Caranya bersikap

envy.jpg

Pernahkah kalian merasa iri dengan orang lain? Kalo saya pernah. Menurut saya, perasaan iri itu bisa dibagi menjadi dua hal, yakni positif dan negatif. Keduanya sebetulnya sama-sama masalah mental, tetapi berbeda dalam hal penanganan. Ketika saya melihat orang lain itu lebih sukses dari saya, maka yang saya lakukan biasanya mendekatinya, berdiskusi bagaimana caranya dia dapat meraih kesuksesan itu. Rezeki memang bukan kita yang atur, akan tetapi kita merasakan energi yang positif. Bisa jadi juga, teman kita itu yang nantinya buka jalan buat kita untuk mendapatkan rezeki sehingga kita sama-sama sukses. Continue reading

Don't Judge By It's Cover

Don’t judge by it’s cover”, mungkin sebuah pepatah lama yang selalu kita dengar. Bahwa janganlah kita melihat sesuatu selalu dari penampilan fisiknya, sesuatu yang keliatan tampk luar karena ibarat kedondong, belom tentu semua yang terlihat baik itu benar. Tapi bagaimana mungkin bisa mengenali kepribadian seseorang hanya pada saat pertama kali bertemu?? atau bukankah penampilan biasanya menggambarkan kepribadian seseorang?

Memang banyak yang bilang, bahwa kepribadian ditentukan oleh kesan pertama kali ketika bertemu sehingga kebanyakan dari kita mencoba untuk membentuk sesuatu yang sempurna saat pertama kali bertemu (misal : mencoba tampil serapi mungkin, sesopan mungkin, seelegan mungkin padahal di hari – hari biasa kita berpenampilan cuek ala rocker.. hihihi) oleh karena itu kesan pertama tidak selalu menggambarkan kepribadian seseorang. Tapi setidaknya, kesan pertama memang bisa sedikit memunculkan karakter seseorang, baik dalam bertutur maupun bertindak sehingga kita bisa mengetahui gambaran mengenai karakternya.

Lalu bagaimana mengenalinya?? kalo saya pribadi lebih suka menggunakan kata “sense”. Kata bang wikisense” merupakan metode psikologi dari persepsi. Sense itu mencakup penginderaan kita yaitu penglihatan, pengecap, perasa, pendengaran, dsb. Bagaimana menggunakan sense ini?? hmm,, sebuah sense menunjukkan kepekaan kita secara persepsi terhadap sebuah hal dan sense itu bisa dilatih. Misal seorang komposer yang biasa bergelut dengan beragam tangga nada dan not balok yang memusingkan, dia bisa menilai seorang penyanyi fals atau tidak hanya dengan mendengar atau dia bisa menulis ulang sebuah komposisi lagu hanya dari mendengarnya. Mengapa dia bisa melakukan itu?? itu semua disebabkan karena sense-nya sudah terlatih. Yup, sense memang bisa dilatih sehingga lebih peka kadang tidak harus dengan kasat mata tapi bisa dirasakan dengan hati. Continue reading