Perjalanan menuju sarjana

Tanggal 6 Juli kemarin menjadi hari yang bersejarah selama aku kuliah di UGM. Apa pasal?? pada tanggal itu aku melewati pendadaran (ini yang kedua, karena yang pertama sudah berlangsung ketika aku D3), dan berakhir dengan sangat baik. Jika melihat mundur beberapa waktu lalu, aku hampir pesimis untuk bisa mengikuti pendadaran. Beberapa waktu lalu ketika aku hampir mendaftar pendadaran, ternyata ada satu nilai mata kuliah praktikum yang belum keluar (mana 1 SKS lagi). Dari situ lalu aku mulai berpetualang untuk menelusuri kemana hilangnya nilai mata kuliahku itu. Aku bertemu dengan laboran-laboran yang mengampu mata kuliah di semester lalu, akhirnya aku dapati bahwa ada aku dianggap tidak mengikuti satu praktikum sehingga nilai tidak lengkap dan hasil akhir tidak keluaršŸ˜¦

Praktikum itu diselenggarakan di semester satu, dan diampu di dua laboratorium yaitu lab Sistem Frekuensi Tinggi dan lab Kendali. Nilaiku yang belum keluar ternyata yang di lab Kendali, akhirnya atas saran laboran (pak Nung) saya menghadap kepala lab tersebut. Ketika bertemu dengan kepala lab saya diminta untuk melakukan praktikum dan membuat laporan praktikum yang belum ada nilainya. Langsung saja saya kebut untuk membuat laporan, langsung mencari master-master laporan yang ada (akhirnya dapat juga dari Kevin). Dua jam aku habiskan untuk membuat laporan, pada saat akan dikumpulkan ternyata bapak dosen sudah pulang sehingga aku harus menunggu lagi (padahal sudah H-2).

Di H-1 pendaftaran pendadaran, aku berhasil mendapatkan nilai dari dosen lab Kendali. Dengan setengah senang hati akhirnya aku mencari dosen lab Sistem Frekuensi Tinggi, nasib baik masih berpihak kepadaku walau tidak sepenuhnya. Ketika aku bertemu dengan bapak dosen, ternyata beliau tidak bisa menjamin bahwa nilai akan dikeluarkan karena tidak ada bukti yang autentik. “Dasarnya apa saya harus mengeluarkan nilai anda?? apakah saya disuap? dibelikan mobil, atau apa?? Jika tidak ada dasarnya ya saya tidak bisa mengeluarkan nilai anda apalagi ini sudah lewat satu tahun“.. Boom!!! hancur sudahlah aku ini kalo nilai tidak bisa keluar. Setelah berbincang dengan bapak dosen, aku berinisiatif untuk menemui PPJ bidang akademik. Di depan bapak dosen itu aku berbicara panjang lebar mengenai hasil pertemuanku dengan bapak dosen sebelumnya, jawaban PPJ bidang akademik itu sungguh mengejutkanku, “hmm,kalo mendengar dari penjelasan bapak itu saya kok menangkapnya ‘No’, beliau tidak akan mengeluarkan nilai anda. Saya sudah hafal dengan perilaku beliau, dan terus terang saya kurang cocok dengan beliau sejak lama. Dari kasus-kasus yang sebelumnya biasanya beliau pasti meminta surat dari jurusan untuk mengeluarkan nilai dan saya tidak bisa mengeluarkannya. ” Wah,masalah pribadi kok jadi dicampuradukkan begini. Lalu aku bertanya apakah ada solusi untk masalahku, beliau menjawab “Kalo saya tidak ada solusi, lebih baik anda sekarang bertemu dengan sekretaris jurusan dan menceritakan yang terjadi. Minta solusi dari beliau dan bilang saja saya tidak punya solusi.

Hari H, aku baru bisa menemui sekretaris jurusan. Dari obrolan dengan beliau aku diberi solusi untuk membuat surat pernyataan bahwa aku berjanji bahwa nilai praktikum yang sekarang masih kosong akan segera dikeluarkan paling lambat tanggal 2 Juli, kalo ternyata di tanggal segitu ternyata nilai masih belum keluar saya bersedia mundur pendadaran. Hufhhhh!!! solusi yang cukup berat sebetulnya, tapi akhirnya aku ambil daripada aku ngga bisa daftar pendadaran. Urusan nilai urusan belakang, yang utama itu daftar pendadarannya. Sore-sore sekitar pukul 15.00, aku baru selesai dengan urusan pendaftaran pendadaran, deadlinenya itu jam 16.00 untungnya masih bisa dicapai. Hhhhh!! legaaaaa!! paling tidak satu gerbang sudah dilewati. Ketika sedang istirahat, pak PPJ Akademik lewat dan beliau bertanya kepadaku, “gimana solusinya,mas??” dan aku jawab, “disuruh buat surat penyataan,pak“.

Tanggal 24 Juni 2010, seminggu setelah aku mendaftar pendadaran aku beranikan diri untuk menemui bapak dosen lagi untuk meminta nilai. Beliau masih menjawab dengan jawaban yang sama “Dasarnya apa saya harus mengeluarkan nilai anda?? apakah saya disuap? dibelikan mobil, atau apa?? Jika tidak ada dasarnya ya saya tidak bisa mengeluarkan nilai anda. Saya tidak urusan mau setahun atau dua tahun anda menunggu ya tidak saya keluarkan“. Lalu saya bertanya kepada bapak dosen, “Kalau boleh saya tahu, dasarnya itu berupa apa,pak??“. Dan bapak itu menjawab, “dasarnya ya bisa berupa surat perintah dari jurusan untuk mengeluarkan nilai, atau surat dari anda sendiri untuk meminta nilai“. OOOhhhh.. God.. kenapa ngga bilang dari dulu, pasti akan langsung aku buatkan suratnya. Akhirnya selepasĀ  dari bertemu dengan bapak dosen, aku langsung menemui sekretaris jurusan lagi. Beliau menyarankan agar aku membuat surat permohonan untuk mengeluarkan nilai dan nanti beliau mengetahui. Segera saja aku cari rental dan mengetik suratnya, setelah selesai aku minta tanda tangan dari ibu sekjur dan aku bawa ke dosen lab. Ketika membaca, ternyata ada revisi dari dosen untuk surat permohonan yang aku buat. Alhasil aku turun lagi dari lantai tiga ke lantai dasar untuk mengedit surat permohonanku, beruntung aku dibantu Dewi temen seangkatan dalam mengedit suratnya. Balik lagi aku ke ibu sekjur dengan nafas ngos-ngosan, sampai ibunya berkata “capek kamu ya naik turun tangga??“, hahahaha.. iyalah,Bu. Tapi demi nilai itu ngga seberapa dibandingkan dengan 1,95jt yang harus aku bayar kalo ngga lulus Agustus ini. Aku serahkan lagi suratku ke bapak dosen di labnya, setelah beliau membacanya aku diminta untuk menyerahkannya ke laboran. Laboran berkata bahwa nilai akan dikirimkan langsung ke jurusan. Ahhhh… lega bagian kedua, gerbang kedua sudah berhasil dilewati…

Tanggal 29 Juni 2010, dan 30 Juni 2010 saya tiap pagi ke kampus untuk menanyakan apakah nilai saya sudah dikeluarkan. Dan selalu dijawab dengan pernyataan, “iya, nanti saya usahakan kemarin sudah mau dikeluarkan tetapi bapaknya mau rapat“. Akhirnya aku hanya titip pesan ke laboran, aku ceritakan kalo aku sudah membuat surat penyataan waktu mendaftar pendadaran bahwa nilai praktikum itu akan dikeluarkan sebelum tanggal 2 Juli 2010, kalo ternyata sampai tanggal segitu belum keluar berarti aku ngga bisa ikut pendadaran. Aku minta tolong ke laboran, supaya bapak dosen bisa mengeluarkan sebelum tanggal 2 Juli 2010.

Setelah 30 Juni 2010, aku ngga mengecek nilaiku lagi. Rencanaku hanya mengikuti pendadaran, ngga urusan dengan nilai yang sudah keluar atau belum yang penting ikut pendadaran dulu. Dan setelah pendadaran tanggal 6 Juli kemarin, aku mengecek nilaiku apakah sudah keluar di bagian pengajaran, ternyata sudah keluar dan sudah dikirimkan sebelum tanggal 2 Juli kemarin.. Terima kasih,Tuhan.. Kau kabulkan doaku..

Selepas pendadaran, rasanya terbayar lunas semua perjuanganku kemarin. Pendadaranku dapat nilai A, begitu pula dengan skripsi. Jadi total 6 SKS aku mendapat nilai A, dan bisa wisuda bulan Agustus 2010 ini. Sungguh suatu mukjizat yang sungguh bermakna.

Pesan moral : hati-hati dan selalu telitilah terhadap slip pembayaran, KRS, atau nilai-nilai yang belum keluar apalagi kalo mau pendadaran atau yudisium. Semoga kisah ini bisa memberi inspirasi bagi mahasiswa – mahasiswi yang lain.

2 thoughts on “Perjalanan menuju sarjana

  1. Pingback: Wisuda dan masa depan « Osmond's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s