menjadi sosok yang terkenal, padahal beliau sudah meninggal. Lalu apa yang membuatnya bisa terkenal? tidak lain dan tidak bukan karena banyak orang yang membagikan informasi tentang dirinya.

Kita bisa melihat di forum dunia maya, orang yang banyak mendapat reputasi biasanya adalah orang yang banyak membagikan konten apalagi secara gratis. Jadi sekarang ini, kalo saya jago di bidang digital enterpreneurship tapi saya ngga pernah membagikan ilmu saya kepada netizen maka saya tidak akan terkenal. Kebayang ya bentuknya? jadi orang sekarang terkenal karena banyak berbagi ilmu / konten yg bermanfaat. Walau kita bukan expert akan tetapi kalo kita sering membagikan ilmu dari hal yang kita pelajari, orang akan menganggap kita sebagai expert. Ketika kita semakin banyak berbagi, maka kita akan semakin terkenal.

Jadi kalo anda ingin terkenal, rumusnya mudah. Berbagilah..

Meminta – minta

Suatu hari ketika saya mengeluarkan motor hendak pergi dari rumah, ada seorang perempuan yang mendatangi saya, saya udah punya feeling kayaknya ni perempuan bakal minta-minta.. dan ternyata benar.., dia meminta sedekah untuk makan. Saya sudah sopan untuk menolaknya, akan tetapi dia tetap keukeuh meminta-minta. Mungkin dia mengira saya akan memberikan apa yang dia minta, tapi saya tetap ngga mau memberi. Saya bergegas menutup pintu rumah, menyalakan motor, dan nyuekin perempuan tadi. Kejam?? mungkin iya. Tapi saya yakin saya lebih baik ngga ngasih uang daripada ngasih, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Continue reading