Terjebak di antara pawai Persib

pawai

Hari minggu yang lalu, 25 Oktober 2015, merupakan hari dimana Persib merayakan kemenangannya merebut Piala Presiden. Bapak Ridwan Kamil mengizinkan adanya pawai dari Kotabaru Parahyangan ke Tegalega. Saya sebetulnya sudah mengantisipasi untuk segera pulang ke rumah, tapi ternyata malah kena macet dan harus berputar mencari jalan.

Pagi-pagi saya, Mawa, dan Audi pergi ke gereja St. Paulus di daerah M. Toha, untuk menghadiri permandian keponakan kami, yakni Luis dan Leighton. Mawa diminta menjadi wali permandian untuk kedua keponakannya itu. Setelah selesai permandian dan foto-foto, akhirnya kami pun diajak makan. Awalnya kami mampir ke Sari Sunda, tetapi tempatnya ternyata dipake buat nikahan. Lalu Mawa mengusulkan untuk makan di TSM aja, dan kamipun berangkat ke sana. Sesampainya di TSM kami makan di Wendy’s karena Leighton ingin makan di situ. Saya mengajak Audi untuk bermain di AW, yang mana ternyata si Audi sangat suka naik turun perosotanšŸ™‚ Acara makan-makan itu berakhir sekitar pukul 15.00 dan kami pun kembali ke rumah kami masing-masing.

Nah, di sinilah petualangan dimulai…jreng..jreng!!

Kami melewati rute yang biasa, yakni Gatsu – Asia Afrika – Sudirman. Berharap para bobotoh sudah berkumpul di Tegalega sehingga Asia Afrika sepi. Tetapi ternyata semuanya tak sejalan dengan yang diinginkan. Sampai di simpang lima, lampu lalu lintas ngga berfungsi dan beberapa polisi membantu mengatur lalu lintas. Harusnya saya belok kanan ambil arah Sunda, tetapi saya malah lurus dan ternyata macet di depanšŸ˜¦ *alamat ngga bisa jalan nih..* Beruntung saya ada di lajur kanan, belokan ke arah Jalan Lembong dibuka walaupun sebetulnya ada tanda dilarang melintas. Saya belokkan saja mobil ke kanan, melewati jalan Lembong, dan keluar di Naripan. Saya sebetulnya yakin kalo daerah kota pasti sepi, hanya bagaimana mengaksesnya?

Dari Naripan saya belok ke arah Sunda, ternyata di depan toserba Yogya para mobil sudah berhenti. Akhirnya mobil saya belokkan lagi ke kiri, masuk jalan Kartini, Natuna, dan keluar di Jalan Sumatera. Sesampainya di Sumatera karena takut macet saya paksakan belok kanan, melewati pinggiran hotel Panghegar menembus ke jalan Merdeka. Ternyata di sana lebih parah lagi macetnya, akhirnya saya putar balik kembališŸ˜€ dan tidak mendengarkan kata Mawa untuk ikutan macet aja. Beruntung juga waktu itu palang pintu kereta api tertutup sehingga jalanan sepi. Saya balik lagi ke jalan Sumatera, Tamblong, lalu paksakan belok ke Kejaksaan, dan keluar di Braga. Ternyata di Braga jalanan lancar, beloklah kami ke Suniaraja, stasiun lama, dan akhirnya sampai di Pasir Kaliki. Benar seperti yang saya duga, jalanan kota lancar. Kebonjati ditutup oleh para pendukung Persib. Sudirman agak lancar walaupun ada bobotoh yang berkumpul di jalan. Akhirnya,,kami dapat sampai rumah dengan selamat! Ngga kebayang kalo kejebak macet dan terpaksa harus menonton para homo sapiens itu meraung-raungkan suara motornya, berjoget-joget, dan berhenti di tengah jalan yang seharusnya orang lain bisa lewat. Saya ndak membenci pawai, itu ekspresi, tapi kalo sampai membuat orang lain jadi kena macet, ya itu sudah merugikan.

Gambar dicomot dari sini.

One thought on “Terjebak di antara pawai Persib

  1. Hahaha pro kontra banget ya si pawai ini. Aku waktu minggu sore pergi pake gojek dan mamangnya pake baju persib, katanya “biar bisa menembus kemacetan neng” dan ternyata bener bisa meneroboss hahahašŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s