Antara tidak mengerti dan tidak mau berusaha

Pagi tadi saya memberikan kuis mata kuliah Aplikasi Bergerak di kelas saya. Pesertanya mahasiswa tingkat 3 dan 4. Sebetulnya pada kuliah ini, kita akan belajar lebih banyak mengenai berbagai macam platform yang bisa digunakan untuk membuat aplikasi bergerak seperti : Android, Blackberry, MeeGo, Windows Phone, dsb. Tapi memang lebih terfokus pada Android saat ini karena sebelumnya sudah ada mata kuliah Pemrograman Berorientasi Objek.

Namun, saya agak bingung dengan apa yang nanti akan saya sampaikan. Permasalahannya bukannya di materi, tapi bagaimana membuat mereka itu mau berusaha untuk mengerti. Pada awal kuliah saya mereview lagi pemahaman mereka tentang pemrograman berorientasi objek, tapi ternyata mereka lupa (atau ngga ngerti dulunya?) Akhirnya saya mereview lagi dasar-dasar pemrograman berorientasi objek dan tadi memberikan kuis kepada mereka. Tapi nampaknya harus kecewa, karena sempat tadi melihat sedikit mereka masih tidak mengerti cara membuat program berbasis objek dengan java 😦

Mereka tidak mengerti, tapi mereka juga tidak mau berusaha untuk mengerti. Sering saya sampaikan bahwa belajar memang ngga harus langsung ngerti, tapi proses untuk belajar menjadi mengerti itu harus selalu berjalan. Proses menggali apa yang tidak dimengerti lalu dicari jawabannya. Dosen mungkin masih dianggap terlalu menakutkan sehingga banyak mahasiswa tidak berani untuk bertanya padahal saya sudah memberi kesempatan untuk bertanya apa pun yang mereka masih belum paham. Bisa jadi tidak ada yang bertanya karena mereka tidak tau apa yang harus ditanyakan 🙂 dan mengapa tidak juga mengerti apa yang mau ditanyakan? ya gimana mau ngerti kalo apa yang didapat tidak pernah dicoba untuk diterapkan.

Sebagai contoh, kalo mereka mendapatkan kuliah pemrograman berorientasi objek harus mereka juga mencoba untuk mengeksplore berbagai macam sifat, method, dan pola pikir konsep menjadi sebuah program. Mau untuk selalu `ngoprek` program, mulai dari yang mudah sampai yang sulit. Kalo ngga pernah dicoba saya yakin pasti ngga akan pernah menemukan masalah, lha ngga pernah nyoba kok. Padahal kemampuan aplikatif itu bisa didapat dari `ngoprek` dan tidak bisa dalam waktu singkat. Tapi rasanya mahasiswa sekarang pengennya jago tapi ngga mau `ngoprek`, ingin paham tapi tidak mau berusaha untuk paham.

Advertisements

Menikmati dinginnya Kintamani

2012-12-29-13.57.35

Indah, nikmat, dan sejuk. Itulah yang kurasakan saat sampai di sekitaran Kintamani. Perjalanan yang cukup lama dari Kuta terbayar sudah. Saat itu pada awalnya ngga ada bayangan mau ke Kintamani, tadinya saya dan Mawa hanya mau melihat monyet. Tapi karena saya malas, akhirnya kita putar arah menuju Kintamani. Perjalanan Kintamani yang ditempuh dari Kuta memang cukup jauh, kita harus lewat Ubud dulu. Ketika di Ubud, kami menyaksikan sesuatu yang berbeda dengan di Kuta. Ubud seperti sebuah kompleks kota lama yang tidak terlalu ramai. Berbeda dengan di Kuta, bule-bule di sini juga lebih rapi dan sopan. Tapi memang kebanyakan orang tua, jadi mungkin pas buat mereka karena udaranya yang sejuk serta tidak terlalu ramai dan minim kebisingan. Continue reading

The Voice Indonesia yang menghibur

the voce Indonesia

Bertambah satu lagi ajang pencarian bakat di Indonesia ini, setelah ada Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, X Factor Indonesia, yang terakhir adalah The Voice Indonesia. Rata-rata mencari bakat sebagai penyanyi, walaupun ada yang lain juga (semisal di Indonesia Mencari Bakat). Saya kurang menikmati Indonesian Idol dan X Factor, tapi saya sangat menikmati The Voice Indonesia. Mengapa? suaranya lebih beragam 😀 tipe orangnya lebih beragam, mulai dari yang perlente pake jas sampe ala rocker yang ancur, serta jurinya yang lebih asyik kalo saya bilang. Continue reading