Memaknai “Coco”

Mungkin sudah banyak yang menonton film Coco ini, film yang memang menyentuh tentang cinta dipadukan dengan budaya seputar menghormati orang yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa dalam setahun, orang Meksiko merayakan hari di mana mereka melakukan ritual penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ini sangat mirip dengan tradisi nyekar atau ziarah di Indonesia, atau sembahyang rebutan di Tiongkok.

Ada satu hal yang sebetulnya membuat saya jadi berpikir gara – gara menonton film ini : mengapa sih kita perlu menempatkan foto orang yang sudah meninggal saat kita sembahyang atau mendoakan mereka? dan itu dijawab di film Coco ini. Orang meninggal memang mempunyai alamnya sendiri ( seenggaknya itu yang digambarkan di film ini ), mereka hidup sama seperti kita di dunia yang fana ini. Namun, mereka juga bisa menghilang selama-lamanya atau mengalami final death. Mengapa itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena sudah tidak ada lagi yang mengingatnya. Roh akan terus hidup saat kita masih mengingatnya. Dan bagaimana cara mengingatnya? yakni dengan meletakkan fotonya di meja sembahyang atau di tempat khusus di mana kita sewaktu – waktu dapat mendoakan mereka. Setidaknya itulah yang digambarkan dalam film Coco, mengenai bagaimana foto mereka yang diletakkan di fronda merupakan tiket untuk datang kembali ke alam nyata.

Ingin menjadi terkenal? Berbagilah..

Dunia sekarang bukanlah lagi dunia walled garden, di mana kita adalah orang yang terkenal karena mempunyai kebun yang tertutup. Dengan dimulainya era internet, dunia sekarang adalah dunia yang berbagi. Jadi dulu, Einstein dikenal karena kejeniusannya. Tapi saya yakin itu untuk kalangan yang terbatas, karena waktu kecil pun saya ngga terlalu kenal dengan nama Albert Einstein. Ketika internet mulai muncul, Einstein menjadi sosok yang terkenal, padahal beliau sudah meninggal. Lalu apa yang membuatnya bisa terkenal? tidak lain dan tidak bukan karena banyak orang yang membagikan informasi tentang dirinya.

Kita bisa melihat di forum dunia maya, orang yang banyak mendapat reputasi biasanya adalah orang yang banyak membagikan konten apalagi secara gratis. Jadi sekarang ini, kalo saya jago di bidang digital enterpreneurship tapi saya ngga pernah membagikan ilmu saya kepada netizen maka saya tidak akan terkenal. Kebayang ya bentuknya? jadi orang sekarang terkenal karena banyak berbagi ilmu / konten yg bermanfaat. Walau kita bukan expert akan tetapi kalo kita sering membagikan ilmu dari hal yang kita pelajari, orang akan menganggap kita sebagai expert. Ketika kita semakin banyak berbagi, maka kita akan semakin terkenal.

Jadi kalo anda ingin terkenal, rumusnya mudah. Berbagilah..

Caranya bersikap

envy.jpg

Pernahkah kalian merasa iri dengan orang lain? Kalo saya pernah. Menurut saya, perasaan iri itu bisa dibagi menjadi dua hal, yakni positif dan negatif. Keduanya sebetulnya sama-sama masalah mental, tetapi berbeda dalam hal penanganan. Ketika saya melihat orang lain itu lebih sukses dari saya, maka yang saya lakukan biasanya mendekatinya, berdiskusi bagaimana caranya dia dapat meraih kesuksesan itu. Rezeki memang bukan kita yang atur, akan tetapi kita merasakan energi yang positif. Bisa jadi juga, teman kita itu yang nantinya buka jalan buat kita untuk mendapatkan rezeki sehingga kita sama-sama sukses. Continue reading

Singkong keju dan teknologi

singkong keju, gambar diambil dari sini

singkong keju, gambar diambil dari sini

Dahulu kala, paling ngga waktu zaman saya kecil. Makan singkong itu rasanya untung-untungan seperti main lotere. Prosesnya dimulai dari memilih singkong yang masih mentah. Singkong itu kita kupas, kemudian dipotong-potong, direndam dengan air garam+bawang, lalu dikukus. Nah, hasil kukusannya itu yang menentukan apakah singkongnya keras atau lunak (mempur). Kalo ternyata keras, setelah kita goreng hasilnya tetep keras. Tetapi kalo memang lunak, setelah digoreng hasilnya sangat enak seperti singkong keju yang banyak dijual sekarang. Berkat kemajuan teknologi pangan, yakni soda kue, kita sekarang bisa mendapatkan singkong goreng yang sangat empuk dari berbagai macam jenis singkong. Mau aslinya keras atau lunak semua bisa dibikin lunak dengan soda kue. Hilanglah sudah kemampuan sekaligus kenikmatan memilih singkong yang sekiranya lunak setelah selesai dikukus.

Kemajuan teknologi saat ini membuat kita berada pada posisi yang sangat nyaman. Kita bisa terhubung dimanapun, jika mengunjungi sebuah daerah baru kita dapat dengan mudah menemukan rute lewat GPS, smartphone memberikn segala kemudahan lewat kalkulator, memo, alarm, dsb; kendaraan memberikan kita kemudahan lewat berbagai macam sensor yang ada di dalamnya yang membuat kita lebih mudah, aman, dan nyaman dalam berkendara. Sekarang rasanya kita tidak dapat hidup tanpa teknologi, dunia kita rasanya ada yang kurang jika sehari-hari kita tidak bisa terhubung lewat line dengan teman-teman yang lain. Sama seperti Tony Stark yang membuat Ultron, tadinya supaya robot itu dapat membantu manusia, tetapi ternyata sebaliknya. Ultron ternyata membuat rencana jahat untuk memusnahkan umat manusia.

Saya ngga melihat kalo teknologi itu akan memusnahkan kita, tapi saya meilihat kalo teknologi itu yang akan mengatur hidup kita. Jika sudah seperti itu, akan ada sesuatu yang hilang dari diri kita yang hebat ini. Akal dan kemampuan sensing rasanya akan hilang, kita jadi manusia powerless. Itulah sebabnya mungkin saya masih rada jadul terhadap kemajuan teknologi. Saya masih senang menghitung itu dengan corat-coret di kertas, berusaha menyusun jadwal hari esok dan mengingat segala waktunya, mengeset smartphone dengan mode silent, mobil saya juga kendaraan yang biasa, tanpa sensor apa pun, dan saya menyenanginya. Saya tidak mau kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan itu hilang, saya ingin tetap menjaganya supaya saya tidak kehilangan kemampuan saya sebagai manusia.

 

Rezeki itu…

Pernah suatu waktu telepon saya berdering, saya masih ingat waktu itu saya sedang tidur, dan saya melihat bahwa nomor si penelepon tidak saya kenal, akan tetapi saya jawab saja teleponnya. Ternyata, yang menelepon adalah salah satu rekan saya di kampus. Beliau diberi tahu nomor handphone saya dari temannya, yang teman saya juga, namanya Budi. Singkat cerita saya ditawarin untuk menjadi instruktur pelatihan dan saya menerimanya. Namun, dua hari sebelum pelatihan berjalan saya ditelepon kembali bahwa pelatihannya dibatalkan karena sesuatu hal.. belom rezeki kali ya..

Suatu hari, saya bertemu Budi di kampus. Dia bertanya apakah saya sudah ditelepon oleh temannya itu. Dia mengatakan bahwa dia memberikan rekomendasi dua nomor, nomor yang pertama ditelepon tetapi ngga diangkat. Akhirnya diteleponlah saya, dan saya angkat. Ohh.. ternyata itulah asal muasalnya ada teman saya yang menelepon. Mungkin memang rezeki saya karena orang yang pertama tidak mengangkat telepon. Walaupun pelatihannya tidak jadi, paling tidak saya dapat kenalan baru.

Dua minggu yang lalu, saya bertemu teman saya yang dulu menawarkan pelatihan. Dia sedang butuh lagi orang untuk menjadi instruktur pelatihan design grafis di Bandung. Saya ditelepon Jumat dan sedang berada di Jogja saat itu tetapi saya iyakan saja dulu. Saya langsung menyiapkan bahan dan mencari asisten yang bisa membantu saya dalam pelatihan itu karena pelatihan akan dilaksanakan hari Selasa – Kamis. Pelatihan design grafis berjalan dengan lancar. Pada suatu ketika, salah seorang peserta mengeluh karena agak susah mengoperasikan tools yang dipakai, dan saya candain saja dia, “Mbak, kalo susah ngolah gambar sendiri, dilempar aja ke saya ordernya. Saya siap mengerjakan kok”. Ternyata dia menanggapi guyonan saya itu, dia berkata bahwa kalo saya berminat untuk ngerjain proyek-proyek design grafis saya harus punya CV dan mengajukan penawaran.

Akhirnya selepas pelatihan saya, saya kontak lagi mbaknya, yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Hari Senin yang lalu saya menanyakan prosedur beserta syarat untuk mengajukan diri sebagai vendor, dan Selasa saya ditelepon untuk melakukan presentasi di Jakarta dan membuat penawaran untuk sebuah pekerjaan design grafis. Akhirnya berangkatlah saya kemarin Rabu ke Jakarta untuk melakukan presentasi dan menyerahkan penawaran. Mudah-mudahan sih diterima..

Buat saya rezeki itu bisa datang darimana saja, dan kita ngga tau kapan rezeki itu datang, lewat siapa, dan bagaimana caranya. Rezeki itu, mau besar atau kecil, susah didapat atau mudah, wajib hukumnya untuk diterima. Kita ngga tau Tuhan akan memberi kita yang mana, tapi kita tahu bahwa kita harus menerimanya. Kalau menurut anda, rezeki itu… ?

 

Inaicta 2013

inaicta

Agustus yang lalu, tepatnya akhir Agustus, saya menerima surat elektronik dari panitia INAICTA 2013 bahwa karya saya masuk sebagai salah satu finalis ajang Lombak TIK di kategori Student Project. Wah, ngga nyangka juga bahwa karya saya dan teman-teman ternyata lolos sebagai salah satu finalis padahal saya baru kirim proposalnya itu pas hari terakhir pengiriman proposal. Berbekal informasi dari panitia akhirnya saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti sesi penjurian yakni presentasi dan sesi pameran.

Sesi penjurian ternyata berlangsung secara tertutup. Kita mempresentasikan karya kita di depan para dewan juri, dan nanti mereka akan bertanya seputar karya yang kita presentasikan. Sebetulnya agak berbeda dengan apa yang saya bayangkan bahwa saya akan presentasi langsung di depan banyak audiens..hihihi.. Pertanyaan yang mereka ajukan sih masih standar, dan bobotnya lebih ke arah nilai komersial dari aplikasi yang kita buat.

Banyak hal yang saya dapatkan dari event ini, satu hal yang terpenting adalah bahwa menjadi pemenang itu bukan jadi tujuan utama. Lalu apa yang jadi tujuan utama ikut event ini? tujuannya cuma satu kalo saya, yakni menjadi ajang untuk promosi diri dan membagikan kartu nama 🙂 kalo menang itu sih efek samping karena karya kita mungkin cocok bagi para juri karena ada juga teman yang karyanya bagus tetapi ngga menang, alasannya?? karena jurinya ngga butuh aplikasi yang dibikinnya (doh). Kalo emang harapannya jadi juara pasti bakal stress karena ngga menang, tapi kalo fokusnya untuk promosi ngga menang ya ngga jadi soal. Bisa masuk jadi finalis aja udah bersyukur..hehehe..

Gadget

Berapa gadget yang anda punya? kalo boleh saya tebak pasti lebih dari dua 😀 minimal itu Blackberry dan ponsel Android. Sisanya? bisa berupa tablet Android maupun Ipad. Gadget memang sudah mengubah gaya hidup dan perilaku kita. Saya masih ingat kalo 10 tahun yang lalu handphone saya yang Nokia 8250 itu masih cukup menterenglah buat dibawa, tapi sekarang rasanya terlihat lucu melihat orang masih menggunakan nada dering yang monofonik. Sekarang orang lebih bangga kalo kongkow sambil ngutak-atik smartphone atau tabletnya lalu cekikikan sendirian, walaupun buat saya hukumnya haram kalo kongkow masih sibuk dengan smartphone atau tablet. Kongkow itu artinya gadget is silent!

Saya melakukan survei kecil-kecilan sama temen-temen awam pengguna gadget ini, dan saya sampai pada kesimpulan kalo gadget itu biasanya dipake cuma buat sms, nelepon, nonton film, muter mp3, sama maen game. Buat baca aja ternyata jarang 😀 dan satu lagi yang paling keren, supaya muncul sebagai footer pada saat ngirim email atau pada saat update status di jejaring sosial! Selain itu ya buat gengsi, semakin bergengsi rasanya kalo gadgetnya itu up to date, walaupun ngga ngerasain apa bedanya processor dual core, quad core, ama octo core 😀 yang penting update status lancar, maen game, muter lagu, ama muter film masih lancar jaya. Continue reading