prelaunch imedia.web.id

Akhirnya setelah menunggu cukup lama beberapa saat, situs IMEDIA.WEB.ID bisa saya onlinekan. Situs ini adalah web portofolio pribadi saya, harapannya bisa mendatangkan klien sekaligus rezeki. Tampilan sudah jadi tetapi memang harus diperbaiki sana-sini khususnya untuk narasi di bagian “Tentang Kami”, masih bingung nulisnya 🙂 Akhir kata, semoga anda tertarik mengunjungi situs tersebut apalagi kalo akhirnya mengontak saya untuk membuatkan website.

terima kasih.

Advertisements

“iming-iming”, senjata maut dalam rayuan

Tadi ketika sedang makan di sebuah warung, saya mendengar obrolan antara pemilik warung dengan seorang pembeli yang sedang makan mengenai penipuan yang marak terjadi belakangan di kampung. Si ibu pemilik warung bercerita bahwa ada beberapa korban penipuan dengan modus menabung sejumlah uang dan berhadiah langsung satu kardus indomie yang dilakukan oleh seorang marketer bank. Marketer itu dalam rayuannya mengatakan bahwa setiap menabung 200rb/bln maka akan mendapatkan hadiah langsung 1 kardus indomie, jika menabung 1juta/bln maka akan mendapatkan 5 kardus indomie. Cukup menggiurkan bukan?? jika harga satu kardus indomie = 50rb/kardus berarti kita sangat untung, belum lagi jika indomie itu kita jual berarti kita bisa mendapatkan untung yang lebih besar lagi. Indomie sebagai “iming-iming” inilah nampaknya yang menjadi rayuan maut penipu bagi para calon korban.

Padahal jika ingin bermain hitung-hitungan secara riil, bunga bank sekarang itu berkisar antara 0.98% – 1% dalam satu tahun. Lalu apakah mungkin jika kita menabung 200rb/bln kita bisa mendapat bunga sebesar 50rb/bln?? it was impossible. Yang lebih lucu lagi, para korbannya ternyata orang-orang yang berduit (ya iyalah, kalo ngga berduit mana bisa nabung 200rb/bln) dan berpendidikan. Ternyata iming-iming bisa membutakan logika untuk beberapa orang ya?? Continue reading

Akhirnya submit ke INAICTA

Setelah akhirnya berpikir dan berdoa, saya beranikan diri untuk mensubmit aplikasi saya ke ajang INAICTA. Ketika kemarin berhasil mengembangkan satu produk, sebetulnya saya berpikir untuk mencoba mengikutsertakannya ke ajang inaicta. Namun, ketika pendaftaran sudah dibuka saya malah jadi ragu, “apakah karya ini memang layak untuk diikutsertakan di ajang seperti inaicta?”. Maklum, terkadang ada mindset bahwa karya yang ‘wah’ itu yang memang pantas untuk ditampilkan.

Setelah beberapa hari maju mundur, aku paksakan untuk mencoba. Ya, hanya mencoba dulu karena terkadang mencoba itu hal yang tersulit. Berbagai macam perhitungan sudah panjang ke belakang, tetapi kalo kita ngga mau mencoba dari satu langkah awal apakah kita akan berjalan?? Hal seperti itulah yang akhirnya membuat diriku maju ke ajang INAICTA ini. Perkara karya saya diterima atau tidak itu urusan belakang, akan tetapi saya belajar satu hal lain dari peristiwa ini untuk percaya pada kemampuan diri sendiri. Percaya bahwa saya bisa melakukannya, percaya bahwa saya mampu melakukannya.