In Memoriam Gilbert Marcostrang

Masih teringat di tahun 2018, pada bulan November, tanggal 25, hari Minggu. Hari di mana saya, Mawa, Audi, dan adik bayi yang masih di dalam kandungan pergi ke Festival City Link untuk menonton Ralph 2 : Breaks the Internet 🙂 Satu hari kemudian, saat subuh, Mawa mengeluh merasakan kontraksi. Dikarenakan memang sudah sekitar 39 minggu, akhirnya saya membawa Mawa ke RS Borromeus dan masuk ke IGD persalinan. Beruntung waktu itu ada Utin, temen koor di Harmoni, sedang bertugas dini hari itu sehingga kami langsung dibantu oleh Utin untuk menyiapkan kelahiran apabila ternyata subuh itu bayi yang kami nanti-nantikan lahir ke dunia.

Sampai sekitar jam 09.00 masih belum ada tanda – tanda kontraksi lanjutan. Utin menelepon dr. Maximus untuk memastikan apakah Mawa perlu kontrol lanjutan atau ngga, dan dijawab oleh dokternya perlu. Langsung saat itu Mawa dibuatkan surat rujukan ke dokter Maximus, dan seperti biasa: Mawa harus diinduksi dikarenakan air ketuban sudah mulai merembes.

Tanggal 26 November 2019, siang hari itu langit menjatuhkan banyak tetesan air. Sembari menunggu Mawa yang sedang diinduksi, saya menelepon ke ayah mertua, yang saat itu ternyata sedang berada di Pangandaran. Ayah mertua berkata akan langsung pulang ke Bandung saat itu juga, seolah – olah berkata bahwa adik bayi itu ngga akan lahir sebelum engkongnya itu datang. Saya juga mengabari mama saya, namun saya sampaikan nanti saja ke Bandungnya kalo sudah lahiran supaya saya juga sudah lebih tenang.

26 November 2019, pukul 21.00, Mawa mulai mengeluh karena sakit yang amat sangat akibat diinduksi. Sekitar pukul 21.30 ayah mertua sampai ke Borromeus, menengok Mawa yang sedang kesakitan, dan ternyata memang ngga lama kemudian, sekitar pukul 22.10 lahirlah anak kedua kami, laki – laki, yang kami beri nama Gilbert Marcostrang. Kegembiraan membuncah karena kelahiran seorang bayi laki – laki, lengkap rasanya keluarga kami saat itu.

Hanya saja, Gilbert ternyata tidak bisa langsung pulang setelah 3 hari. Dia masih harus tetap tinggal di NICU dikarenakan ada pneumonia dan berwarna kuning (bilirubin-nya tinggi). Aneh rasanya ketika kami pulang ke rumah dan mendapati si kecil Gilbert masih harus ditinggal sendiri di RS. Rasanya ada yang kurang.. Sepanjang persalinan saya menemani Mawa saat siang hari, dikarenakan Audi sudah sekolah saya jadi menemani Audi waktu malam. Di hari Selasa, satu hari setelah melahirkan, Audi saya antar pulang setelah muntah di RS. Nampaknya Audi masuk angin, selepasnya juga ia masih muntah. Akhirnya ketika jam 01.00 dinihari Audi tiba – tiba muntah lagi, saya ajak ia ke apotek Kimia Farma untuk mencari obat karena ngga mungkin saya tinggal sendirian di rumah. Jadilah kami berdua mencari obat dini hari untuk Audi naik mobil, pasca minum obat tidurlah Audi di sisa waktu tidurnya.

Tanggal 2 Desember 2019, akhirnya Gilbert dinyatakan sehat dan boleh dibawa pulang. Akhirnya.. kami serasa hidup kembali, dipan besi yang dulu dipakai Audi kembali saya pasang, saya tambahkan alas untuk tidur Gilbert. Mawa pun mengambil keputusan fenomenal dalam sejarah hidupnya, mau mengurangi aktifitasnya untuk mulai mengasuh Gilbert! Jadilah kami mulai menikmati masa – masa menjadi orang tua baru : menggantikan popok, menimang, memandikan, mengganti pakaiannya, menyusui, serta mengajaknya main.

Gilbert ini anak yang sangat ramah, dia selalu senyum kepada orang – orang di sekelilingnya dan sangat suka tertawa. Ketika dia masih berumur 2,5 bulan kami membawanya ke Surabaya naik mobil karena ada saudara yang menikah di Surabaya dan semua keluarga besar berkumpul di sana. Jadilah kami berkendara sejauh 1500km bolak – balik, berangkat Jumat siang dan pulang Minggu siang demi berkumpul dengan keluarga besar. Untungnya Gilbert kuat badannya dan ngga sakit. Pada bulan Maret, kami membawa Gilbert ke Ciwidey bersama opa dan oma menginap di sana. Pada bulan April 2019 saat pemilu, kami membawa Gilbert ke Malang. Mampir sebentar ke Magelang lalu lanjut ke Surabaya dan Malang. Pada bulan Juni 2019, kami membawa Gilbert ke Hongkong, bertemu dengan engku di Hongkong, menikmati Disneyland, Makau, serta merasakan sempitnya tidur di apartemen yang ada di Hongkong. Kami berempat tidur di kasur ukuran 140cm, hanya untuk menghemat budget penginapan dikarenakan penginapan di sana harganya kurang manusiawi. Selepas pulang dari Hongkong, kami mengajak Gilbert ke Bogor untuk menikmati kuliner di sana.

Saya tidak menyangka, bahwa Bogor menjadi kebersamaan wisata kami yang terakhir. Kira – kira pada minggu kedua di bulan Agustus, Gilbert mulai diare dan sedikit demam. Namun kami menganggapnya Gilbert akan tumbuh gigi dikarenakan Audi dulu juga mengalami hal yang sama ketika akan tumbuh gigi. Saat Mawa pergi ke Surabaya dan saya sakit diare di bulan Agustus, saya pergi ke Telkomedika membawa serta Gilbert untuk diperiksa, namun dokter spesialis anak hanya memberinya obat untuk pencernaan dan tidak menyarankan untuk periksa ke lab atau apa pun.

Gilbert sempat membaik, fesesnya mulai mengeras, namun kok lama – lama diare lagi. Entah mengapa, mulai hari Jumat malam, 30 Agustus 2019, jantung saya berdebar – debar terus. Itu terjadi sampai hari Senin malam. Pada Minggu malam, Gilbert susah tidur. Dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, lalu menengadah ke atas. Entah apa yang dilihatnya. Ketika saya gendong dia terlelap, akan tetapi ketika saya lepas gendongannya dia kembali bangun. Seolah – olah berkata bahwa dia ingin selalu digendong oleh saya. Senin malam, Gilbert masih susah tidur, sepanjang malam saya menggendongnya, mencoba melawan rasa kantuk supaya Gilbert bisa tidur.

Saya masih ingat pada hari Selasa, 3 September 2019, pagi itu saya masih memandikannya dan menggantikan pakaiannya sementara Mawa mengantar Audi. Dia masih tersenyum dan tertawa ke saya. Siangnya, saya ingin pulang lebih cepat, sekitar jam 15.00 saya sampai di rumah. Pengasuh Gilbert, Eti, menyarankan apa ngga sebaiknya Gilbert dibawa ke dokter. Saya saat itu rasanya sangat malas untuk keluar, namun saya paksakan pergi ke dokter Sanjaya untuk mendaftar dan mendapat nomer urut 7.

Sore hari, saya membawa Gilbert ke dokter Sanjaya, Audi turut serta bersama mak Eti. Ada yang berbeda di hari saya membawa Gilbert ke dokter Sanjaya, apabila sebelumnya kami selalu membayar ketika memeriksakan Gilbert pada hari itu entah kenapa dokternya ngga mau dibayar oleh saya. Saya hanya diminta untuk menebus obatnya. Dalam perjalanan pulang, mak Eti dicium pipi kanan dan kirinya oleh Gilbert, seakan itu cara berterima kasih Gilbert kepada mak Eti. Mak Eti juga berkata bahwa di hari itu Gilbert terlihat sangat kasep.

Sesampainya di rumah, Gilbert makan, minum susu, dan minum obat. Semuanya terasa seperti biasa. Namun, Mawa berkata bahwa sore itu ia merasa takut untuk naik ke atas, jadilah ia menunggu di tempat praktek selama kami pergi ke dokter. Di malam harinya, entah kenapa jantung saya berhenti berdebar – debar, rasanya tenang sekali malam itu. Malam itu, tiba – tiba Gilbert demam tinggi, dan mungkin pingsan. Kami segera menelpon Tito, lalu memutuskan membawanya ke RS. Sentosa Kebon Jati. Beruntung saat itu Noning, sepupunya Mawa, bertugas jadi dokter jaga sehingga langsung dilakukan tindakan. Sekitar pukul 23.30 Gilbert mulai stabil, dia dipindahkan ke ICU, kami menunggu di depan ruangan. Saya meyakinkan Mawa bahwa ini semua akan baik – baik saja. Noning lewat dan berkata bahwa kami sebaiknya doa yang banyak. Nggak lama kemudian ternyata kondisi Gilbert kembali turun, langsung diambil tindakan untuk mengembalikan denyut nadi dan pernapasannya, lewat 30 menit lebih tindakan dilakukan, kami semua mulai menangis! Akhirnya Noning berkata apakah akan dilanjutkan? karena sudah lewat 30 menit namun tidak ada respon. Akhirnya kami minta dihentikan karena kasihan Gilbert, dan anak lelaki kami pun dinyatakan wafat

Ohh.. Tuhan, rupanya seperti ini rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi.. Saya menemani Gilbert saat berangkat dari rumah sakit ke rumah duka jam 02.30-an, memandikannya, meminyakinya, hingga memakamkannya. Saya bersyukur kepada Tuhan, Gilbert saat itu sebetulnya belum sempat dibaptis dan misa requiemnya tidak bisa dipimpin oleh seorang pastor namun ternyata pastor Toni berkenan untuk mempimpin misa requiem Gilbert. Seandainya Gilbert diberi umur yang panjang, dia pasti akan menjadi anak yang baik dan sayang pada keluarganya. Bagaimana tidak? bahkan dia mampu membiayai pemakamannya sendiri, sumbangan untuk Gilbert sampai berlebih dan kami sumbangkan ke panti asuhan. Sampai wafat pun dia tidak mau merepotkan kedua orang tuanya.

Selamat jalan, nak. Kami semua percaya bahwa engkau sudah bahagia di surga, dan sekarang menjadi malaikat untuk menjaga keluarga. Terima kasih, Gilbert.. pernah menjadi bagian dari keluarga papa, mama, dan cici Audi. Pernah tidur bersama, berempat, dalam ranjang yang kecil, untuk saling menghangkatkan.

Gilbert Marcostrang, 26 November 2018 – 04 September 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.