Ziarah Gembira : Goa Maria Lawangsih

Sabtu minggu lalu, aku dan Mawa menyempatkan diri untuk ziarah ke Gua Maria Lawangsih, di daerah Nanggulan, Kulonprogo, sekitar 13 km dari Sendang Jatiningsih. Sebetulnya niat untuk ke Gua Maria Lawangsih ini uda cukup lama, ketika temen mudika ada yang mencetuskan ide ziarah ke tempat ini tapi belum terlaksana karena ngga ada yang tau jalan ke sana. Sampai akhirnya beberapa hari sebelum keberangkatan, salah seorang temanku, Kaka, posting di milis kalo dia baru saja ziarah dari Gua Maria Lawangsih. Wahh,,pucuk dicinta ulam pun tiba🙂 akhirnya aku email saja dia arahnya kemana, eh..dikasih juga petanya sekalian tapi dalam bentuk .kml (cuma bisa dibuka di google earth). Akhirnya, setelah mencari waktu luang kami pun berangkat ziarah ke Gua Maria Lawangsih, the journey is begun..

Perjalanan ziarah kami dimulai dengan langit yang mendung, seolah Tuhan ingin menguji tekad kami. Rute ke gua maria ini mudah ditempuh, karena kita tinggal mengikuti jalan Godean (lewat Bantulan) ke barat terus mentog sampe nemu perempatan lampu merah Kenteng (sebelum perempatan sudah ada tandanya), kalo ke arah utara kita ke Sendangsono, kita ambil arah barat ikuti jalan raya beraspal. Entah kenapa di tengah perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur, padahal perjalanan masih jauh, jalan pun naik terus dan menikung..tikungannya dan tanjakannya juga curam je sekitar 45′ jadi sebaiknya memang periksa mesin dulu, tapi enaknya jalannya sudah beraspal dan banyak tanda sehingga mudah sampai di lokasi.

salah satu tanda penunjuk arah Gua Maria Lawangsih

Kesan pertama ketika sampai di Gua Maria Lawangsih adalah asri, hening, tenang, dan nyaman. Seandainya cuaca hari itu bersinar terang rasanya menambah kenikmatan untuk menikmati alam. Yup, gua ini memang masih gua alam tapi berhubung ngga dipake akhirnya dijadikan tempat berdoa. Karena baru pengunjung gua ini masih sedikit, tapi aku pikir ini cuma masalah waktu aja, lama-lama pasti juga tempat ini bakal rame dengan peziarah yang ingin berdoa sekaligus menikmati alam. Oya, ternyata juga ada juga rute lain yang bisa ditempuh untuk sampai ke sini, bahkan tidak melewati jalanan curam seperti kami🙂 tapi memang jaraknya jadi lebih jauh..hehehe..

rute yang bisa ditempuh kalo mau ke Gua Maria Lawangsih

Di Gua Maria Lawangsih ini ada dua tempat berdoa yang bisa digunakan oleh para peziarah, yang pertama di depan Patung Bunda Maria, dan yang kedua di bagian dalam Gua (Panti Semedi). Untuk yang di dalam panti Semedi memang kita masuk ke dalam gua, tapi jangan khawatir karena di dalamnya ada patung Yesus, tikar, serta sudah diberi penerangan lampu..kecuali mengalami nasib seperti kami yang tiba-tiba mengalami mati listrik di dalam gua, untung positif thinking pasti setannya pada takut sama Tuhan..hehehe..

Patung Bunda Maria

Panti Semedi, di dalamnya ada patung Yesus

Setelah berdoa dan foto-foto sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Nah, di sini salah satu bagusnya penataan jalan dan ruang di Gua Maria Lawangsih, yakni rute masuk !== rute keluar jadinya ngga akan yang namanya terjebak macet atau himpit-himpitan dengan kendaraan lain. Nampaknya jalan memang dibuat memutar sih, tapi nggak masalah kalo menurutku. Beberapa ratus meter ketika kita baru keluar dari Gua, ternyata ada juga Gereja di dekat Gua Maria, yakni gereja Santa Maria Fatima, dan ada juga gua kecil untuk berdoa di dekat gereja, yakni Goa Pengiloning Leres. Jika kebetulan kita berziarah ke sini naik bus, biasanya bus diparkir di depan gereja Santa Maria Fatima ini dan selanjutnya peziarah bisa berjalan kaki sekitar 500m menuruni jalan untuk sampai ke Goa Maria🙂

Gereja Katholik Santa Maria Fatima

Perjalanan pulang sedikit lebih menyenangkan karena jalannya turun, tapi juga memacu adrenalin. Gimana ngga kalo kita menuruni jalan dengan tingkat kecuraman hampir 60′ setelah itu langsung menikung tajam, bisa dibayangkan to kalo remnya ngga pakem? bisa-bisa kita bungy jumping di udara😀 maka dari itu persiapkanlah kondisi motor sebaik mungkin, terutama rem. Pemandangan sepanjang perjalanan pulang juga bagus-bagus, rasanya ngga rugi menempuh hujan dan tanjakan curam untuk sampai ke Gua Maria untuk berdoa karena semuanya terbayar dengan lunasnya. Kami berangkat jam 12 siang dan baru sampai Jogja sekitar jam 16.30-an, mampir dulu karena Mawa pengen beli sate kambing dan tempe bacem😀 enak lho tempe bacem dan cirengnya, swear, murah lagi. Jadi kalo kalian sudah lewat perempatan lampu merah Kenteng (dari arah Barat) nanti 100 m di sebelah kiri jalan ada orang tua penjual cireng dan tempe bacem.. murah meriah dan rasanya uenakkk!! 1 tempe bacem harganya cuma Rp 350,- dan cirengnya berkisar dari Rp 1.000,- murah banget kan??

Semoga di lain kesempatan bisa kembali mengunjungi Gua Maria Lawangsih ini, tetapi dalam cuaca yang lebih bagus dan kondisi badan yang lebih fit🙂

Pemandangan ketika pulang dari Gua Maria Lawangsih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s