MBL Menari

Pada hari Sabtu, 15 Februari 2020 kemarin Audi diminta untuk memeriahkan acara MBL Menari yang ada di Paskal 23. Padahal hari Jumat sebelumnya Audi ada latihan balet dan sempat demam sore harinya. Oleh Mawa, Audi diberi parasetamol dan akhirnya sembuh.

Paginya sebelum pentas Audi sempat anget lagi, kami langsung memberinya paracetamol dan memintanya untuk tidur. Di siang hari, ketika demamnya udah menurun kami menanyakan apakah Audi mau ikut pentas? dan ia menjawab ‘mau’. Ya sudah akhirnya kami menyiapkan semuanya. Audi dijadwalkan untuk pentas jam 15.30 bersama teman – teman yang tergabung dalam marching band.

Hujan deras mengguyur Bandung dengan lebatnya saat saya dan Mawa akan mengantar Audi ke Paskal23. Saya bersikeras untuk berangkat pada saat hujan deras dikarenakan biasanya sangat sedikit kendaraan yang melintas di jalan. Namun saya salah, karena baru berjalan sekitar 500m ternyata hujan sudah mulai reda.. huhuhu.. dan jalan Kebonjati mulai macet. Paskal23 itu memang sangat ramai di weekend, sebetulnya saya juga ngga ngerti apa yang dicari oleh para pengunjung. Namun, Paskal23 itu memang lokasinya di tengah kota sih. Bagi orang – orang seperti saya yang merasa PVJ atau TSM itu terlalu jauh, maka Paskal 23 ini jadi pilihan untuk bersantai.

Continue reading

Kebijakan kantong plastik yang “nanggung”

Gerakan bebas sampah plastik saat ini menjadi gerakan yang “hype”, banyak sekali pendukungnya, apalagi pertokoan dan mall. Contohnya di Alfamart atau Indomaret, saya harus membayar Rp 200,- untuk membeli kantong plastik. Di Matahari department store saya harus membayar Rp 500,- untuk membeli kantong plastik. Tadi saat membeli sepatu di Payless, saya ditawari untuk membayar Rp 500,- apabila ingin menggunakan kantong plastik.

Kalo saya hanya perlu membayar Rp 200,- sampai Rp 500,- hanya untuk menebus kantong plastik, mana mendidik gerakan bebas kantong plastik yang digembor – gemborkan itu? Isu itu akhirnya hanya dipakai untuk menjual kantong plastik, padahal biasanya juga gratis. Kalau memang benar mau mendidik, pilihannya hanya ada dua : hilangkan 100% kantong plastik, atau jual tote bag walau harganya cukup mahal. Jika tidak, maka hanya masyarakat yang jadi korban karena harus membayar kantong plastik yang tadinya gratis.

Untuk masyarakat Indonesia, tidak memberi pilihan sama sekali adalah pilihan terbaik. Contohnya itu implementasi e-money pada gerbang tol. Ketika masyarakat tidak punya pilihan selain menggunakan e-money untuk masuk gerbang tol, pada akhirnya masyarakat akan menggunakan e-money. Apabila alfamart, indomaret, matahari department store, maupun pusat perbelanjaan yang lain tidak menyediakan kantong plastik sama sekali maka masyarakat dengan sendirinya akan sadar untuk membawa tas belanja, keranjang, atau karung.