Menikmati Katjapiring

Beberapa waktu yang lalu, saya, Mawa, dan mami mencoba menikmati masakan di Katjapiring. Resto yang konon katanya memadukan masakan peranakan (keturunan Tionghoa) dan Melayu. Kalo saya bilang sih mirip masakan yang ada di Penang. Sebetulnya saya agak heran dengan restoran yang ada di Bandung ini, heran karena hampir semua menunya berbahasa Inggris, jarang yang berbahasa Indonesia. Masih mending kalo ada menu berbahasa Indonesia lalu diikuti bahasa Inggris, tapi di sini ternyata ngga ada sama sekali. Setelah melihat-lihat daftar menu cukup lama akhirnya kami memilih “fried noddle mamak style”, “mango chicken peranakan”, “butter prawn”, dan “oxtail soup”. Kalo dialihbahasakan menjadi Mie goreng gaya mamak, ayam mangga peranakan, udang goreng tepung, dan sup buntut sapi 🙂 Continue reading

Advertisements

9 Mei 2014

“Oekk…oekk..oekk!!” akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari tempat persalinan malam itu. Sekitar pukul 22.00 kurang, saya resmi menjadi seorang ayah. Memulai sebuah babak baru dalam sebuah keluarga kecil dengan seorang putri yang cantik. Saya menunggu selama hampir 9 jam sebelum akhirnya istri melahirkan. Dimulai pada pukul 11.00 ketika saya dan Mawa berkunjung ke dokter Maximus di RS Borromeus. Pada saat menjalani pemeriksaan, dokter berkata bahwa air ketuban sudah pecah. Lalu dokter memanggil perawat dan membawa Mawa ke kamar bersalin untuk diinduksi. Mawa sering mendengar bahwa diinduksi itu sangat sakit, tapi akhirnya dia menjalaninya juga karena dokter menganjurkan untuk diinduksi dan tidak langsung melalui operasi sc.

Pukul 12.00 Mawa mulai diinduksi lewat infus & saya mengurusi administrasi. 5 jam pertama masih normal, Mawa hanya mengalami mules-mules biasa. Mulai masuk pukul 19.00 Mawa sudah mulai berteriak-teriak kesakitan, kasihan juga sih..tapi ya mau gimana lagi? Saya mulai memijitnya untuk mengurangi penderitaannya. Jadi sebetulnya kalo diinduksi itu sebaiknya miring ke sebelah kiri pada saat berbaring. Memang bakal lebih sakit rasanya, tetapi katanya pembukaan lebih cepat karena darah juga mengalir lebih lancar. Pukul 21.00 Mawa udah guling-guling karena sudah tidak tahan rasanya ingin mengeluarkan bayi tetapi masih belum diperbolehkan karena dokternya belum datang. Akhirnya sekitar pukul 21.30 dokternya datang dan langsung mengeluarkan bayinya tanpa waktu yang begitu lama.

Rasanya sangat terharu, bagaimana saya menyaksikan proses persalinan istri saya secara normal. Ini sangat susah dikatakan dengan kata-kata, tetapi saya sekarang mengerti mengapa kita sebagai anak memang harus patuh pada orang tua terutama ibu, karena perjuangannya melahirkan kita terkadang cukup berat. Merasakan perut mulas selama 9 jam bukan waktu yang singkat, namun itu tetap dilakukan agar anaknya dapat lahir dengan normal. Saya juga mengerti mengapa kita sebagai seorang suami harus menghargai istri kita dengan baik. Mungkin kalo istri melahirkan secara sc atau kita tidak menemani beda rasanya. Tapi kalo kita menemani istri kita yang melahirkan setelah melewati proses induksi,,nah.. it feels different.

Finally, saya menjadi ayah..