Apakah agama itu memiskinkan?

Di kaskus, beberapa hari yang lalu ada sebuah thread yang membahas mengenai Gereja yang memiskinkan, yang diangkat dari buku antologi Perzinahan di rumah Tuhan. Rasanya menggelitik, karena membahas mengenai persepuluhan. Saya jujur belum pernah membaca bukunya, jadi saya sangat tidak paham dengan apa yang ditulis dalam buku. Namun, saya ingin berbagai pandangan saya.

Persepuluhan, itu memang tertulis di alkitab. Salah satunya ada di sini. Namun, selama saya menjadi katholik, saya tidak merasa wajib memberikan persepuluhan. Tiap misa di hari Minggu atau hari besar katholik memang ada kolekte, tapi ya serelanya. Kalo di Kristen saya kurang tahu, tapi mungkin sama juga ada kolekte. Di masjid pun sebelum melaksanakan sholat Jumat ada kolekte. Kita hidup di dunia, di mana semua hal memang membutuhkan uang. Hasil kolekte dari umat katholik digunakan untuk membiayai pembangunan gereja, operasional gereja, serta para imam. Di agama lain juga saya rasa sama, semua kolekte / sumbangan pasti digunakan untuk perawatan masjid, kelenteng, operasional harian, dsb. Jadi menurut saya, selama kolekte itu sifatnya sukarela itu masih wajar.

Menurut saya kurang pas adalah ketika segala hal diartikan secara harafiah. Di alkitab sendiri tertulis perumpamaan mengenai janda miskin yang memberi dari kekurangannya sehingga banyak orang bertanya, “lalu, apakah kalo kita miskin hanya punya uang Rp 20.000,- harus kita serahkan semuanya? mau makan apa selanjutnya?” Dulu saya pun sempat berpikir seperti itu 🙂 Belakangan saya menyadari bahwa yang ditekankan itu adalah semangat untuk berbagi. Yesus memang mengambil contoh yang ekstrim, memberi dari kekurangan kita sendiri, namun bukan itu intinya. Rezeki itu datangnya dari Allah, lewat usaha kita, jadi sejatinya kita berbagi rezeki yang sudah kita dapatkan dari Allah.

Dan jikalau memang agama, khususnya dalam hal ini katholik dan disimbolkan gereja, memiskinkan kita. Mungkin kita perlu bertanya, “mengapa ketika kita memberi kita merasa bahagia?“, “mengapa masih ada orang yang mau menyumbang ke tempat – tempat ibadah?“, dan yang terakhir “mengapa ketika kita melihat orang kaya banyak menyumbang ke tempat ibadah mereka ngga pernah jatuh miskin namun tetap kaya bahkan bertambah kaya?“.