Mensia-siakan kesempatan

Minggu ini merupakan minggu yang cukup sibuk karena saya harus menyelesaikan input nilai akhir untuk 4 matakuliah dengan 5 kelas. Banyak hasil akhir mahasiswa yang masih jauh dari standard, bahkan saya mengajar mata kuliah dasar tingkat satu yang notabene mudah masih banyak yang nilainya jelek. Kalo pembelaan senior saya, mahasiswa tingkat satu itu masih baru, masih belum bisa menyuarakan opini, menggunakan logika dengan baik, dan cenderung malas. yahh.. kalo matakuliahnya sekelas kalkulus sih saya masih maklum, tapi ini mata kuliah pengantar yang cukup mudah.. Akhirnya setelah berbincang dengan salah satu rekan dosen, disepakati bahwa kami akan memberikan remidial untuk mahasiswa tingkat satu yang nilainya jelek-jelek.

Saya pun membuat pengumuman bahwa akan diadakan remidi untuk kuliah yang saya ampu tersebut. Remidinya cukup mudah, hanya mengerjakan kembali soal UAS kemarin. Saya memberikan tenggang waktu 4 hari untuk menyelesaikannya. Yang menarik adalah, masih ada mahasiswa yang tidak mengumpulkan remidi sampai batas waktu yang ditentukan! padahal saya sudah memperlonggar metode pengumpulannya yakni bisa via email karena biasanya selepas ujian banyak yang sudah mudik ke kampung halaman. Saya masukkan saja nilai apa adanya, yang ikut remidi ya nilainya membaik tetapi yang tidak ya nilainya apa adanya. Saya sih tidak masalah kalo memang mahasiswa yang bersangkutan tidak ikut remidi karena mereka mungkin juga punya alasan tertentu untuk tidak ikut remidi, tetapi saya hanya kasihan pada mereka yang nilainya jelek tetapi malah mensia-siakan kesempatan remidi ini.

Ketika saya kuliah dulu, dosen tidak pernah ambil pusing dengan nilai mahasiswa. Mau tingkat dasar hingga tingkat akhir dosen ngga urusan dengan nilai mahasiswa. Kami sebagai mahasiswa yang memang harus berusaha supaya nilainya baik sehingga dapat lulus tepat waktu dan sesuai dengan rencana studi. Rencana tidak hanya sekedar rencana tetapi memang harus diusahakan supaya tercapai goalnya. Saya pernah hampir tidak lulus karena pada saat akan sidang skripsi masih ada satu nilai praktikum yang belum dikeluarkan oleh dosen, udah gitu saya harus mengulang membuat laporan praktikumnya pula. Tetapi berbeda ketika saya mengajar sekarang, kami harus memperhatikan nilai mahasiswa. Jangan sampai terlalu banyak nilai D pada mata kuliah yang kita ampu. Dosen saya mana pernah urusan dengan berapa banyak nilai D dan E yang beliau keluarkan. Tapi ya itu, ketika sekarang saya memberi kesempatan untuk memperbaiki nilai, ternyata masih ada juga mahasiswa yang tidak mengambilnya. Sayang saja, karena kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya. Mungkin memang sebaiknya tidak usah ada remidi ya? supaya mahasiswa memang benar-benar merasakan bagaimana besarnya usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkan nilai yang baik.

Saya sering bermimpi, bahwa saya menjadi salah satu dosen di PTN yang ada di Bandung ini. Idealis? Mungkin. Tapi nampaknya sekarang saya menikmati usaha, bagaimana improvement pengajaran senantiasa dilakukan oleh dosen karena kemampuan mahasiswa selalu berbeda tiap tahun. Adalah sangat membahagiakan ketika saya rasanya bisa menjelaskan dengan baik kepada mahasiswa yang berbeda kemampuannya di dalam kelas, dan itu memang membutuhkan usaha. Saya berharap mahasiswa pun nantinya melakukan hal yang sama seperti yang dosen mereka lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s