Wisata Gembira Tawangmangu, 14 Agustus 2010

Beberapa minggu yang lalu , tepatnya tanggal 14 Agustus 2010, saya bersama teman-teman mudika piknik ke Tawangmangu. Asyikk!! sudah lama ngga jalan-jalan, apalagi semenjak ketua mudikanya sibuk ngurusin KKN dan saya sibuk dengan skripsi, jalan-jalan menjadi kegiatan yang nomor sekian🙂 Sabtu pagi kami bersepuluh berangkat menuju Tawangmangu, sebetulnya sudah lama ngga jalan jauh tapi berhubung sudah pengen banget jalan-jalan apapun bakal ditancap, termasuk gas😀 Rencana di hari itu kami akan menuju Sendang Perwita yang masih perawan, Air Terjun Grojogan Sewu, dan Kebun Teh.

Kami berangkat kira-kira pukul 06.30 dengan kecepatan sedang kami melintasi jalan-jalan, awalnya masih enak ketika sampai Klaten. Tapi ketika sudah masuk Solo,,duh.. pantat sudah mulai berteriak-teriak minta istirahat🙂 tapi apa daya berhubung penunjuk jalan masih berjalan maju jadinya kami yang dibelakang tetap melanjutkan perjalanan. Sampai pukul 9.00-an, kami berhenti dipinggir sebuah waduk. Ngga tau sih apa nama waduknya, yang jelas bukan waduk Wadaslintang atau pun Gadjahmungkur. Lumayanlah melepas lelah sembari melihat waduk dan foto-foto bersama dengan teman-teman. Ngga tau juga waduknya ada ikannya atau ngga, sebetulnya lumayan juga kalo ada ikannya bisa buat mancing,,hehehehe…

Foto di area waduk

Selepas dari waduk, kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah Tawangmangu, ketika masuk Karanganyar suasana mulai enak kalo lewat kota lagi. Ternyata Karanganyar itu ngga terlalu besar ya, dan ketika kami lewat ternyata jalanan ngga begitu ramai. Lewat dari Karanganyar baru sangat terasa nuansa pedesaan nan indah dan asri, pemandangan di sekeliling hanya hamparan sawah yang mulai menguning, pepohoan yang menjulang tinggi, serta angin pedesaan yang sejuk. Inilah yang dicari-cari, di Jogja apalagi di kota sudah cukup susah melihat pemandangan alam (harus pergi ke Kaliurang dulu :D) Ketika sudah memasuki Tawangmangu baru medan yang sebenarnya menanti, saya pernah ke Kaliurang, Ketep, dan Dieng. Kaliurang dan Ketep belum ada apa-apanya dibanding Tawangmangu yang mirip Dieng, jalan curamnya ngga kira-kira. Untung motorku sudah diservis sebelumnya jadi masih kuat untuk menanjak membawa dua beban,,hahahaha… terima kasih motorku..

Tujuan pertama ketika ke Tawangmangu adalah Sendang Perwita, jujur aku baru pertama kali mendengarnya. Rasanya ngga pernah ada dalam peta peziarahan manapun, sesampainya di sana barulah aku mengerti kenapa. Kami sempat kesasar ketika menuju ke Sendang Perwita, ketika harusnya belok kami malah lurus melewati jalan naik turun, meliuk-liuk membentuk tikungan 60′.. pokoknya offroad dah! Setelah bertanya dengan warga sekitar kami kembali ke lagi lewat jalan kecil menuju Sendang Perwita. Beuhhh!! ngga kebayang jalannya bakal kayak gitu, naik turun dan kecil (kalo belum pro naik motor dijamin bakal bingung bin bergetar).

"Tanjakan Tekad" yang harus dilalui

Ketika sudah sampai kira-kira setengah jalan, akhirnya perjalanan kami pun diuji. Ada satu jalan dengan yang cukup tinggi, mungkin ketinggiannya sekitar 60′ – 70′. Di sana kami semua naik keatas satu persatu, namun apa daya ternyata ngga ada yang kuat sampai atas dengan dua orang penumpangnya! hahahaha.. suka sekali aku, jadi motorku ngga keliatan butut-butut banget dibanding yang lain.. Penumpang yang dibonceng semuanya terpaksa harus turun, termasuk Mawa🙂, supaya motornya bisa sampai ke atas. Ketika aku dan Mawa sedang berjalan, tiba-tiba ada satu kejadian lucu yang mengenaskan bagi pelakunya. Temanku satu cewek sedang naik motor, ketika berpapasan dengan temanku yang lain di atas tiba-tiba dia oleng, “eeee..ehh,,si Maria ngapain tuh?? kok malah miring-miring?? eeee.. eh,,kok malah jatuh.. hahahahaha”, akhirnya aku pun tertawa terbahak-bahak bersama Mawa melihat temanku yang terjatuh itu (bukan maksud bergembira di atas penderitaan orang lain, tapi siapa pun yang melihatnya pasti akan tertawa). Akhirnya setelah melewati berbagai macam medan akhirnya sampai juga kami di Sendang Perwita, nuansanya asri dan masih sepi. Di sana kami istirahat sebentar dan melanjutkan doa novena, lalu tiada lupa selalu untuk foto-foto.. hehehehe..

Gua Maria Sendang Perwita

Pemandangan alam yang bagus di sekitar Sendang

Terbayar sudah tekad kami untuk sampai di Sendang Perwita, selepas dari Sendang Perwita kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Grobogan Sewu. Ada satu kejadian yang kembali membuat kami tertawa, pada saat itu ban motor salah satu temanku, Boni, kempes di jalan. Kami menunggui dia saat dia memompa bannya, nah pada saat itulah temanku yang lain, Jhon, malah nongkrong di motornya dengan asyik sambil mengunyah snack! padahal di situ ada ibu-ibu berjilbab yang sedang duduk-duduk, dan dia tanpa sadar asyik sekali mengunyah snacknya!😀

Air terjun Grobogan Sewu ternyata mirip dengan air terjun di Ketep, dan wisata alamnya mirip sekali dengan Kaliurang. Oya, harga tiket masuknya Rp 6.000,-/orang. Terlalu mahal?? entahlah. Disana banyak sekali monyet liar, bahkan snack yang aku bawa pun sampai direbut oleh monyet yang lapar (monyet kuraaangg ajarrrr,, kembalikan snackku!!). Grojogan Sewu ini ngga setinggi Kaliurang, jadi tidak terlalu capek untuk sampe ke air terjunnya. Nah, di sekitar air terjun itu terdapat sebuah jembatan. Namanya jembatan ‘Cinta’, ada mitos yang berkembang bahwa kalo kita dan pacar kita melewati jembatan itu maka akan putus. Entahlah sudah berapa banyak orang yang membuktikan, tapi jembatan itu memang tidak ada yang melewati. Satu lagi benda keramat ada di situ, yaitu air yang keluar dari patung ular (sayang sekali saya lupa memotret jembatan dan patung ularnya), mitosnya air yang keluar dari patung itu bisa membuat kita awet tua (kalo airnya dipake sama orang tua pasti bisa bikin mereka awet tua, bukan awet muda lagi..hahahaha). Hanya saja, aku tidak tau kenapa patungnya disimbolkan dengan ular. Ada juga patung kodok melawan ular ketika kita berjalan masuk ke dalam area Grojogan Sewu ini (jadi inget Naruto), apa makna dibaliknya ya?

Air Terjun Grojogan Sewu

Patung Kodok Vs Ular

Selepas dari dari Grojogan Sewu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami ke tempat yang terakhir. Sebetulnya masih ada satu objek lagi yaitu candi tapi berhubung waktu sudah siang, hari mendung, dan kami sudah lapar akhirnya kami hanya menuju kebun teh dan berfoto-foto ria di sana. Ternyata pohon teh itu beda dengan yang aku bayangkan sebelumnya, jadi buat yang belum pernah melihat pohon teh, ini aku kasih penampakannya.

Pohon Teh

Fiuhh,,selepas dari Kebun Teh akhirnya kami langsung tancap gas menuju rumah makan sambil makan ikan kakap bakar😀 dan beristirahat. Selepas makan dan istirahat, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja.

Tawangmangu memang asri dan menarik, hanya saja lokasi masing-masing tempat wisata sangat jauh ditambah medan yang berliku-liku dan naik-turun. Tapi semua kelelahan dan kepenatan kita terbayar lunas di sana. Paling setelah pulang baru kerasa kalo pantat pegal-pegal..hehehe.. Dan akhirnya aku menunggu jalan-jalan selanjutnya..

Teman-teman rombongan

NB : thanks to Recoba, Tina, Boni, Dave, Frid, Maria, Jhon, Siska, especially Mawa. Semoga momen ini bisa menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s