Membeli SIM Card Lokal Hongkong dan Macau

Liburan lebaran yang lalu memang menyisakan banyak pengalaman baru 🙂 Tahun ini kami wisata berempat dengan membawa Gilbert yang baru berusia 6 bulan ke Hongkong & Macau via Malaysia. Pengalaman membeli SIM Card lokal di Malaysia pernah saya tuliskan di sini. Nah, bagaimana nih kalo mau ke Hongkong & Macau? Ada beberapa pilihan sih, pertama pake XL Pass (7 hari harganya Rp 250.000) atau bisa juga menggunakan aplikasi K-Look seperti yang saya lakukan tahun ini.

Kalo dibandingkan harga sih ngga beda jauh. Sebagai ilustasi : kemarin saya mendarat saya membeli SIM Card True yang paling murah, setelah melihat – lihat di KLIA2, seharga MYR 28,5 (sekitar Rp 97.000) untuk 30 hari dengan kuota 5GB, sementara di klook kita bisa dapat kurang lebih Rp 75.000,- untuk 7 hari dengan kuota 15GB. Tapi kalo kita sebagai traveller yang hanya maksimum 7 hari, pilihan kuota yang besar rasanya lebih masuk akal ya? 😀

Di hongkong akhirnya saya putuskan untuk membeli kuota via klook sebesar Rp 93.407 untuk 5 hari dan Rp 76.503 untuk 2 hari di Makau. Total sebetulnya : Rp 266.910,- lebih mahal ya dari XL Pass.. huhuhuhu.. padahal saya juga kalo dihitung bepergian sekitar 7 hari. Oya, lalu bagaimana kalo mau beli SIM card lokal di Hongkong? Nah, kita bisa beli di counter khusus SIM Card di bandara. Selepas keluar dari pintu keluar (yang masih di dalam kompleks bandara) nanti kounter khusus SIM card berjajar di seberang pintu keluar. Kita tinggal pilih mau beli yang mana ( sayang saya lupa memotret kounternya ). Lalu kalo di Makau gimana? saya belum pernah kalo di Makau, jadi saya sarankan lewat klook saja, nanti ditukar sebelum berangkat dari pelabuhan.. hehehe..

Semoga bermanfaat

NB : saya punya blog baru, yang saya khususkan untuk wisata dan kuliner di sini. Jadi kalo konten ini muncul di sana dan sebaliknya, percayalah, itu konten original saya.

Ujian Kualifikasi (lagi)

Saya akhirnya mengalami ujian kualifikasi lagi untuk yang kedua kalinya.. hehehe.. kira – kira dilaksanakan sekitar tanggal 20-an Mei kemarin. Sebelumnya saya ditakut – takutin oleh kakak angkatan karena dia harus melewati ujian kualifikasi sebanyak 3x! Untunglah itu tidak terjadi, analoginya : walau jalan yang ditempuh itu terjal dan berliku namun akhirnya bisa sampe tujuan dengan selamat.. Kira – kira itulah analogi yang pas untuk menggambarkan ujian kualifikasi saat itu. Bagaimana ngga? ujian yang sekiranya diplot hanya 1,5 jam ternyata memakan waktu 2 jam. Itu pun dihentikan karena sudah lama sekali penguji bertanya.

Pembimbing lumayan membantu walau hanya memberikan clue sederhana. Dan sejujurnya, saat itulah sebetulnya saya mulai mengerti apa yang diinginkan oleh pembimbing. Yap! pembimbing saya itu orangnya secara pribadi saya sebut generalis, dalam artian mengarahkan namun hanya di bagian kulitnya saja secara substansi juga mungkin belum terlalu matang menggambarkannya sehingga masih suka berubah – ubah maksudnya. Kakak angkatan saya sampai beberapa kali mengganti topik penelitian sampai akhirnya menemukan judul yang pas untuk penelitiannya. Ya, itu salah satu dukanya. Walau lebih banyak duka daripada sukanya.. hahaha.. Minimal saya akhirnya dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya, yakni penyusunan proposal. Harapannya sih di fase proposal ini saya bisa melewatinya dengan satu semester. Untunglah ada calon co-promotor yang baik dan mau mengarahkan sehingga saya ada gambaran mengenai apa yang dapat dilakukan. Ayo semangat!!!