Bandung – Garut – Pangandaran (2)

Melanjutkan postingan sebelumnya di sini. Hari Jumat 17 Agustus 2012 pukul 11.30 siang, saya dan Mawa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Perjalanan dilalui dengan lancar menuju arah Tasikmalaya. Berhubung saat itu hampir waktu sholat Jumat maka seluruh pom bensin tutup dan terlihat antrian yang cukup panjang di  pom bensin yang kami lewati. Nah, pada saat sampai di Persimpangan arah ke Tasik (di plang itu kalo lurus ke Tasik, kalo kanan ke Singalaya) saya bingung mau lewat mana. Berhubung kata orangtua nanti diminta lewat Cipatujah, akhirnya saya bertanya kepada orang sekitar kemana arah Cipatujah dan dijawab kalo belok ke arah Singalaya. Mungkin saya akan menyesali mengapa saya pake acara bertanya, tapi kalo tidak bertanya saya tidak akan punya cerita yang dituliskan di sini🙂

Kami berbelok menuju arah Singalaya, melewati lereng – lereng gunung dan pemukiman penduduk di daerah Sodonghilir yang masih sepi dengan jalanan yang sudah beraspal dan hotmix,,cukup menyenangkan ternyata. Namun, semuanya berubah ketika kami meninggalkan SodongHilir. Jalanannya rusak parah! tidak ada aspal sama sekali dan semuanya batu😦 Akhirnya kami hanya bisa berjalan dengan kecepatan 10 km/jam (sangat menyedihkan..hiks..hiks..) sejauh 40 Km dari daerah Sodonghilir ke Parungponteng. Sungguh sesuatu banget, menempuh medan off-road sejauh 40Km dengan kecepatan 10 km/jam dengan waktu 2,5 jam menggunakan motor Supra Fit S! Tangan rasanya sakit sekali karena sering menekan rem dan berhenti sedikit demi sedikit. Waktu masih di Parung Ponteng saya iseng – iseng bertanya kepada seorang penduduk di situ, “A kalo mau ke Cipatujah masih jauh?”. Lalu di menjawab, “Masih jauh, masih ada 2,5km lagi”. Gubrak!@#! Syok saya mendengarnya. Perjalanan yang sangat menyiksa ini ternyata masih panjang😦 Tapi untungnya dia berkata bahwa sebentar lagi sudah masuk jalan hotmix jadi penderitaan saya akan segera berakhir.

Benarlah ketika keluar dari Parungponteng dan masuk ke daerah Cibalong ternyata jalanan sudah bagus. Fiuhhh.. kami menarik nafas dan girang karena perjalanan ke Cipatujah hampir sampai. Perjalanan ke Cipatujah lancar – lancar saja karena disamping jalannya yang besar dan tidak terlalu ramai ternyata sudah beraspal sehingga perjalanan ke Cipatujah bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Pukul 17.00 kami berdua sampai ke Cipatujah dan berhenti untuk mengisi bensin terlebih dahulu. Sembari mengisi bensin, saya berkata kepada Mawa , “asyik..sudah hampir sampai.. dari Cipatujah ke Pangandaran paling cuma 1 jam”. Dan Mawa menimpali, “1 jam dari hongkong! dari sini ke Pangandaran itu masih 120km lagi, masih 4 jam!”..hah??!!?? masih empat jam?? Saya masih tidak percaya, akhirnya setelah melihat peta saya baru sadar ternyata perjalanan masih jauh dan kami tidak tahu medan apa yang akan kami lewati nanti.

Dari Cipatujah kami menyusuri pantai, memang sangat bagus untuk dipandang, tapi yang jadi masalah adalah bahwa kami menyusuri pantai di sore menjelang malam. Ketika mulai maghrib, kami mulai masuk hutan..hihihihi.. hanya kami berdua di motor, tidak ada siapa pun dan tidak ada apa pun. Saya akhirnya hanya bisa mencoba untuk ngebut sembari mencoba tenang supaya Mawa tidak merasa takut. Pada saat ngebut saya heran mengapa lampu jauh saya selalu mengarah ke atas? itu sangat mempersulit pandangan mata untuk ngebut. Perjalanan dari Cibalong ke Cikalong Wetan sangat menguji nyali. Kami melewati lereng gunung yang tidak ada siapa – siapa, gelap gulita tiada lampu dan hanya sendirian😦 Memang beberapa kali kami melewati pemukiman tapi ya hanya terlewati saja, setelah itu kembali gelap. Pukul 19.00 kami mencapai Cikalong Wetan, perjalanan sebetulnya hanya tinggal 20-30 km lagi. Sebetulnya ingin sekali istirahat dan mencari penginapan, tapi di daerah sepi seperti itu mana ada penginapan? Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah tempat makan. Berhentilah kami di sana untuk makan sembari beristirahat.

Pada saat mau makan, Mawa bertanya apakah makanannya masih ada. Dijawab masih ada tetapi harus menunggu karena semuanya harus disiapkan secara mendadak. Tau kan mendadak? ini artinya kalo kita pesan satu porsi dada ayam bakar, kita harus menunggu dulu selama 3 jam! Mengapa? karena ayamnya harus disembelih dulu, lalu direbus selama 1 jam dan dicabuti bulunya. Setelah bulunya dicabut ayamnya masih harus dipotong – potong dan dibumbuin. Nunggu lagi 2 jam. Terakhir setelah dibumbuin baru ayamnya dibakar. Tiga jam untuk menunggu makan ayam bakar?? untungnya kami hanya pesan ikan bakar🙂 yang tidak perlu menunggu waktu terlalu lama. Setelah istirahat dan makan sangat kenyang kami berdua akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke Pangandaran. Ternyata tempat kami makan itu sudah sangat dekat dengan Green Canyon..horeee.. akhirnya menemukan sepercik harapan bahwa perjalanan sudah cukup dekat. Selepas melewati Green Canyon, kami melewati Cijulang lalu Cikembulan, Cibenda, Parigi, dan akhirnya Pangandaran…

Memasuki Pangandaran adalah hal yang sangat menggembirakan. Kami sampai di penginapan pukul 21.30! jadi hampir 12 jam kami berada di jalan. Sungguh perjalanan yang sangat menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Namun semuanya terbayar lunas dengan segudang pengalaman baru dan cerita ini🙂

One thought on “Bandung – Garut – Pangandaran (2)

  1. Pingback: Bandung – Garut – Pangandaran (2) « Osmond's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s