Memaknai “Coco”

Mungkin sudah banyak yang menonton film Coco ini, film yang memang menyentuh tentang cinta dipadukan dengan budaya seputar menghormati orang yang telah meninggal. Dikisahkan bahwa dalam setahun, orang Meksiko merayakan hari di mana mereka melakukan ritual penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ini sangat mirip dengan tradisi nyekar atau ziarah di Indonesia, atau sembahyang rebutan di Tiongkok.

Ada satu hal yang sebetulnya membuat saya jadi berpikir gara – gara menonton film ini : mengapa sih kita perlu menempatkan foto orang yang sudah meninggal saat kita sembahyang atau mendoakan mereka? dan itu dijawab di film Coco ini. Orang meninggal memang mempunyai alamnya sendiri ( seenggaknya itu yang digambarkan di film ini ), mereka hidup sama seperti kita di dunia yang fana ini. Namun, mereka juga bisa menghilang selama-lamanya atau mengalami final death. Mengapa itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena sudah tidak ada lagi yang mengingatnya. Roh akan terus hidup saat kita masih mengingatnya. Dan bagaimana cara mengingatnya? yakni dengan meletakkan fotonya di meja sembahyang atau di tempat khusus di mana kita sewaktu – waktu dapat mendoakan mereka. Setidaknya itulah yang digambarkan dalam film Coco, mengenai bagaimana foto mereka yang diletakkan di fronda merupakan tiket untuk datang kembali ke alam nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s