Backup media digital

Sekarang banyak hal serba digital, salah satunya adalah foto atau video. Kalo dulu kita mengenal album foto, kamera analog, dan roll film, sekarang mungkin hampir sangat sulit untuk dijumpai. Saya dulu mengalami yang namanya afdruk foto menggunakan petromaks di pinggir jalan 😀 Nah, berhubung sekarang itu sangat mudah untuk melakukan jeprat-jepret atau rekam-merekam maka yang paling pusing adalah bagaimana menyimpannya. Masih mending kalo mungkin foto itu cuma berguna dalam waktu yang ngga lama, tapi gimana nih kalo ternyata itu foto anak kita misalnya, yang sekarang masih bayi dan baru bisa menikmati fotonya mungkin 12 tahun lagi.

Tadinya saya mau backup lewat dropbox, tapi ternyata kalo gratis hanya dapat jatah 2GB akhirnya pilihan jatuh ke google drive yang mau memberikan ruang sebesar 15GB. Kalo kurang ya nanti bikin email yang baru 😀

Advertisements

Mewaspadai tenaga pemasaran kartu kredit

Pada saat akan mengaktifasi kartu kredit, biasanya kita akan diminta untuk mengisi formulir. Nah, ada satu bagian yang harus selalu diperhatikan apabila kita hendak mengaktifasi kartu kredit kita, yakni bagian privasi data. Biasanya ada dua kolom mengenai privasi, yang pertama adalah mengenai kesediaan kita untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk yang bekerja sama dengan bank, dan yang kedua yang paling penting apakah kita bersedia untuk membagikan data kita kepada pihak lain ( misalnya mungkin bank lain ).

Dua poin privasi itu yang menentukan bagaimana hidup kita ke depannya 🙂 Pada saat saya mengisi formulir aktifasi, di bagian privasi itu saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi tentang produk yang bekerja sama dengan bank, dan sampai sekarang saya tidak pernah mendapat telepon dari bank lain mengenai penawaran kartu kredit. Jadi apabila anda sering mendapatkan telepon penawaran kartu kredit dari bank lain, mungkin tanpa sengaja anda pernah menyetujui poin kesediaan membagikan data anda kepada pihak yang lain. Jadi buat yang akan mengaktifkan kartu kredit, harap dicermati formulir aktifasinya.

Tapi walaupun saya hanya bersedia untuk mendapatkan informasi mengenai produk yang bekerja sama dengan bank, bukan berarti tidak pernah ada penawaran. Banyak juga penawaran yang kadang datang via telepon, nah, pada saat anda menerima penawaran produk via telepon dari tenaga pemasaran, saran saya jangan terburu-buru untuk menjawab iya! biasanya tenaga pemasaran itu ngomongnya nyerocos bin cepet banget, seolah ga memberi kesempatan bagi kita untuk mencerna informasi yang diberikan. Tiba-tiba saja dia berkata, “apakah bapak bersedia kalo untuk ikut serta … nanti saya bantu aktifasinya.” Apabila kita tanpa sadar berkata, “ya“. Selanjutnya ya sudah bisa ditebak, akan sulit untuk membatalkannya.

Seandainya anda memang agak tertarik dengan produknya, silakan didengarkan dan minta tenaga marketingnya untuk menjelaskan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi kalo anda memang tidak tertarik dengan produknya, saya sarankan untuk langsung menolaknya dengan halus supaya tidak membuang waktu untuk mendengarkan tawaran dari tenaga pemasaran.

 

Menjadi sederhana…

Di zaman sekarang, salah satu hal yang susah untuk dilakukan mungkin menjadi sederhana. Kalo anda gemar mengecek media sosial, maka yang ditampilkan adalah foto-foto sedang di mana, makan apa, dengan siapa, naik mobil apa, dkk. Punya hape baru, posting hapenya di laman media sosial, makan di tempat makan posting fotonya di media sosial, foto di depan lamborghini punya orang lalu posting di media sosial, dkk, yang rasanya akan menjadi daftar yang sangat banyak untuk disebutkan.

Apakah salah? hehehe.. ya ngga juga sih, orang memang ngga akan tahu kalo kita sendiri tidak bercerita. Tapi selalu ada batasan yang sangat tipis antara bercerita dan pamer. Ketika kita memamerkan sesuatu, biasanya orang akan kagum pada kita, lebih menghormati kita, dan sebagainya. Kita akan mulai merasa level kita lebih tinggi, akibatnya kita harus senantiasa menjaganya. Pada saat kita posting, misalnya minum kopi di Setarbak, maka teman-teman kita akan berkomentar. Nah, mulailah kita merasa bahwa level kita akan naik, lalu kita merasa malu untuk mencicipi kopi kapal api atau sekedar nongkrong di warung kopi biasa. Apabila itu terjadi terus-menerus, maka kita akan disandera oleh gaya hidup kita. Itulah yang berbahaya. Kalo kita mampu mencukupi gaya hidup kita dengan cara yang halal sih ngga papa, tapi kalo ngga?

Solusinya sebenarnya sangat mudah, jadilah sederhana. Sederhana bukan dalam artian bahwa kita itu ngga punya apa-apa, sederhana itu bahwa kita mampu menahan keinginan / hawa nafsu untuk hal yang sekiranya tidak terlalu penting. Sederhana itu lebih kepada pandangan bahwa apabila kita sudah nyaman dengan apa yang kita miliki dan lakukan ya udah, ngga peduli apa kata orang. Kalo kita merasa motor kita yang butut masih mampu untuk mengantar kita keliling kota sehari-hari ya gpp untuk dipakai, tanpa harus merasa tersaingi atau iri dengan kawan-kawan yang sudah memakai yamaha nmax misalnya. Pada saat kita sudah sampai pada taraf seperti itu, hidup kita akan damai, tenang, dan apa adanya. Memang, mungkin banyak orang akan meragukan kita. Tapi, bukankah yang paling penting itu adalah pribadi kita, bukan dari yang kita kenakan?

 

Menikmati lezatnya seafood Asui di Bangka

Salah satu destinasi kuliner seafood yang sohor di kota Pangkalpinang adalah RM. Asui yang terkenal dengan masakan lautnya. Kalo menu andalannya sih ikan tengiri bakar, tapi menurut saya masih banyak pilihan yang lain. RM. Asui ini sudah ada di peta google jadi kita tidak akan repot mencarinya, dan RM. Asui ini berdekatan dengan destinasi kuliner yang lain, yakni bakmi Akau dan otak-otak Ase ( terletak di jalan yang sama ).

Saya dan keluarga datang pada waktu malam tahun baru, kira-kira pukul 20.30, yang mana ternyata masih rame penuh sodara-sodara! Mungkin kalo sudah hari biasa seperti sekarang tidak akan terlalu penuh. Harga yang dipatok di sini untuk masakan lautnya mulai Rp 40.000-an. Agak mahal mungkin ya? tapi sebanding kok dengan cita rasanya. Bahan yang segar dipadu dengan bumbu menjadi sajian yang sangat nikmat. Kalo yang sering makan di Jakarta, di resto-resto seafodd terkenal, atau yang sering menikmati ikan di daerah timur Indonesia, mungkin rasanya terkesan biasa aja. Tapi jika anda membandingkan dengan RM sejenis yang ada di sekitaran pantai, misalnya Pangandaran, maka Asui ini juaranya. Continue reading

Terima Rapor

Hari Rabu, 14 Desember 2016, Audi menerima rapor pertamanya 🙂 Kebanyakan nilainya “cukup”.. hehehe.. tapi saya maklum soalnya dia memang masih dalam tahapan belajar. Ketika usianya sudah genap 2 tahun, dua bulan kemudian saya dan Mawa mendaftarkan Audi ke kelompok bermain di dekat rumah. Bukan tanpa alasan sebetulnya, jadi rumah kami itu bukan di daerah kompleks perumahan sehingga sangat susah menemukan anak yang sebaya dengan dia sebagai teman bermain. Disamping itu, kami pengen Audi belajar bersosialisasi dan lebih terangsang untuk berbicara karena banyak temennya.

Enam bulan sudah berjalan dengan lancar, dan banyak sekali perubahan yang terlihat dari Audi. Mungkin Audi ngga akan jadi kayak sekarang kalo dulu ngga disekolahin. Sekarang dia lebih mampu menunjukkan emosi, lebih cerewet, mau curhat, dan lebih aktif. Di sekolah memang dia belum terlalu banyak ngomong karena dia adalah siswi paling kecil, yang lain umurnya udah 3 tahunan, tapi saya yakin dia belajar lewat mengamati. Hanya satu yang masih belum hilang, yakni rasa malunya apabila bertemu dengan orang lain.

Mudah-mudahan semester depan lebih ceria lagi ya, nak..

Motor Baru

14445945_10210919876301343_4628477290112957282_n

Setelah ngidam cukup lama, akhirnya saya nekadkan buat beli motor baru. Biasanya saya pake motor Supra Fit S yang saya beli waktu saya kuliah sembari kerja dulu. Setelah 9 tahun menemani, akhirnya saya bosan. Saya ingin ganti motor cowok, tetapi masih bingung mau beli apa. Mawa awalnya menyarankan ganti yang baru, seperti Ninja, tetapi saya orangnya ngga seneng ngebut. Lalu saya juga ngobrol dengan salah satu kawan, dia bercerita kalo dulu di tahun 2011 dia beli motor Megapro gress. Setelah 5 tahun dia bosan dan ingin ganti, dia beli motornya sekitar 20 jutaan dan ternyata ditawar hanya 8 juta! Nyesek minta ampun..

Kemudian ada yang jual DKW Union 1955 dengan harga 25 jutaan, akhirnya saya beli satu. Pertimbangan saya sederhana, kalo saya bosan masih bisa dijual lagi dengan harga yang sama seperti saya beli. Okelah, jadinya saya beli. Datang juga motor saya dari Jogja, dan ternyata masih banyak yang harus diperbaiki lagi. Jadi beginilah rasanya punya motor tua 😀