Menikmati suasana di UpperEast Bandung

IMG_20150920_185227Minggu lalu, saya dan Mawa kembali menyusuri jalanan Dago untuk mencari suasana baru setelah hari Sabtunya kami ngga jadi ke Ciater. Sabtu malam Mawa diajak teman-temannya untuk berendam di Ciater, janjian sekitar jam 20.00 di KFC dekat Maranatha. Akan tetapi ternyata teman-temannya baru datang hampir jam 22.00 😦 Saya kasihan dengan Audi karena sudah larut malam dan akan dibawa ke Ciater. Akhirnya saya batalkan pergi ke Ciater karena sudah malam. Kemudian minggu siang kami harus menghadiri geladi resik untuk pembaptisan si Audi di dekat gereja. Continue reading

Advertisements

Lezatnya steak di Musamus Bistro

musamus

Malam minggu lalu saya dan keluarga menghabiskan waktu di Musamus Bistro, yang terletak di jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Musamus itu konon artinya adalah rumah semut. Kesan pertama ketika masuk adalah bangunannya yang cukup elegan, luas, namun terlalu banyak bagian yang kosong sehingga menyisakan tempat sedikit untuk makan. Enaknya di Musamus itu dapurnya keliatan, jadi kita bisa tahu bagaimana sih cara juru masak itu memasak makanan yang kita pilih.

Saya dan Mawa memilih stik tenderloin, salad tuti pruti, dan segelas susu kocok mangga (mango milkshake).. agak aneh padanan bahasa Indonesianya..hehehe… Sembari menunggu saya melihat pramusaji yang mondar-mandir membawa piring besar berisi stik sapi maupun ayam. Wah,,jangan-jangan porsi jumbo nih 😀 Ketika akhirnya datang pesanan ternyata memang porsinya jumbo! Jadi yang difoto itu memang benar adanya, stiknya lumayan tebel (mungkin sekitar 1,5-2cm) dan cukup lebar. Mantap nih!! Kalo masalah saos ya standar stiklah, tapi di sini saya akui kalo dagingnya memang empuk dan cara memanggangnya lumayan bagus. Kalo ingin tau hasil panggangannya bagus atau tidak caranya mudah, tinggal potong dagingnya lalu dilihat bagian tengahnya. Jika masih berwarna merah muda berarti dagingnya bagus dan manggangnya juga bagus. Saya liat di AFC dan foodnetwork biasanya pembawa acara memberikan nasihat seperti itu 🙂

Pesanan yang salah adalah susu kocok mangga 😦 Mengapa? karena dengan harga 28rb (+pajak) kami hanya mendapat segelas kecil susu kocok mangga, yang setengahnya adalah es batu. Jadi dengan uang 28rb kami cuma minum 1/2 gelas susu kocok mangga..hiks..hiks.. Sementara jus alpukat juga dibandrol harga yang sama, yang saya lebih yakin kalo jus alpukatnya itu lebih baik daripada susu kocok mangga. Jadi memang jangan membaca menu itu terlalu cepat karena bisa jadi ada bagian yang terlewat. Saya tidak menyarankan untuk pesan menu nasi di sini karena dimana-mana nasi goreng itu rasanya sama 🙂 kecuali yang dimasak pake tungku, agak beda, ada rasa gosongnya gitu.

Di Musamus juga menawarkan promo untuk mencicipi kue keringnya. Kita tinggal foto makanan kita, lalu upload di instagram atau twitter, dan tandai dengan @musamusbistro_ abis itu tinggal tunjukkin aja ke pramusajinya, nanti kita bakal dikasih 1 plastik kecil kue keringnya musamus..hehehe.. Gampang kan? tapi sayangnya dari sekian banyak orang yang makan rasanya cuma saya aja yang ngelakuin. Oya, harga stiknya berapaan tuh? lumayan sih harganya, sekitar 85rb (+pajak) 🙂 Jadi kalo ada bujet berlebih dan pengen makan stik serta nyobain rumah semut, Musamus bisa jadi salah satu pilihan untuk hangout.

Kampung Cai, Rancaupas

rancaupas

Hari minggu lalu, saya, Mawa, dan Audi jalan-jalan ke Rancaupas. Sebetulnya saya agak malas karena harus berangkat pagi, tapi ya kalo ngga ada agenda ngapain juga ke Rancaupas? akhirnya saya putuskan untuk berangkat karena saya juga belum pernah ke sana. Kami berangkat pukul 06.30, perjalanan ditempuh sekitar 1.5 jam karena ternyata minggu pagi itu banyak sekali angkot jurusan Soreang berkeliaran sehingga menimbulkan kemacetan. Belum lagi pasar tumpah yang ada di Soreang juga agak menambah kemacetan. Arah ke Rancaupas cukup mudah ditemukan. Ambil saja arah Ciwidey, nah nanti kalo sudah ketemu tempat wisata Kawah Putih tinggal nyalakan lampu sein kanan karena letaknya 50m sebelah kanan dari Kawah Putih.

Harga tiket yang dipatok tidak terlalu mahal, yakni sekitar 10rb/orang, ditambah kendaraan 5rb/mobil. Tapi di dalem kita masih juga diminta bayar parkir 2rb ketika keluar. Seandainya lagi ngga bareng keluarga ngga mau bayar saya *evil* Area rancaupas ini sangatlah luas, kalo saya ndak salah baca ada sekitar 200 ha. Jadi jangan heran kalo banyak banget yang kemping di sini. Tapi siap-siap untuk bawa selimut tebal karena suhunya bisa sekitar 15′ kalo malem hari. Di Rancaupas juga banyak wahana seperti kolam renang, paintball, flying fox, dan satu yang menarik, yakni penangkaran rusa. Saya mengajak Mawa dan Audi ke penangkaran rusa untuk melihat rusa dan kijang lebih dekat 🙂

Rusa-rusa di sana ternyata sangat jinak dan sangat kelaparan. Terbukti ketika Audi menyodorkan Malkis roma ternyata rusa-rusa itu menyambutnya 😀 supaya Audi senang akhirnya saya membeli satu kantong wortel sisa-sisa yang dibungkus kresek seharga 5rb. Audi sangat senang memberikan wortel-wortel itu kepada rusa-rusa yang kelaparan..hahaha.. sampai akhirnya habislah seluruh wortelnya. Disana juga ada anak-anak dari Teknik Telekomunikasi Universitas Telkom makrab, tapi berhubung saya bukan dosen mereka dan ngga kenal anak-anaknya saya jadinya ngga mampir..hihihi…

Kami kembali ke Bandung sekitar pukul 10.00, dan mulai menikmati kemacetan yang muncul mulai dari Soreang hingga kopo Sayati..