Bermain ke Jendela Alam

Masih malu-malu

Masih malu-malu

Hari Sabtu, 2 Juni 2016, yang lalu, Mawa mengajak Audi ke Jendela Alam bersama rombongan dari jejakecil. Awalnya Mawa tau jejakecil dari teman sekantornya, dan saya setuju Audi untuk ikut kegiatan outdoor, supaya mulai terbiasa bersosialisasi dengan rekan-rekan sebayanya dan orang lain. Pada pertemuan sebelumnya Audi masih malu-malu sekali, tapi pada saat yang ke jendela alam dia sudah mau berbaur dengan orang lain walaupun masih malu juga.

Jendela Alam lokasinya berada di dekat Sapulidi. Bisa masuk dari Kolonel Masturi, Sersan Bajuri, atau dari pertigaan Beatrix yang mau ke arah Lembang. Nah, di sana rupanya Audi berkelana memberi makan berbagai macam hewan. Ada sapi, domba, dan kambing ( hanya kata Mawa, pada saat kasih makan sapi tangannya Audi kena air liur sapi. Jadinya Audi ga mau lagi kasih makan hewan yang lain ).  Terakhir anak-anak diajak untuk memegang ular piton, saya heran juga ternyata Audi berani memegang ular piton dan mengelus-elusnya.. hehehe.. siiplah anak papa.. Continue reading

Advertisements

Kampung Cai, Rancaupas

rancaupas

Hari minggu lalu, saya, Mawa, dan Audi jalan-jalan ke Rancaupas. Sebetulnya saya agak malas karena harus berangkat pagi, tapi ya kalo ngga ada agenda ngapain juga ke Rancaupas? akhirnya saya putuskan untuk berangkat karena saya juga belum pernah ke sana. Kami berangkat pukul 06.30, perjalanan ditempuh sekitar 1.5 jam karena ternyata minggu pagi itu banyak sekali angkot jurusan Soreang berkeliaran sehingga menimbulkan kemacetan. Belum lagi pasar tumpah yang ada di Soreang juga agak menambah kemacetan. Arah ke Rancaupas cukup mudah ditemukan. Ambil saja arah Ciwidey, nah nanti kalo sudah ketemu tempat wisata Kawah Putih tinggal nyalakan lampu sein kanan karena letaknya 50m sebelah kanan dari Kawah Putih.

Harga tiket yang dipatok tidak terlalu mahal, yakni sekitar 10rb/orang, ditambah kendaraan 5rb/mobil. Tapi di dalem kita masih juga diminta bayar parkir 2rb ketika keluar. Seandainya lagi ngga bareng keluarga ngga mau bayar saya *evil* Area rancaupas ini sangatlah luas, kalo saya ndak salah baca ada sekitar 200 ha. Jadi jangan heran kalo banyak banget yang kemping di sini. Tapi siap-siap untuk bawa selimut tebal karena suhunya bisa sekitar 15′ kalo malem hari. Di Rancaupas juga banyak wahana seperti kolam renang, paintball, flying fox, dan satu yang menarik, yakni penangkaran rusa. Saya mengajak Mawa dan Audi ke penangkaran rusa untuk melihat rusa dan kijang lebih dekat 🙂

Rusa-rusa di sana ternyata sangat jinak dan sangat kelaparan. Terbukti ketika Audi menyodorkan Malkis roma ternyata rusa-rusa itu menyambutnya 😀 supaya Audi senang akhirnya saya membeli satu kantong wortel sisa-sisa yang dibungkus kresek seharga 5rb. Audi sangat senang memberikan wortel-wortel itu kepada rusa-rusa yang kelaparan..hahaha.. sampai akhirnya habislah seluruh wortelnya. Disana juga ada anak-anak dari Teknik Telekomunikasi Universitas Telkom makrab, tapi berhubung saya bukan dosen mereka dan ngga kenal anak-anaknya saya jadinya ngga mampir..hihihi…

Kami kembali ke Bandung sekitar pukul 10.00, dan mulai menikmati kemacetan yang muncul mulai dari Soreang hingga kopo Sayati..

Buka Bersama Oppinet

bukber-oppinet
Senin, 27 Juni 2015, saya ikutan buka bersama dengan rekan-rekan dari Oppinet ITB. Asyikk juga, karena ini tahun pertama saya buka puasa bersama Oppinet. Kemarin buka puasa dilaksanakan di hotel Scarlet dekat perempatan Dago, dimana yang makan di sana hanya kami saja..hihihi.. Buka puasa bersama kali ini menjadi tanda pelepasan juga bagi Issi, Riska, yang sudah bekerja, juga Isti yang akan melanjutkan studi di Jerman.

Semoga akan ada buka puasa bersama selanjutnya 🙂

Menikmati Paella di Soleluna

2015-05-23_1432375962

Jalan Sumatera di Bandung memang penuh dengan tempat makan enak 🙂 Salah satu yang saya dan Mawa kunjungi yakni Soleluna, tempat makan Spanyol yang cukup ramai pada malam itu. Desain Soleluna cukup menarik dan nyaman untuk ditempati. Kami memesan beberapa menu, yang sayang sekali semuanya dalam bahasa Spanyol dan tidak ada penjelasan, yakni Paella & Taco. Paella sebetulnya merupakan nasi (bukan nasi goreng) yang dimasak dalam sebuah piring raksasa dan datar, serta dilengkapi dengan berbagai macam bumbu. Paella di Soleluna terdiri dari berbagai macam ukuran, mulai untuk dua orang sampai 10 orang. Beberapa waktu kemudian akhirnya datanglah Taco & Paella kami. Continue reading

Menikmati Katjapiring

Beberapa waktu yang lalu, saya, Mawa, dan mami mencoba menikmati masakan di Katjapiring. Resto yang konon katanya memadukan masakan peranakan (keturunan Tionghoa) dan Melayu. Kalo saya bilang sih mirip masakan yang ada di Penang. Sebetulnya saya agak heran dengan restoran yang ada di Bandung ini, heran karena hampir semua menunya berbahasa Inggris, jarang yang berbahasa Indonesia. Masih mending kalo ada menu berbahasa Indonesia lalu diikuti bahasa Inggris, tapi di sini ternyata ngga ada sama sekali. Setelah melihat-lihat daftar menu cukup lama akhirnya kami memilih “fried noddle mamak style”, “mango chicken peranakan”, “butter prawn”, dan “oxtail soup”. Kalo dialihbahasakan menjadi Mie goreng gaya mamak, ayam mangga peranakan, udang goreng tepung, dan sup buntut sapi 🙂 Continue reading

Mencicipi lezatnya Omura Ramen

omuraramen

Hari Sabtu lalu, saya dan Mawa mencoba untuk menikmati ramen di kala hujan mengguyur kota Bandung dengan cukup deras. Padahal hari Sabtu itu pas lagi macet-macetnya di Bandung karena ada acara Bandung Lautan Onthel dan pawai Bandung Lautan Api. Tapi untungnya hujan, sehingga jalanan tidak terlalu macet karena acara-acara tersebut. Kalo hujan ya mana ada orang yang ngonthel, daripada sakit mending di rumah 😀 Continue reading

Parahnya jalan di kota Bandung

Bandung sudah sering hujan tiap hari, terhitung setelah lebaran lalu nampaknya. Hujannya sih tidak terlalu menjadi masalah, tetapi yang jadi masalah adalah semakin banyaknya jalan yang berlubang, sampah-sampah yang bertebaran yang membuat saluran air menjadi mampet, serta kemacetan yang tiada taranya 🙂 Jalanan yang berlubang nampaknya sudah menjadi trademark kota Bandung, bahkan ada anekdot kalo berkendara dari Surabaya ke Jakarta dan ingin tau sudah sampai mana cukup rasakan kondisi jalannya. Kalo jalannya beraspal tapi semi off-road karena harus menghindari banyak lubang berarti selamat, anda telah sampai di Bandung! Kota sejuta lubang 😀

Miris ya, tapi itu nyata. Sebuah ibukota propinsi tapi ternyata infrastruktur jalannya masih kalah dengan Banjar. Tapi nampaknya semua orang sudah maklum dengan kondisi yang seperti ini jadi ya santai-santai saja. Kemarin selepas dari IT Telkom saya pulang melewati Terusan Buah Batu, berhubung sudah mulai macet dari daerah pasar Gordon, akhirnya saya putuskan untuk belok masuk ke daerah perumahan Batu Nunggal yang rada elit. Jalanan memang tidak terlalu ramai, tapi ya itu banyak sekali polisi tidurnya, dan ketika sudah dekat dengan Alfarmart (atau Indomart?) saya melewati jalan yang sangat rusak parah. Hampir satu ruas jalan itu rusak semua dengan lubang yang menganga tapi tergenang air..ckckckck.. pikir perumahan orang kaya tapi tidak punya kesadaran untuk membantu memperbaiki jalan. Continue reading