Family Gathering Kampus

Akhirnya terselenggara juga rekreasi bersama di fakultas tahun 2018 ini. Tahun ini acara rekreasi dilakukan secara desentralisasi yang artinya dikelola sendiri oleh fakultas atau unit kerja masing-masing. Dua tahun lalu acaranya cukup menyenangkan, kami ke Jungleland dan Taman Mekarsari. Untuk tahun ini cukuplah berpuas diri di Floating Market, Lembang. Fakultas Informatika konon kabarnya ke Dusun Bambu, Fakultas Rekayasa Industri kabarnya ke Trans Studio Bandung. Continue reading

Memaknai “Coco”

Mungkin sudah banyak yang menonton film Coco ini, film yang memang menyentuh tentang cinta dipadukan dengan budaya seputar menghormati orang yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa dalam setahun, orang Meksiko merayakan hari di mana mereka melakukan ritual penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ini sangat mirip dengan tradisi nyekar atau ziarah di Indonesia, atau sembahyang rebutan di Tiongkok.

Ada satu hal yang sebetulnya membuat saya jadi berpikir gara – gara menonton film ini : mengapa sih kita perlu menempatkan foto orang yang sudah meninggal saat kita sembahyang atau mendoakan mereka? dan itu dijawab di film Coco ini. Orang meninggal memang mempunyai alamnya sendiri ( seenggaknya itu yang digambarkan di film ini ), mereka hidup sama seperti kita di dunia yang fana ini. Namun, mereka juga bisa menghilang selama-lamanya atau mengalami final death. Mengapa itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena sudah tidak ada lagi yang mengingatnya. Roh akan terus hidup saat kita masih mengingatnya. Dan bagaimana cara mengingatnya? yakni dengan meletakkan fotonya di meja sembahyang atau di tempat khusus di mana kita sewaktu – waktu dapat mendoakan mereka. Setidaknya itulah yang digambarkan dalam film Coco, mengenai bagaimana foto mereka yang diletakkan di fronda merupakan tiket untuk datang kembali ke alam nyata.

Audi sakit

Kemarin sore saat di gereja tiba-tiba Audi badannya panas, dan makin lama makin tinggi suhunya. Ketika saat di rumah, saya belikan bubur ayam Virya yang menurut saya enak banget rasanya dibanding yang lain, Capitol sekalipun, namun ternyata dimuntahin. Saya merasa bersalah karena ngga ngasih makan Audi nasi dari pagi. Sebetulnya siangnya kami kondangan ke Pusdai, tapi saya lupa memberi Audi nasi, saya malah cuma ngasih es krim dan sosis.

Tadi pagi Audi merasa sehat dan akhirnya sekolah, saya sudah jalan pelan-pelan dan memberi tahu ke ibu gurunya kalo Audi sedang sakit jadi mohon izin pake jaket selama kegiatan sekolah berlangsung. Ternyata Audi di sekolah muntah-muntah, dan waktu pulang ke rumah juga muntah tiap kali makan sampai saya pulang tadi sore. Sudah minum obat sih, sekarang sudah tidur, mudah-mudahan besok Audi sudah sehat kembali. Amin.

Sekolah lagi

Sebetulnya belum terbersit dalam pemikiran saya setahun kemarin untuk melanjutkan sekolah pada tahun ini. Alasannya sebetulnya klasik : saya belum siap, dan belum masuk giliran untuk sekolah di tahun ini padahal rekan saya seangkatan pada waktu menjadi dosen sudah sekolah di tahun yang lalu. Akhirnya, karena dikomporin oleh sahabat saya, om Purba Daru Kusuma, akhirnya saya membulatkan niat untuk sekolah di Agustus nanti. Satu hal yang agak membebani saya sebetulnya giliran itu, saya diberitahu oleh dosen senior saya bahwa kalo belum masuk giliran ngga boleh sekolah duluan. Om Daru akhirnya mengajak untuk bertemu rektor, dari diskusi dengan rektor beliau berkata pokoknya kalo keterima pasti berangkat, lha yang sudah dijadwalkan aja belum tentu berangkat kalo ngga keterima.

Dari modal perkataan beliau akhirnya saya langsung mengejar waktu untuk mencari promotor dan topik penelitian. Saya ingat waktu itu saya hanya punya waktu sekitar 2 mingguan untuk melakukan pendaftaran. Tapi ya mungkin semuanya memang sudah jalannya, sebelumnya saya dan om Daru membuat dua buah proposal rencana bisnis. Beliau membuat rencana bisnis di bidang pendidikan dan saya di bidang logistik. Akhirnya saya gunakan ide yang muncul di rencana bisnis sebagai ide untuk penelitian. Satu poin terselesaikan, yakni ide penelitian. Selanjutnya mencari promotor yang sesuai dengan bidangnya. Ada beberapa kandidat promotor yakni Prof. Armein, Prof. Suhono, dan pak Rinaldi Munir. Prof. Armein Langi sayangnya masih belum bisa membimbing karena masih menjadi rektor di Universitas Kristen Maranatha. Saya mencoba mengontak pak Rinaldi Munir, namun ternyata topik penelitian saya itu ngga selaras dengan kompetensi beliau sehingga beliau menolak. Masih ada satu nama terakhir yang menjadi pilihan saya, yakni Prof. Suhono Harso Supangkat. Kalo dengar cerita dari teman-teman, katanya susah kalo mau menemui pak Suhono karena orangnya sangat sibuk sehingga lulusnya lama, tapi proyeknya banyak juga 😀 Continue reading

Lebaran 2018

Ada yang berbeda di lebaran tahun 2018 ini. Apa coba? Tahun ini saya dan keluarga menghabiskan waktu lebaran di Bandung. Sebetulnya pada hari H-4 lebaran saya sudah mudik ke Jakarta, menikmati Jakarta yang tidak terlalu ramai. Mawa mengajak kami untuk pergi ke Dunia Fantasi, Ancol dikarenakan ngga jadi ke Disneyland, Hongkong. Salah satu alasan mengapa saya ngga mau pergi ke Disneyland adalah karena Mawa sendiri saat ini sedang hamil, saya takut dia kelelahan dan akhirnya malah ngga jadi menikmati liburan. Jadinya saya meminta dia untuk sedikit bersabar, dan sebagai gantinya kita ke Dunia Fantasi.

Kami menginap di Putri Duyung Ancol selama 2 malam, puas banget rasanya.. hehehe.. Ngga sengaja saya browsing di Trav***ka dan mendapatkan promo di hotel Putri Duyung dengan harga Rp 1.361.771/2 malam lengkap dengan breakfast. Memang sih kami mendapatkan cluster Pari – Pari, yang merupakan cluster unique, padahal saya memesan Superior, dan kami mendapat bangunan lama, tapi garasinya sangat luas muat dua mobil dan dekat dengan taman bermain. Pada saat checkout saya ditawarin untuk memperpanjang menginap tapi harganya udah kembali ke harga normal sebesar Rp 1,9jt/malam. Wah, lebih baik saya mundur teratur deh..hehehe.. Oya, saya sempat bertanya cluster mana aja yang bangunannya baru dan dijawab yang baru cuma Deluxe dan Superior. Jadi, kalo mau nginep (mungkin) lebih baik di cluster yang itu aja. Continue reading

Demo

Entah apa yang ada di dalam pikiran Audi di hari Senin lalu padahal di hari Minggu dia sudah puas bermain dari siang hingga malam bahkan sampai naik kereta Thomas and Friends yang ada di Lotte Festival Citylink. Di pagi hari tiba-tiba dia itu ngadat ngga mau sekolah *tepok jidat* entah karena masih ngantuk atau yang lain, tapi Mawa menduga kalo Audi ngga mau sekolah lantaran tas Robocar Polinya belum datang.

Akhirnya saya bujuk-bujuk supaya mau sekolah. Saya mandikan dan saya ganti pakaiannya. Nah, pada saat saya memakaikan ia seragam hari Senin tiba-tiba Audi ngadat lagi. Ia tidak mau memakai seragam merah untuk hari Senin, maunya pake seragam yang warna biru untuk hari Jumat! *tepok jidat lagi* Akhirnya saya tanya ke Audi, “Audi bener mau pake seragam warna biru? Ngga malu sama temen yang lain?” dan ia menjawab “Iya.” Ya sudah, kalo anaknya maunya gitu daripada ngga sekolah. Mawa menolak untuk ikut nganter ke sekolah karena malu, jadinya saya antar sendiri.

Sesampainya di sekolah saya gandeng Audi, dan ia itu dengan cueknya berjalan tanpa malu walau temen-temennya pada pake seragam warna merah dan ia berbeda sendiri.. kayaknya nurun dari papanya nih.. Untung ibu gurunya sabar dan ngga menegur mengapa Audi pake seragam warna biru. Ibu guru hanya bertanya kepada saya, dan saya menjelaskan kalo Audi sedang demo. Ibu guru hanya tertawa saja mendengarnya 🙂 saya juga sampaikan saya membawa baju seragam hari Senin apabila Audi ingin ganti.

ada – ada aja di hari Senin itu#

Menikmati masakan timur tengah di Qahwa

Qahwa[1]

Qahwa itu sebetulnya adalah bahasa Arab dari kopi, tapi entah kenapa di Bandung, tepatnya di Jalan Progo, itu menjadi nama resto yang menyajikan masakan Timur Tengah. Tadi siang saya tiba-tiba ditelpon oleh pak Miftadi, VP Higher Education Planning YPT, dan diajak untuk makan siang. Saya sih setuju aja, kita katanya akan makan nasi bakar di daerah Progo, tapi ternyata malah berhenti dan parkir di depan Qahwa ini 🙂 Continue reading