Menjadi sederhana

Oleh mama saya, saya sering dibilang ‘kurang gaya’ atau dalam bahasa Jawa bisa diistilahkan ‘ora patrap‘. Pun ketika saya bertemu dengan teman masa kecil, dia bilang kalo saya orangnya ngga berubah dari dulu, tetap sederhana. Juga ketika om Daru ngobrol dengan saya, dia juga bilang kalo gaya saya itu sangat sederhana. Ngga salah juga sih, karena memang mungkin saya terlihat sangat sederhana. Contohnya : motor saya itu sudah 11 tahun dan masih dipakai hingga kini, tas laptop saya sudah 5 tahun, laptop saya juga sudah 5 tahunan, dan masih banyak hal yang lain lagi. Mawa sendiri sih ngga terlalu mempermasalahkan saya yang mungkin memang orangnya kurang gaya.

Dulu mungkin kurang gaya karena duitnya juga cekak, mau beli sepatu Nike rasanya masih pikir-pikir. Kalo sekarang sedikit demi sedikit sih gaya mulai ditingkatkan supaya ngga malu-maluin waktu nggandeng Mawa 😀 tapi tetap aja, kalo hari biasa ya memang saya terlihat sangat sederhana. Sebetulnya satu hal yang sekarang berubah dan saya menganggapnya saya udah lebih bisa ‘nggaya’, yakni sekarang saya sudah mulai bisa nyumbang ke gereja atau ke kelenteng.. hehehe.. Memang sih taraf hidup sudah naik walau mungkin belum bisa dibilang kaya – kaya amat, tapi saya bersyukur sekarang ada uang lebih buat nyumbang.

Pernah saya ditanya oleh Idha, yang sekarang jadi juragan produk kecantikan di Semarang, apa tujuan hidup saya. Saya jawab saya mau jadi orang kaya. Ia tanya lagi kenapa, dan saya menjelaskan supaya saya bisa lebih banyak berbagi. Kalo Christopher Robin pasti akan berucap, “oh.. silly old bear”. Orang – orang sukses yang saya baca atau dengar kisahnya adalah orang – orang yang sangat tidak pelit dengan hartanya. Bahkan ketika mereka menyumbang semakin banyak, semakin banyak juga berkat yang mereka terima. Itu juga yang ingin saya tiru. Buat saya, menjadi sederhana itu ngga repot. Ngga repot karena waktu jalan – jalan di mall kita ngga didatengin sama SPG atau sales yang menawarkan kartu kredit atau berbagai macam barang, ngga repot karena saya ngga perlu iri dengan gaya orang lain, dan lebih enak bergaul dengan orang lain. Tentunya saya juga ngga akan mungkin dateng kondangan ke Pusdai atau hotel Hilton dengan baju batik 20rb yang belinya via marketplace yang nomer satu di playstore. Saya pasti akan pakai batik Danar Hadi, jam tangan Guess / SO & CO, serta sepatu boot Jim Joker.

Sederhana menurut saya, juga harus mampu menyesuaikan di mana kita berada atau di lingkungan apa kita berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s