Mewaspadai tenaga pemasaran kartu kredit

Pada saat akan mengaktifasi kartu kredit, biasanya kita akan diminta untuk mengisi formulir. Nah, ada satu bagian yang harus selalu diperhatikan apabila kita hendak mengaktifasi kartu kredit kita, yakni bagian privasi data. Biasanya ada dua kolom mengenai privasi, yang pertama adalah mengenai kesediaan kita untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk yang bekerja sama dengan bank, dan yang kedua yang paling penting apakah kita bersedia untuk membagikan data kita kepada pihak lain ( misalnya mungkin bank lain ).

Dua poin privasi itu yang menentukan bagaimana hidup kita ke depannya 🙂 Pada saat saya mengisi formulir aktifasi, di bagian privasi itu saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi tentang produk yang bekerja sama dengan bank, dan sampai sekarang saya tidak pernah mendapat telepon dari bank lain mengenai penawaran kartu kredit. Jadi apabila anda sering mendapatkan telepon penawaran kartu kredit dari bank lain, mungkin tanpa sengaja anda pernah menyetujui poin kesediaan membagikan data anda kepada pihak yang lain. Jadi buat yang akan mengaktifkan kartu kredit, harap dicermati formulir aktifasinya.

Tapi walaupun saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi mengenai produk yang bekerja sama dengan bank, bukan berarti tidak pernah ada penawaran. Banyak juga penawaran yang kadang datang via telepon, nah, pada saat anda menerima penawaran produk via telepon dari tenaga pemasaran, saran saya jangan terburu-buru untuk menjawab iya! biasanya tenaga pemasaran itu ngomongnya nyerocos bin cepet banget, seolah ga memberi kesempatan bagi kita untuk mencerna informasi yang diberikan. Tiba-tiba saja dia berkata, “apakah bapak bersedia kalo untuk ikut serta … nanti saya bantu aktifasinya.” Apabila kita tanpa sadar berkata, “ya“. Selanjutnya ya sudah bisa ditebak, akan sulit untuk membatalkannya.

Seandainya anda memang agak tertarik dengan produknya, silakan didengarkan dan minta tenaga marketingnya untuk menjelaskan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi kalo anda memang tidak tertarik dengan produknya, saya sarankan untuk langsung menolaknya dengan halus supaya tidak membuang waktu untuk mendengarkan tawaran dari tenaga pemasaran.

 

Advertisements

Ingin menjadi terkenal? Berbagilah..

Dunia sekarang bukanlah lagi dunia walled garden, di mana kita adalah orang yang terkenal karena mempunyai kebun yang tertutup. Dengan dimulainya era internet, dunia sekarang adalah dunia yang berbagi. Jadi dulu, Einstein dikenal karena kejeniusannya. Tapi saya yakin itu untuk kalangan yang terbatas, karena waktu kecil pun saya ngga terlalu kenal dengan nama Albert Einstein. Ketika internet mulai muncul, Einstein menjadi sosok yang terkenal, padahal beliau sudah meninggal. Lalu apa yang membuatnya bisa terkenal? tidak lain dan tidak bukan karena banyak orang yang membagikan informasi tentang dirinya.

Kita bisa melihat di forum dunia maya, orang yang banyak mendapat reputasi biasanya adalah orang yang banyak membagikan konten apalagi secara gratis. Jadi sekarang ini, kalo saya jago di bidang digital enterpreneurship tapi saya ngga pernah membagikan ilmu saya kepada netizen maka saya tidak akan terkenal. Kebayang ya bentuknya? jadi orang sekarang terkenal karena banyak berbagi ilmu / konten yg bermanfaat. Walau kita bukan expert akan tetapi kalo kita sering membagikan ilmu dari hal yang kita pelajari, orang akan menganggap kita sebagai expert. Ketika kita semakin banyak berbagi, maka kita akan semakin terkenal.

Jadi kalo anda ingin terkenal, rumusnya mudah. Berbagilah..

Meminta – minta

Suatu hari ketika saya mengeluarkan motor hendak pergi dari rumah, ada seorang perempuan yang mendatangi saya, saya udah punya feeling kayaknya ni perempuan bakal minta-minta.. dan ternyata benar.., dia meminta sedekah untuk makan. Saya sudah sopan untuk menolaknya, akan tetapi dia tetap keukeuh meminta-minta. Mungkin dia mengira saya akan memberikan apa yang dia minta, tapi saya tetap ngga mau memberi. Saya bergegas menutup pintu rumah, menyalakan motor, dan nyuekin perempuan tadi. Kejam?? mungkin iya. Tapi saya yakin saya lebih baik ngga ngasih uang daripada ngasih, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Continue reading

Dosen dan Proyek

Ilustrasi diambil dari sini

Ilustrasi diambil dari sini

Kalo baca-baca berita, pasti kita akan menemukan beberapa artikel tentang aktifitas dosen mengajar di beberapa universitas sekaligus[1], ‘mroyek’[2], atau menjadi konsultan, staf ahli, dkk. Banyak polemik yang terjadi karena ini. Tapi apakah memang proyek itu hanya memberi manfaat secara ekonomi bagi dosen, ataukah ada manfaat lain dalam konteks akademik?

Berbicara proyek, saya batasi bahwa proyek itu pekerjaan di luar aktifitas mengajar dan meneliti yang dilakukan oleh seorang dosen. Proyek juga merupakan bentuk pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan industri atau stakeholder. Saya batasi bahwa itu yang disebut dengan proyek, jadi pekerjaan di luar yang berhubungan dengan dunia industri / pemerintah. Proyek memang selalu dikaitkan dengan nilai ekonomis, saya juga maklum, karena saya juga suka menjalin kerjasama dengan industri. Saya merupakan dosen teknik, yang biasa berkecimpung di bidang IT. Kalo menurut saya, dosen itu memang harusnya punya proyek. Banyak sekali manfaat yang di dapat dari proyek selain hanya nilai ekonomis. Apakah itu? Continue reading

Singkong keju dan teknologi

singkong keju, gambar diambil dari sini

singkong keju, gambar diambil dari sini

Dahulu kala, paling ngga waktu zaman saya kecil. Makan singkong itu rasanya untung-untungan seperti main lotere. Prosesnya dimulai dari memilih singkong yang masih mentah. Singkong itu kita kupas, kemudian dipotong-potong, direndam dengan air garam+bawang, lalu dikukus. Nah, hasil kukusannya itu yang menentukan apakah singkongnya keras atau lunak (mempur). Kalo ternyata keras, setelah kita goreng hasilnya tetep keras. Tetapi kalo memang lunak, setelah digoreng hasilnya sangat enak seperti singkong keju yang banyak dijual sekarang. Berkat kemajuan teknologi pangan, yakni soda kue, kita sekarang bisa mendapatkan singkong goreng yang sangat empuk dari berbagai macam jenis singkong. Mau aslinya keras atau lunak semua bisa dibikin lunak dengan soda kue. Hilanglah sudah kemampuan sekaligus kenikmatan memilih singkong yang sekiranya lunak setelah selesai dikukus.

Kemajuan teknologi saat ini membuat kita berada pada posisi yang sangat nyaman. Kita bisa terhubung dimanapun, jika mengunjungi sebuah daerah baru kita dapat dengan mudah menemukan rute lewat GPS, smartphone memberikn segala kemudahan lewat kalkulator, memo, alarm, dsb; kendaraan memberikan kita kemudahan lewat berbagai macam sensor yang ada di dalamnya yang membuat kita lebih mudah, aman, dan nyaman dalam berkendara. Sekarang rasanya kita tidak dapat hidup tanpa teknologi, dunia kita rasanya ada yang kurang jika sehari-hari kita tidak bisa terhubung lewat line dengan teman-teman yang lain. Sama seperti Tony Stark yang membuat Ultron, tadinya supaya robot itu dapat membantu manusia, tetapi ternyata sebaliknya. Ultron ternyata membuat rencana jahat untuk memusnahkan umat manusia.

Saya ngga melihat kalo teknologi itu akan memusnahkan kita, tapi saya meilihat kalo teknologi itu yang akan mengatur hidup kita. Jika sudah seperti itu, akan ada sesuatu yang hilang dari diri kita yang hebat ini. Akal dan kemampuan sensing rasanya akan hilang, kita jadi manusia powerless. Itulah sebabnya mungkin saya masih rada jadul terhadap kemajuan teknologi. Saya masih senang menghitung itu dengan corat-coret di kertas, berusaha menyusun jadwal hari esok dan mengingat segala waktunya, mengeset smartphone dengan mode silent, mobil saya juga kendaraan yang biasa, tanpa sensor apa pun, dan saya menyenanginya. Saya tidak mau kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan itu hilang, saya ingin tetap menjaganya supaya saya tidak kehilangan kemampuan saya sebagai manusia.

 

Kamu adalah apa yang kamu katakan

youarewhat

“You are what you …” Mungkin ungkapan itu sudah seringkali didengar oleh kita. Kamu boleh mengisinya sesuka hati sesuai dengan yang kamu pengen. Tapi sekarang saya sedang ingin mengisinya dengan “you are what you say”,kamu itu ya apa yang kamu katakan tentang dirimu. Maka hati-hatilah dengan apa yang kamu katakan karena biasanya mengatakan sesuatu yang spontan bisa jadi memang itu yang diharapkan. Karena sekarang saya juga baru sadar belakangan ini bahwa saya pernah mengatakan sesuatu yang memang menentukan arah hidup saya sekarang dan yang akan datang. Seandainya saya mengatakan hal yang berbeda nampaknya saya hidup saya bisa jadi berbeda. Continue reading

Rezeki itu…

Pernah suatu waktu telepon saya berdering, saya masih ingat waktu itu saya sedang tidur, dan saya melihat bahwa nomor si penelepon tidak saya kenal, akan tetapi saya jawab saja teleponnya. Ternyata, yang menelepon adalah salah satu rekan saya di kampus. Beliau diberi tahu nomor handphone saya dari temannya, yang teman saya juga, namanya Budi. Singkat cerita saya ditawarin untuk menjadi instruktur pelatihan dan saya menerimanya. Namun, dua hari sebelum pelatihan berjalan saya ditelepon kembali bahwa pelatihannya dibatalkan karena sesuatu hal.. belom rezeki kali ya..

Suatu hari, saya bertemu Budi di kampus. Dia bertanya apakah saya sudah ditelepon oleh temannya itu. Dia mengatakan bahwa dia memberikan rekomendasi dua nomor, nomor yang pertama ditelepon tetapi ngga diangkat. Akhirnya diteleponlah saya, dan saya angkat. Ohh.. ternyata itulah asal muasalnya ada teman saya yang menelepon. Mungkin memang rezeki saya karena orang yang pertama tidak mengangkat telepon. Walaupun pelatihannya tidak jadi, paling tidak saya dapat kenalan baru.

Dua minggu yang lalu, saya bertemu teman saya yang dulu menawarkan pelatihan. Dia sedang butuh lagi orang untuk menjadi instruktur pelatihan design grafis di Bandung. Saya ditelepon Jumat dan sedang berada di Jogja saat itu tetapi saya iyakan saja dulu. Saya langsung menyiapkan bahan dan mencari asisten yang bisa membantu saya dalam pelatihan itu karena pelatihan akan dilaksanakan hari Selasa – Kamis. Pelatihan design grafis berjalan dengan lancar. Pada suatu ketika, salah seorang peserta mengeluh karena agak susah mengoperasikan tools yang dipakai, dan saya candain saja dia, “Mbak, kalo susah ngolah gambar sendiri, dilempar aja ke saya ordernya. Saya siap mengerjakan kok”. Ternyata dia menanggapi guyonan saya itu, dia berkata bahwa kalo saya berminat untuk ngerjain proyek-proyek design grafis saya harus punya CV dan mengajukan penawaran.

Akhirnya selepas pelatihan saya, saya kontak lagi mbaknya, yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Hari Senin yang lalu saya menanyakan prosedur beserta syarat untuk mengajukan diri sebagai vendor, dan Selasa saya ditelepon untuk melakukan presentasi di Jakarta dan membuat penawaran untuk sebuah pekerjaan design grafis. Akhirnya berangkatlah saya kemarin Rabu ke Jakarta untuk melakukan presentasi dan menyerahkan penawaran. Mudah-mudahan sih diterima..

Buat saya rezeki itu bisa datang darimana saja, dan kita ngga tau kapan rezeki itu datang, lewat siapa, dan bagaimana caranya. Rezeki itu, mau besar atau kecil, susah didapat atau mudah, wajib hukumnya untuk diterima. Kita ngga tau Tuhan akan memberi kita yang mana, tapi kita tahu bahwa kita harus menerimanya. Kalau menurut anda, rezeki itu… ?