Menyambut mahasiswa baru

Hari ini merupakan hari yang spesial karena prodi S1 Sistem Komputer Universitas Telkom kembali menyambut mahasiswa baru. Di luar prediksi, jumlah mahasiswa baru yang datang ternyata melebihi kuota yang ada. Kelebihan mahasiswa kami sekitar 36 orang atau setara dengan 1 kelas. Saya tidak mengikuti keseluruhan acara penyambutan, saya hanya mengikuti sampai perkenalan dosen dikarenakan mata ini tidak bersahabat setelah semalaman menemani Audi yang rewel karena demam.

Selamat datang mahasiswa baru, semoga hari-hari kalian berjalan dengan menyenangkan..

Advertisements

Hari pertama sekolah

Senin, 17 Juli 2017, merupakan hari pertama Audi pergi ke sekolah yang baru. Yap, sekarang Audi bersekolah di kelompok bermain yang baru walau masih tetap juga ambil kelas kursus yang lama. Kemarin juga saya dan Mawa mulai mengantarkan anak kami ke sekolah untuk pertama kalinya, rencananya kami akan menemani Audi sekolah selama seminggu, takut kalo ditinggal nanti langsung nangis jerit-jerit.

Jadilah tiap hari selalu dimulai dengan pagi hari, di mana saya terpaksa bangun awal di pagi hari, mandi, dan mengantarkan Audi ke sekolah. Mawa juga sekarang tiap hari harus menyiapkan bekal karena ada acara untuk makan snak bersama. Ada kebahagiaan tersendiri bisa mengantar anak untuk pergi ke sekolah, melihat bagaimana mereka berkumpul dengan teman sebayanya dan belajar berinteraksi. Saya biasanya membiarkan dia sendiri untuk belajar bergaul dengan teman-temannya, kalo pun butuh ditemani saya meminta Mawa untuk menemani, soalnya kalo ada papanya biasanya dia merasa malas dan selalu memegangi tangan papanya 🙂

Saya berharap, mudah-mudahan waktu mengajar saya di plot siang hari di semester ini sehingga masih berkesempatan untuk mengantarkan Audi ke sekolah setiap hari..

Kebersamaan

IMG-20151107-WA0006

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman dosen mengikuti rapat pembahasan kurikulum 2016 di hotel Cipaku, Setiabudhi. Sebetulnya saya agak tidak terlalu berminat, karena malas diskusi dan berdebatnya 😀 diskusi untuk sesuatu yang belum nyata dan masih mengandalkan asumsi masing-masing. Kalo asumsinya dari awal udah beda, mau dipaksain ya ngga akan ketemu kan? hehehe… Continue reading

Dosen dan Proyek

Ilustrasi diambil dari sini

Ilustrasi diambil dari sini

Kalo baca-baca berita, pasti kita akan menemukan beberapa artikel tentang aktifitas dosen mengajar di beberapa universitas sekaligus[1], ‘mroyek’[2], atau menjadi konsultan, staf ahli, dkk. Banyak polemik yang terjadi karena ini. Tapi apakah memang proyek itu hanya memberi manfaat secara ekonomi bagi dosen, ataukah ada manfaat lain dalam konteks akademik?

Berbicara proyek, saya batasi bahwa proyek itu pekerjaan di luar aktifitas mengajar dan meneliti yang dilakukan oleh seorang dosen. Proyek juga merupakan bentuk pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan industri atau stakeholder. Saya batasi bahwa itu yang disebut dengan proyek, jadi pekerjaan di luar yang berhubungan dengan dunia industri / pemerintah. Proyek memang selalu dikaitkan dengan nilai ekonomis, saya juga maklum, karena saya juga suka menjalin kerjasama dengan industri. Saya merupakan dosen teknik, yang biasa berkecimpung di bidang IT. Kalo menurut saya, dosen itu memang harusnya punya proyek. Banyak sekali manfaat yang di dapat dari proyek selain hanya nilai ekonomis. Apakah itu? Continue reading

Membimbing Tugas Akhir

Membimbing tugas akhir merupakan salah satu tugas dari seorang dosen. Yap, di tingkat akhir mahasiswa/i biasanya memang diwajibkan membuat sebuah tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Kemampuan seorang mahasiswa memang diuji dalam pembuatan tugas akhirnya. Maksudnya, bisa saja ketika kuliah dia menyontek sehingga mendapatkan IP yang bagus, tetapi mengerjakan tugas akhirnya lama. Tugas akhir biasanya dikerjakan secara mandiri, makanya itu menjadi acuan kemampuan akhir seorang mahasiswa.

Nah, biasanya mahasiswa itu terbagi dalam dua bagian : yang rajin & malas. Bisa jadi mahasiswanya itu cerdas, tetapi karena banyak pekerjaan sambilan akhirnya tugas akhirnya menjadi terbengkalai, atau memang kurang kemampuan tetapi masih malas akhirnya ya ngga selesai juga. Kalo memang mendapatkan mahasiswa yang rajin itu sangat menyenangkan karena kita dapat berbagi ide dan meminta mereka untuk menerapkan teori yang kita ajukan. Lalu kalo mahasiswanya malas gimana dong? Nah, ini yang paling susah sebenarnya. Saya terkadang bingung juga dengan mahasiswa yang malas itu, sebetulnya apa sih yang mereka kerjakan sehingga tugas akhir itu sangat lama selesainya? Saya menduga sebenarnya antara judul & kemampuan mungkin tidak seimbang. Judulnya mungkin terlalu tinggi sementara mahasiswanya tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengerjakannya. Continue reading

Mensia-siakan kesempatan

Minggu ini merupakan minggu yang cukup sibuk karena saya harus menyelesaikan input nilai akhir untuk 4 matakuliah dengan 5 kelas. Banyak hasil akhir mahasiswa yang masih jauh dari standard, bahkan saya mengajar mata kuliah dasar tingkat satu yang notabene mudah masih banyak yang nilainya jelek. Kalo pembelaan senior saya, mahasiswa tingkat satu itu masih baru, masih belum bisa menyuarakan opini, menggunakan logika dengan baik, dan cenderung malas. yahh.. kalo matakuliahnya sekelas kalkulus sih saya masih maklum, tapi ini mata kuliah pengantar yang cukup mudah.. Akhirnya setelah berbincang dengan salah satu rekan dosen, disepakati bahwa kami akan memberikan remidial untuk mahasiswa tingkat satu yang nilainya jelek-jelek.

Saya pun membuat pengumuman bahwa akan diadakan remidi untuk kuliah yang saya ampu tersebut. Remidinya cukup mudah, hanya mengerjakan kembali soal UAS kemarin. Saya memberikan tenggang waktu 4 hari untuk menyelesaikannya. Yang menarik adalah, masih ada mahasiswa yang tidak mengumpulkan remidi sampai batas waktu yang ditentukan! padahal saya sudah memperlonggar metode pengumpulannya yakni bisa via email karena biasanya selepas ujian banyak yang sudah mudik ke kampung halaman. Saya masukkan saja nilai apa adanya, yang ikut remidi ya nilainya membaik tetapi yang tidak ya nilainya apa adanya. Saya sih tidak masalah kalo memang mahasiswa yang bersangkutan tidak ikut remidi karena mereka mungkin juga punya alasan tertentu untuk tidak ikut remidi, tetapi saya hanya kasihan pada mereka yang nilainya jelek tetapi malah mensia-siakan kesempatan remidi ini. Continue reading

Menguji Sidang Tugas Akhir

Hari ini saya menguji sidang tugas akhir, setelah kemarin menguji 3 orang mahasiswa. Sebetulnya jadwal menguji itu seminggu, tapi saya memang minta dijadikan satu / dua hari full daripada tiap hari tapi hanya satu karena lebih menyita waktu. Ternyata menguji sidang tugas akhir berturut-turut itu memang melelahkan. Lelah kalo saya lebih dikarenakan saya harus mengganti topik penelitian sesuai mahasiswa yang akan melaksanakan sidang akhir. Seandainya topiknya linear atau masih berdekatan sih tidak terlalu menjadi masalah, akan tetapi kalo saya menguji tiga mahasiswa dengan tiga topik yang berbeda itu baru menjadi masalah. Saya harus meminta otak untuk berpikir ulang dan mengeluarkan berbagai macam pengetahuan mengenai topik terkait.

Kemarin saya harus menguji tugas akhir mahasiswa dengan topik pengolahan citra+JST, algoritma greedy, dan terakhir logika samar. Fiuhhh,,ternyata capek juga berganti topik tersebut. Padahal ya hanya menguji, menanyakan seputar teori dasar yang mereka gunakan untuk membuat tugas akhirnya, kegunaan, atau metode yang dipakai. Sebenarnya diuji itu tidak sama dengan dibantai 😀 tetapi memang terkadang ada dosen yang sangat tertarik dengan topik penelitian seorang mahasiswa sehingga banyak bertanya. Terkadang dosen juga bertanya bukan karena sudah mengerti, tetapi karena belum mengerti. Seperti saya pernah diberi tugas untuk menguji tugas akhir dengan topik telekomunikasi, femtocell, saya cukup banyak bertanya hal-hal dasar karena topik tersebut memang bukan bidang saya.

Idealnya sih tugas akhir memang diuji oleh dosen-dosen yang kompetensinya linear / beririsan dengan topik tugas akhir mahasiswanya, tapi kalo dosen yang memiliki kompetensi yang sama itu terbatas ya mau ngga mau dosen yang lain ikut menguji. Saya sih mengambil sisi positifnya saja, saya jadi belajar sedikit hal yang baru. Dari menguji saya tahu bagaimana kualitas tugas akhir mahasiswa, biasanya mahasiswa yang memang menguasai topiknya percaya diri dalam menjawab setiap pertanyaan. Jadi saya selalu berpesan terhadap mahasiswa mulailah belajar untuk menguasai kompetensi yang diinginkan sebelum mengambil tugas akhir sehingga tugas akhir akan berjalan dengan lancar dan mulus.