Demo

Entah apa yang ada di dalam pikiran Audi di hari Senin lalu padahal di hari Minggu dia sudah puas bermain dari siang hingga malam bahkan sampai naik kereta Thomas and Friends yang ada di Lotte Festival Citylink. Di pagi hari tiba-tiba dia itu ngadat ngga mau sekolah *tepok jidat* entah karena masih ngantuk atau yang lain, tapi Mawa menduga kalo Audi ngga mau sekolah lantaran tas Robocar Polinya belum datang.

Akhirnya saya bujuk-bujuk supaya mau sekolah. Saya mandikan dan saya ganti pakaiannya. Nah, pada saat saya memakaikan ia seragam hari Senin tiba-tiba Audi ngadat lagi. Ia tidak mau memakai seragam merah untuk hari Senin, maunya pake seragam yang warna biru untuk hari Jumat! *tepok jidat lagi* Akhirnya saya tanya ke Audi, “Audi bener mau pake seragam warna biru? Ngga malu sama temen yang lain?” dan ia menjawab “Iya.” Ya sudah, kalo anaknya maunya gitu daripada ngga sekolah. Mawa menolak untuk ikut nganter ke sekolah karena malu, jadinya saya antar sendiri.

Sesampainya di sekolah saya gandeng Audi, dan ia itu dengan cueknya berjalan tanpa malu walau temen-temennya pada pake seragam warna merah dan ia berbeda sendiri.. kayaknya nurun dari papanya nih.. Untung ibu gurunya sabar dan ngga menegur mengapa Audi pake seragam warna biru. Ibu guru hanya bertanya kepada saya, dan saya menjelaskan kalo Audi sedang demo. Ibu guru hanya tertawa saja mendengarnya 🙂 saya juga sampaikan saya membawa baju seragam hari Senin apabila Audi ingin ganti.

ada – ada aja di hari Senin itu#

Advertisements

Menyambut mahasiswa baru

Hari ini merupakan hari yang spesial karena prodi S1 Sistem Komputer Universitas Telkom kembali menyambut mahasiswa baru. Di luar prediksi, jumlah mahasiswa baru yang datang ternyata melebihi kuota yang ada. Kelebihan mahasiswa kami sekitar 36 orang atau setara dengan 1 kelas. Saya tidak mengikuti keseluruhan acara penyambutan, saya hanya mengikuti sampai perkenalan dosen dikarenakan mata ini tidak bersahabat setelah semalaman menemani Audi yang rewel karena demam.

Selamat datang mahasiswa baru, semoga hari-hari kalian berjalan dengan menyenangkan..

Hari pertama sekolah

Senin, 17 Juli 2017, merupakan hari pertama Audi pergi ke sekolah yang baru. Yap, sekarang Audi bersekolah di kelompok bermain yang baru walau masih tetap juga ambil kelas kursus yang lama. Kemarin juga saya dan Mawa mulai mengantarkan anak kami ke sekolah untuk pertama kalinya, rencananya kami akan menemani Audi sekolah selama seminggu, takut kalo ditinggal nanti langsung nangis jerit-jerit.

Jadilah tiap hari selalu dimulai dengan pagi hari, di mana saya terpaksa bangun awal di pagi hari, mandi, dan mengantarkan Audi ke sekolah. Mawa juga sekarang tiap hari harus menyiapkan bekal karena ada acara untuk makan snak bersama. Ada kebahagiaan tersendiri bisa mengantar anak untuk pergi ke sekolah, melihat bagaimana mereka berkumpul dengan teman sebayanya dan belajar berinteraksi. Saya biasanya membiarkan dia sendiri untuk belajar bergaul dengan teman-temannya, kalo pun butuh ditemani saya meminta Mawa untuk menemani, soalnya kalo ada papanya biasanya dia merasa malas dan selalu memegangi tangan papanya 🙂

Saya berharap, mudah-mudahan waktu mengajar saya di plot siang hari di semester ini sehingga masih berkesempatan untuk mengantarkan Audi ke sekolah setiap hari..

Kebersamaan

IMG-20151107-WA0006

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman dosen mengikuti rapat pembahasan kurikulum 2016 di hotel Cipaku, Setiabudhi. Sebetulnya saya agak tidak terlalu berminat, karena malas diskusi dan berdebatnya 😀 diskusi untuk sesuatu yang belum nyata dan masih mengandalkan asumsi masing-masing. Kalo asumsinya dari awal udah beda, mau dipaksain ya ngga akan ketemu kan? hehehe… Continue reading

Dosen dan Proyek

Ilustrasi diambil dari sini

Ilustrasi diambil dari sini

Kalo baca-baca berita, pasti kita akan menemukan beberapa artikel tentang aktifitas dosen mengajar di beberapa universitas sekaligus[1], ‘mroyek’[2], atau menjadi konsultan, staf ahli, dkk. Banyak polemik yang terjadi karena ini. Tapi apakah memang proyek itu hanya memberi manfaat secara ekonomi bagi dosen, ataukah ada manfaat lain dalam konteks akademik?

Berbicara proyek, saya batasi bahwa proyek itu pekerjaan di luar aktifitas mengajar dan meneliti yang dilakukan oleh seorang dosen. Proyek juga merupakan bentuk pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan industri atau stakeholder. Saya batasi bahwa itu yang disebut dengan proyek, jadi pekerjaan di luar yang berhubungan dengan dunia industri / pemerintah. Proyek memang selalu dikaitkan dengan nilai ekonomis, saya juga maklum, karena saya juga suka menjalin kerjasama dengan industri. Saya merupakan dosen teknik, yang biasa berkecimpung di bidang IT. Kalo menurut saya, dosen itu memang harusnya punya proyek. Banyak sekali manfaat yang di dapat dari proyek selain hanya nilai ekonomis. Apakah itu? Continue reading

Membimbing Tugas Akhir

Membimbing tugas akhir merupakan salah satu tugas dari seorang dosen. Yap, di tingkat akhir mahasiswa/i biasanya memang diwajibkan membuat sebuah tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Kemampuan seorang mahasiswa memang diuji dalam pembuatan tugas akhirnya. Maksudnya, bisa saja ketika kuliah dia menyontek sehingga mendapatkan IP yang bagus, tetapi mengerjakan tugas akhirnya lama. Tugas akhir biasanya dikerjakan secara mandiri, makanya itu menjadi acuan kemampuan akhir seorang mahasiswa.

Nah, biasanya mahasiswa itu terbagi dalam dua bagian : yang rajin & malas. Bisa jadi mahasiswanya itu cerdas, tetapi karena banyak pekerjaan sambilan akhirnya tugas akhirnya menjadi terbengkalai, atau memang kurang kemampuan tetapi masih malas akhirnya ya ngga selesai juga. Kalo memang mendapatkan mahasiswa yang rajin itu sangat menyenangkan karena kita dapat berbagi ide dan meminta mereka untuk menerapkan teori yang kita ajukan. Lalu kalo mahasiswanya malas gimana dong? Nah, ini yang paling susah sebenarnya. Saya terkadang bingung juga dengan mahasiswa yang malas itu, sebetulnya apa sih yang mereka kerjakan sehingga tugas akhir itu sangat lama selesainya? Saya menduga sebenarnya antara judul & kemampuan mungkin tidak seimbang. Judulnya mungkin terlalu tinggi sementara mahasiswanya tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengerjakannya. Continue reading

Mensia-siakan kesempatan

Minggu ini merupakan minggu yang cukup sibuk karena saya harus menyelesaikan input nilai akhir untuk 4 matakuliah dengan 5 kelas. Banyak hasil akhir mahasiswa yang masih jauh dari standard, bahkan saya mengajar mata kuliah dasar tingkat satu yang notabene mudah masih banyak yang nilainya jelek. Kalo pembelaan senior saya, mahasiswa tingkat satu itu masih baru, masih belum bisa menyuarakan opini, menggunakan logika dengan baik, dan cenderung malas. yahh.. kalo matakuliahnya sekelas kalkulus sih saya masih maklum, tapi ini mata kuliah pengantar yang cukup mudah.. Akhirnya setelah berbincang dengan salah satu rekan dosen, disepakati bahwa kami akan memberikan remidial untuk mahasiswa tingkat satu yang nilainya jelek-jelek.

Saya pun membuat pengumuman bahwa akan diadakan remidi untuk kuliah yang saya ampu tersebut. Remidinya cukup mudah, hanya mengerjakan kembali soal UAS kemarin. Saya memberikan tenggang waktu 4 hari untuk menyelesaikannya. Yang menarik adalah, masih ada mahasiswa yang tidak mengumpulkan remidi sampai batas waktu yang ditentukan! padahal saya sudah memperlonggar metode pengumpulannya yakni bisa via email karena biasanya selepas ujian banyak yang sudah mudik ke kampung halaman. Saya masukkan saja nilai apa adanya, yang ikut remidi ya nilainya membaik tetapi yang tidak ya nilainya apa adanya. Saya sih tidak masalah kalo memang mahasiswa yang bersangkutan tidak ikut remidi karena mereka mungkin juga punya alasan tertentu untuk tidak ikut remidi, tetapi saya hanya kasihan pada mereka yang nilainya jelek tetapi malah mensia-siakan kesempatan remidi ini. Continue reading