“iming-iming”, senjata maut dalam rayuan

Tadi ketika sedang makan di sebuah warung, saya mendengar obrolan antara pemilik warung dengan seorang pembeli yang sedang makan mengenai penipuan yang marak terjadi belakangan di kampung. Si ibu pemilik warung bercerita bahwa ada beberapa korban penipuan dengan modus menabung sejumlah uang dan berhadiah langsung satu kardus indomie yang dilakukan oleh seorang marketer bank. Marketer itu dalam rayuannya mengatakan bahwa setiap menabung 200rb/bln maka akan mendapatkan hadiah langsung 1 kardus indomie, jika menabung 1juta/bln maka akan mendapatkan 5 kardus indomie. Cukup menggiurkan bukan?? jika harga satu kardus indomie = 50rb/kardus berarti kita sangat untung, belum lagi jika indomie itu kita jual berarti kita bisa mendapatkan untung yang lebih besar lagi. Indomie sebagai “iming-iming” inilah nampaknya yang menjadi rayuan maut penipu bagi para calon korban.

Padahal jika ingin bermain hitung-hitungan secara riil, bunga bank sekarang itu berkisar antara 0.98% – 1% dalam satu tahun. Lalu apakah mungkin jika kita menabung 200rb/bln kita bisa mendapat bunga sebesar 50rb/bln?? it was impossible. Yang lebih lucu lagi, para korbannya ternyata orang-orang yang berduit (ya iyalah, kalo ngga berduit mana bisa nabung 200rb/bln) dan berpendidikan. Ternyata iming-iming bisa membutakan logika untuk beberapa orang ya??

Kemudian ada satu bahasan lagi yang diceritakan oleh ibu pemilik warung mengenai penipuan berkedok arisan lebaran. Jadi modusnya dengan arisan uang, pesertanya cukup menabung 5rb/hari dan uang baru bisa diambil pada saat akan lebaran beserta bunga patgulipat yang tentunya selangit dan membuat para ibu-ibu kesengsem untuk ikut arisan ini. Kalo yang ini biasanya pelakunya ibu-ibu bergerombol dan ngerumpi sambil berbicara mengenai hal yang ‘wah’ untuk menarik calon korban. Ketika ada orang yang tertarik mendengarkan dan bertanya kepada mereka,,pastilah mereka akan dibujuk rayu habis-habisan untuk mengikuti arisan ini, bahkan kabarnya ada yang menggunakan metode gendam. Fenomena penipuan memang sekarang semakin marak, siapapun bisa menjadi korban dengan iming-iming hadiah yang besar atau uang yang besar. Logika memang bisa menjadi buta karena hal ini, apalagi ketika kita sedang labil, stress, tertekan dalam kondisi ekonomi dan butuh solusi cepat. Hal-hal inilah yang membuat kita mudah sekali tertipu.

Mengapa saya bisa berkata demikian?? karena saya juga pernah mengalaminya. Semasa kuliah dulu, orang tua menghadapi kesulitan keuangan untuk biaya saya kuliah. Alhasil, hal itu membuat saya stress. Saya pada saat itu sedang semester II dan belum bisa mencari uang. Seandainya saya ternyata harus berhenti dari kuliah, bagaimana nasib masa depan saya?? Pada masa-masa seperti itu, tiba-tiba saya mendapat SMS yang isinya bahwa saya memenangkan undian dari XL senilai 60juta!! rasanya seperti mendapat angin surga dan saya tidak sadar bahwa saya sedang digiring ke dalam sebuah penipuan. Ya, saya tertipu dengan memberikan semua uang yang ada dalam ATM saya untuk dikuras oleh sang penipu. Saya baru sadar, ketika saya memberikan SMS itu ke teman saya, dia memeriksa SMS itu dan mengatakan bahwa saya telah dibohongi.

Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi saya, dan melihat fenomena penipuan yang ada sekarang saya hanya menduga-duga bahwa mungkin kondisi calon korban saat itu seperti saya waktu dulu sehingga mereka sangat mudah sekali dirayu dengan iming-iming yang besar yang menggiring mereka ke dalam penipuan tanpa mereka sadari. Oleh karena itu, terimalah apa yang terjadi pada anda saat ini dengan pasrah sambil berusaha untuk melakukan hal yang lebih baik lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s