Kebersamaan

IMG-20151107-WA0006

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman dosen mengikuti rapat pembahasan kurikulum 2016 di hotel Cipaku, Setiabudhi. Sebetulnya saya agak tidak terlalu berminat, karena malas diskusi dan berdebatnya😀 diskusi untuk sesuatu yang belum nyata dan masih mengandalkan asumsi masing-masing. Kalo asumsinya dari awal udah beda, mau dipaksain ya ngga akan ketemu kan? hehehe…

Akhirnya saya putuskan untuk ikut walaupun izin karena saya harus mengajar dulu. Saya sampai di sana sore hari, menjelang maghrib lebih tepatnya. Dan saya baru ikut acara itu selepas makan malam. Saya sudah diplot satu kamar dengan teman saya, Doan. Tetapi ternyata si Doan ga jadi nginep, dan saya harus sendirian di kamar.. tau gini bawa anak sama istri neh.. Kita pasti pernah mengalami saat – saat bersama seseorang. Saat senang, sedih, sehat, atau sakit. Bisa seorang atau banyakan. Dan apa yang dirasakan saat kita harus mulai sendiri? rasanya sama kayak yang saya rasakan, sendirian di kamar hotel. Kalo biasanya saya tidur bertiga, bersesak-sesakan, di kamar, sekarang saya harus tidur sendiri. Kasurnya memang lega, tapi rasanya yaitu tadi, cuma sendiri.

Ternyata ada empat kondisi yang bikin kita itu suka galau dan menurunkan kecerdasan. Kalo dalam bahasa psikologi itu dikenal namanya HALT, yap! yakni Hungry, Angry, Loneliness, dan Tired. Kondisi itu yang konon bisa mempengaruhi psikis & kecerdasan kita. Seorang tentara biasanya ditekan pada kondisi HALT untuk mengambil keputusan dalam latihannya. Lalu apa hubungannya sama cerita saya? ya,,kalo mau ditarik sih.. saya mengalami apa yang namanya kesepian (loneliness), biasanya ada yang diajak bercanda, ada yang diajak ribut, ada yang diajak marah-marah, sekarang hanya sendiri.. alone in the dark. Kalo seperti itu terus, bisa-bisa saya berubah menjadi orang lain. Tapi untungnya cuma semalam🙂

Pesan cerita saya, hargailah kebersamaan, karena kesepian itu rasanya ndak enak. Saya setuju dengan ungkapan “makan ngga makan asal kumpul”. Karena seenak-enaknya makan steak di resto mewah tapi sendiri, masih lebih enak makan gorengan di pinggir jalan tapi rame-rame. Apa karena makanannya? bukan.. tapi karena ada kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s