Kala hidup menjadi tua dan zaman sudah berbeda

Apakah pernah kita menjumpai orang tua / sudah sepuh di kantor, di rumah, di sekolah, atau dimanapun tempat kita berada atau bekerja dan mereka terlihat santai atau tidak terlalu produktif seperti kita??? mungkin ada diantara kita yang berkata dalam hati “orang seperti beliau kok masih dipertahankan sih? padahal sudah ngga produktif, kerjaannya cuma bisa nyantai – nyantai saja”. Salahkah jika ada yang berkata demikian?? saya rasa tidak. Kita harus menyadari bahwa zaman atau keadaan selalu berubah sesuai dengan stylenya masing – masing. Era saya menulis sekarang dibandingkan dengan 10 tahun lagi juga mungkin akan berubah. Namun, satu hal yang harus selalu diingat adalah “Jangan sekali – kali melupakan sejarah”.

Beberapa hari yang lalu, kompas.com memberitakan mengenai Soetarti dan Roesmini, janda veteran perang zaman kemerdekaan dulu yang dituntut 2 tahun penjara karena berniat mengajukan kepemilikan rumah dinas yang telah ditempatinya selama 25 tahun.

“Awalnya saya cuma mengajukan kepemilikan rumah ke PTUN (pengadilan tata usaha negara) setelah saya baca PP 40 (Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara). Kan di PP 40 dibilang rumah itu bisa dibeli kalau rumah dinas itu sudah ditempati lebih dari 10 tahun, anak kandung yang sah juga berhak membeli rumah itu. Karena baca PP 40 itu, makanya saya mengajukan hak beli ke PTUN. Tapi ya kok malah begini, saya malah dituntut mau dipenjara dua tahun katanya. Saya kaget. Saya pasrah saja,” kata Soetarti sambil menahan tangisnya.”

Ada juga kisah lain yang dialami oleh pak Icun yang harus mengamen untuk membiayai hidupnya, atau nasib para pejuang kemerdekaan yang terpaksa menjadi pemulung, dan kisah – kisah lainnya. Sedih?? iya. Miris?? itu pasti. Zaman memang sudah berubah, sekarang bukan lagi zaman perang kemerdekaan dimana kita harus mengangkat senjata untuk mempertahankan bumi kita tercinta ini. Sekarang zaman mengisi kemerdekaan (kata pak Guru) dimana kita berbuat untuk memajukan bangsa ini pasca kemerdekaan. Zaman berubah dan selalu menuliskan sejarah. Nampaknya, itu yang terlupakan oleh orang – orang masa kini.

Kembali ke kasus Soetarti dan Roesmini, nampaknya sejarah kedua janda dan (alm) suaminya terlupakan oleh PTUN. Jasa – jasa suami mereka yang berperang dan mendapatkan tanda jasa dari Bung Karno hanya dianggap sebagai hiasan, pengorbanan yang dilakukan oleh kedua nenek itu di waktu yang lampau juga nampaknya tidak menggugah hati mereka. Sebetulnya masih banyak cara yang bisa dilakukan dengan lebih baik, dengan mediasi sebelum langsung menempuh langkah ke meja hijau atau musayawarah untuk mufakat. Sampai kapan kita akan menutup mata?? bukankah hari ini ada karena hari kemarin?? seandainya dahulu tidak ada yang mau berkorban untuk kemerdekaan, apakah sekarang kita akan merdeka? ahh.. semoga saja, kita semua bisa berubah. Mau memahami bahwa keadaan memang sudah berubah dan sejarah yang tertulis di dalamnya.

*Ngomong – ngomong soal sejarah, apakah anda masih hapal sila – sila Pancasila dan bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya??*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s